Filsafat Pendidikan

PENGERTIAN FILSAFAT

Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan

Ciri-ciri berfikir filosfi :

  1. Berfikir dengan menggunakan disiplin berpikir yang tinggi.
  2. Berfikir secara sistematis.
  3. Menyusun suatu skema konsepsi, dan
  4. Menyeluruh.

Empat persoalan yang ingin dipecahkan oleh filsafat ialah :

  1. Apakah sebenarnya hakikat hidup itu? Pertanyaan ini dipelajari oleh Metafisika
  2. Apakah yang dapat saya ketahui? Permasalahan ini dikupas oleh Epistemologi.
  3. Apakah manusia itu? Masalah ini dibahas olen Atropologi Filsafat.

Beberapa ajaran filsafat yang telah mengisi dan tersimpan dalam khasanah ilmu adalah:

  1. Materialisme, yang berpendapat bahwa kenyatan yang sebenarnya adalah alam semesta badaniah. Aliran ini tidak mengakui adanya kenyataan spiritual. Aliran materialisme memiliki dua variasi yaitu materialisme dialektik dan materialisme humanistis.
  2. Idealisme yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau intelegesi. Variasi aliran ini adalah idealisme subjektif dan idealisme objektif.
  3. Realisme. Aliran ini berpendapat bahwa dunia batin/rohani dan dunia materi murupakan hakitat yang asli dan abadi.
  4. Pragmatisme merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak bersikap mutlak (absolut) tidak doktriner tetapi relatif tergantung kepada kemampuan minusia.

Manfaat filsafat dalam kehidupan adalah :

  1. Sebagai dasar dalam bertindak.
  2. Sebagai dasar dalam mengambil keputusan.
  3. Untuk mengurangi salah paham dan konflik.
  4. Untuk bersiap siaga menghadapi situasi dunia yang selalu berubah.

FILSAFAT PENDIDIKAN

Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.

Beberapa aliran filsafat pendidikan;

  1. Filsafat pendidikan progresivisme. yang didukung oleh filsafat pragmatisme.
  2. Filsafat pendidikan esensialisme. yang didukung oleh idealisme dan realisme; dan
  3. Filsafat pendidikan perenialisme yang didukung oleh idealisme.

Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks.  Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

ESENSIALISME DAN PERENIALISME
Esensialisme berpendapat bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela yang mengatur dunia beserta isinya dengan tiada cela pula. Esensialisme didukung oleh idealisme modern yang mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam semesta tempat manusia berada.

Esensialisme juga didukung oleh idealisme subjektif yang berpendapat hahwa alam semesta itu pada hakikatnya adalah jiwa/spirit dan segala sesuatu yang ada ini nyata ada dalam arti spiritual. Realisme berpendapat bahwa kualitas nilai tergantung pada apa dan bagaimana keadaannya, apabila dihayati oleh subjek tertentu, dan selanjutnya tergantung pula pada subjek tersebut.

Menurut idealisme, nilai akan menjadi kenyataan (ada) atau disadari oleh setiap orang apabila orang yang bersangkutan berusaha untuk mengetahui atau menyesuaikan diri dengan sesuatu yang menunjukkan nilai kepadanya dan orang itu mempunyai pengalaman emosional yang berupa pemahaman dan perasaan senang tak senang mengenai nilai tersehut. Menunut realisme, pengetahuan terbentuk berkat bersatunya stimulus dan tanggapan tententu menjadi satu kesatuan. Sedangkan menurut idealisme, pengetahuan timbul karena adanya hubungan antara dunia kecil dengan dunia besar. Esensialisme berpendapat bahwa pendidikan haruslah bertumpu pada nilai- nilai yang telah teruji keteguhan-ketangguhan, dan kekuatannya sepanjang masa.

Perenialisme berpendirian bahwa untuk mengembalikan keadaan kacau balau seperti sekarang ini, jalan yang harus ditempuh adalah kembali kepada prinsip-prinsip umum yang telah teruji. Menurut. perenialisme, kenyataan yang kita hadapi adalah dunia dengan segala isinya. Perenialisme berpandangan hahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sesuatu dinilai indah haruslah dapat dipandang baik.

Beberapa pandangan tokoh perenialisme terhadap pendidikan:

  1. Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal (Plato)
  2. Perkemhangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya ( Aristoteles)
  3. Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. (Thomas Aquinas)

Adapun norma fundamental pendidikan menurut  J. Maritain adalah cinta kebenaran, cinta kebaikan dan keadilan, kesederhanaan dan sifat terbuka terhadap eksistensi serta cinta kerjasama.

Pengertian Filsafat
Secara terminologis filsafat adalah suatu pemikiran yang rasional dalam usaha mendapatkan suatu gambaran yang menyeluruh dalam upaya untuk mendapatkan suatu kebenaran.
Obyek Filsafat
1.Obyek Material
Kajian filsafat yang “ada”, kongkrit-abstrak, maujud-tidak maujud, materil immaterial, phisik-non phisik
2.Obyek formal
Sudut pandang filsafat dalam mengkaji obyek immaterialnya, yaitu:
Sudut Antologi
Merupakan hakekat segala sesuatu membicarakan subtansi, esensi dan realita yang tertuang dalam beberapa aliran yaitu aliran idealisme (bahwa kenyataan adalah ide, segala sesuatu berasal dari ide), materialisme (bahwa kenyataan adalah materi, materialisme merupakan bentuk natural), dan pluralisme (bahwa kenyataan itu banyak, tetapi mempunyai hubungan satu sama lain) Sunoto(2000:22-23).
Selain itu ontology juga membahas tentang masalah “kebendaan” sesuatu yang dapat dilihat dan dibedakan secara empiris (kasat mata) , misalnya tentang keberadaan alam semesta, makhluk hidup,atau tata surya.
.(http://id.wikipedia.org/wiki/filsafat)
Sudut Epistemologi
Menurut Popper epistemology memperjuangkan pengetahuan didasarkan oleh rasionalisme dalam arti luas yaitu belajar dari kesalahan dan terbuka untuk kerja sama mendekati kebenaran. Sehingga rasionalis yang fundamental merupakan hasil dari suatu tindakan kepercayaan pada akal sebagai basis kesatuan manusia (1989:156)
Menurut Kaelan, epistemology adalah cabang filsafat yang membahas tentang hakekat pengetahuan manusia, yaitu tentang sumber, watak, dan kebenaran pengetahuan (2002:28)
Sudut Aksiologi
Aksiologi adalah tema yang membahas tentang masalah nilai atau norma sosial yang berlaku pada kehidupan manusia.
.(http://id.wikipedia.org/wiki/filsafat)

Ciri-ciri Berfilsafat
1.kritis
mempertanyakan segala sesuatu permasalahan yang dihadapi manusia.
2.terdalam
tidak hanya sampai pada fakta-fakta yang khusus dan empiris tetapi sampai pada inti yang terdalam yaitu subtansinya bersifat universal. Kaelan(2002:13)
3.konseptual
tidak hanya pada persepsi belaka tapi sampai pada pengertian yang bersifat konseptual.
4.koheren
berfilsafat yang berusaha menyusun suatu bagan secara runtut.misalnya A B C D E F G, dst
5.rasional
sesuai dengan nalar , hubungan logis antara bagian bagan konseptual.
6.menyeluruh
pemikiran yang tidak hanya berdasarkan pada fakta yaitu tudak sampai pada kesimpulan khusus tetapi sampai pada kisimpulan yang paling umum.
7.universal
sampai pada kesimpulan yang paling umum bagi seluruh umat manusia dimanapun. Kapanpun dan dalam keadaan apapun.
8.spekulatif
pengajuan dugaan-dugaan yang masuk akal (rasional) yang melampaui batas-batas akal
9.sistematis
ada hubungan antar unsure ysng runtut tetapi rasional inlah yang dimaksud sistematis.
10.bebas
berfikir secara bebas untuk sampai pada kakekat yang terdalam dan universal.

Sifat-sifat Dasar Filsafat
1.mempunyai tingkat keumumamn yang tinggi
2.tidak faktawi
3.berkaitan dengan makna
4.berkaitan dengan nilai
5.mencengangkan
6.implikatif

Metode Filsafat
1.Metode Analisis
Menguji,menguraikan, menilai, mendiskripsikan suatu kajian dengan sangat teliti
2.Metode Sintensis
Pernyataan-pernyataan yang berserakan dijadikan satu
3.Metode Analitiko-Sistensis
Gabungan antara metode analisis dan sintesis dengan melakukan perincian terhadap istilah/pernyataan. Kemudian mengumpulkan kembali suatu islitah/ pengetahuan- pengetahuan itu untuk menyusun suatu rumusan umum.
4.metode Dialog Sokrates
dialog antara dua pendirian yang berbeda metode dasar untuk menyelidiki filsafat.

~~~ Pengertian filsafat

TIGA KATEGORI BELAJAR FILSAFAT
• HISTORIS – berdasar kurun waktu tertentu
• SISTEMATIS – spesialisasi cabang-cabang filsafat
• PRINSIP-PRINSIP FILSAFAT – pola yang Digunakan/ mengkritisi.

MENGASAH FILSAFAT
• Diskusi, Mailing List, dsb
• Studi Literatur (Topik & Tokoh)
• Hadap Masalah
• Permenungan
• Menulis
• Mengajar

ARTI SEMANTIK FILSAFAT

Filsafat (mater scientiarum) induk segala ilmu (cat. > dulu),

• Kelahiran Filsafat di Yunani Kuno (di Miletos) 6 SM Kemenangan akal atas mite Thales (Father of Philosophy): Arche Air,

Filsafat (Ina) = Falsafah (Arab) = Philosophy (Ing) = Philosophia (Latin) = Philosophie (Jerman, Belanda, Prancis) Philosophia (Yunani

• Philosophia philein (mencintai) + sophos (bijaksana), philos (teman) + sophia (kebijaksanaan)

• Pythagoras (572-497 SM) “philosophos” (lover of wisdom),

• Filosof bukan orang yang sudah mencapai & memiliki kebenaran, tetapi   selalu mengejar & mencintai kebenaran,

• Berfilsafat berarti berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh,

Filsafat merupakan ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu,

• Dengan filsafat, manusia berusaha menangkap makna, hikmah dari tiap pemikiran, realitas, dan kejadian,

Filsafat mengantarkan manusia untuk lebih jernih dan bijaksana dalam berpikir, bersikap, berkata, dan berbuat.

Terminologi filsafat

Immanual Kant:

filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu: apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika); apakah yang dapat kita kerjakan? (dijawab oleh etika);

sampai di manakah pengharapan kita? (dijawab oleh antropologi)

Filsafat adalah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami atau mendalami secara radikal dan integral serta sistematis hakikat sarwa yang ada, yaitu: hakikat tuhan, hakikat alam semesta, dan hakikat manusia, serta sikap manusia sebagai konsekuensi dari paham tersebut.

Filsafat: kegiatan/hasil pemikiran/permenungan yang menyelidiki sekaligus mendasari segala sesuatu yang berfokus pada makna di balik kenyataan/teori yang ada untuk disusun dalam sebuah sistem pengetahuan rasional….

Permenungan Kefilsafatan: percobaan utk menyusun sebuah sistem pengetahuan rasional yang memadai utk memahami dunia maupun diri sendiri.

Berpikir didefinisikan sebagai kemampuan manusia untuk mencari arti bagi realitas yang muncul di hadapan kesadarannya dalam pengalaman dan pengertian

Berfikir dalam filsafat

Rasional: tahu & paham dengan akal budi

Logis:tahu & paham dengan teknik berpikir yang telah ditetapkan dalam

aturan logika formal, yakni menyusun silogisme-silogisme dengan         tujuan mendapatkan kesimpulan yang tepat dengan menghilangkan setiap kontra diksi.

Dialektik: menetapkan tesis dan antitesis dengan tujuan mendapat sintesis

dengan mengaktifkan kontradiksi.

Intuisi: diutamakan kemampuan inventif, mendapat pengetahuan segera

tanpa terlalu mempedulikan prosedur atau langkah untuk sampai    pada kepada pengetahuan tersebut.

Taksonomi: susun klasifikasi dengan tujuan menyederhanakan kenyataan

dan gejala dalam kategori.

Simbolisme: lihat gejala sbg lambang dg tujuan mengerti apa yang dilamBangkan.

FILSAFAT BISA BERUPA…
(1)Sikap,
(2)Metode berpikir,
(3) Kel. persoalan,
(4) Kel. Teori
(5) Analisa bahasa/Istilah,
(6) Pemahaman yg menyeluruh
atau
Pandangan
Hidup


FILSAFAT-FILSAFAT KHUSUS

1. Filsafat Politik
2. Filsafat Ekonomi
3. Filsafat Kebudayaan
4. Filsafat Pendidikan
5. Filsafat Hukum
6. Filsafat Bahasa
7. Filsafat Seni
8. Filsafat Ilmu
9. …dll

OBJEK FILSAFAT

• Objek Material : Segala sesuatu yang ada

1. Tipikal / sungguh-sungguh ada

2. Dalam kemungkinan

3. Dalam pikiran/konsep

• Objek Formal : Hakikat terdalam / substansi / esensi / intisari Ketr.

O.M. = Sesuatu hal yg dijadikan sasaran pemikiran (Gegenstand), yg  diselidiki, yg dipelajari.

O.F. = Cara memandang, meninjau, seorang peneliti terhadap OM-nya  serta prinsip-prinsip yang digunakan.

OF. = Memberi keutuhan suatu ilmu Membedakannya dengan bidang ilmu  lain,

1 OM = sekian OF

CIRI-CIRI PERSOALAN FILSAFAT
• Bersifat sangat umum (tak bersangkutan dg objek2 (khusus),
• Spekulatif, tak langsung menyangkut fakta (non- faktawi),
• Bersangkutan dg nilai-nilai (kualitas abstrak yg ada pd suatu hal),
• Bersifat kritis, thd konsep dan arti2 yg biasanya diterima bgt saja oleh ilmu
• Besifat sinoptik: mencakup struktur kenyataan scr keseluruhan,
• Bersifat implikatif: jawaban suatu persoalan memunculkan persoalan baru yg saling berhubungan,
• Bersifat teoritik: lebih pada tindak reflektif, non-praktis.

CIRI-CIRI PEMIKIRAN FILSAFAT
• Bersifat radikal (sampai ke akar-akarnya, sampai pd hakikat/esensi),
• Sistematis (adanya hub. fungsional antara unsur2 utk  mencapai tujuan ttt),
• Berpikir ttg hal/proses umum, universal, ide2 besar, bukan ttg peristiwa tunggal,
• Konsisten/runtut (tak terdapat pertentangan di dalamnya) dan koheren (sesuai dg kaidah2 berpikir, logis),
• Secara bebas, tak cenderung bias prasangka, emosi. Kebebasan ini berdisiplin (berpegang pd prinsip2 pemikiran logis serta tanggung jawab pd hati nurani sendiri)
• Berusaha memperolah pandangan komprehensif/menyeluruh.
• Secara konseptual hasil generalisir (perumuman) dan abstraksi dr pengalaman ttg hal2 serta proses2 individual melampaui batas pengalaman hidup sehari2,

SIFAT  FILSAFAT

  • Punya tingkat keumuman yang tinggi
  • Tidak faktawi
  • Berkaitan dengan makna
  • Mencengangkan
  • Implikatif
  • Berkaitan dengan nilai

TUJUAN & MANFAAT FILSAFAT
• Mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, mengajukan  kritik & menilai pengetahuan ini, menemukan hakikatnya & menerbitkan serta mengatur semua itu dlm bentuk yg sistematis.
• Bukan Problem Solving, tetapi memberi kejernihan dalam berpikir tentang  sesuatu, memetakan secara komprehensif & radikal. Dengan filsafat, manusia mampu menghindar dari arogansi “akulah yang benar”, dogmatisme kepercayaan.

Melalui filsafat semua argumen diakui sama potensinya dalam meraih kebenaran.
• Para filosof tampak selalu gelisah, “semakin banyak tahu semakin merasa banyak yang belum diketahui”. Kebenaran, kebahagiaan, keadilan, keindahan, nilai-nilai itu selalu dalam proses & debatable, tak pernah finish tergenggam..! subjektif

Filsafat membicarakan fakta dengan 2 cara:

• mengajukan kritik atas makna yg dikandung fakta “sungguh finalkah kebenaran faktawi bahwa tangan itu materi padat?”

• menarik kesimpulan yg bersifat umum dari fakta “kebenaran bisa ganda: tangan materi padat sekaligus gelombang tak kasat mata”

JENIS-JENIS PERSOALAN FILSAFAT

Keberadaan (being) atau eksistensi (exixtence) cab. Metafisika Pengetahuan (knowledge) atau kebenaran (truth)cab. Epistemologi & Logika Nilai-Nilai (values)cab. Etika (kebaikan) & Estetika (keindahan)

METAFISIKA

Merupakan studi terdalam dari kenyataan/keberadaan Persoalan Ontologis

Makna dan penggolongan “ada”, “eksistensi”. Sifat dasar kenyataan persoalan Kosmologis. Asal mula, perkembangan, struktur/susunan alam

Hubungan kausalitas Permasalahan ruang dan waktu Persoalan Antropologis

• Hubungan tubuh dan jiwa

• Kesadaran, kebebasan

EPISTEMOLOGI

Pelajari asal/sumber, struktur, metode, & validitas pengetahuan

Theory of knowledge, Episteme = pengetahuan + logos = ilmu

Apa yang dapat saya ketahui?

Bagaimana manusia dapat mengetahui sesuatu?

Perbedaan pengetahuan apriori dengan aposteriori?

LOGIKA

Ilmu, kecakapan, alat untuk berpikir secara lurus

Logos = nalar, kata, teori, uraian, ilmu

OM = pemikiran

OF = kelurusan berpikir

Pengertian, putusan, penyimpulan, silogisme

Bagaimana manusia berpikir secara lurus?

Perbedaan logika material dan formal

Penerapan logika induksi dan deduksi

Macam-macam sesat pikir

ETIKA

Filsafat Moral

Ethos = watak; Mores = kebiasaaan; kesusilaan

OM = perilaku secara sadar dan bebas;

OF = baik dan buruk

Syarat baik-buruknya perilaku

Hubungan kebebasan berkehendak dengan perbuatan susila

Kesadaran moral, hati nurani

Pertimbangan moral dan pertimbangan yang bukan moral

ESTETIKA

Filsafat Keindahan

Estetika berasal dari kata Yunani aisthesis = cerapan indera

Arti keindahan Subjektivitas, objektivitas, dan ukuran keindahan

Peranan keindahan dalam kehidupan Hubungan keindahan dengan kebenaran.

ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT

1. Persoalan Keberadaan.

A. Dari segi jumlah

Monisme = satu kenyataan fundamental

Dualisme = dua substansi

Pluralisme = banyak substansi

B. Dari Segi Kualitas

spiritualisme = roh idealisme

Materialisme = materi

C. Dari Segi Proses, Kejadian/Perubahan

Mekanisme = asas-asas mekanik

Teleologi = alam diarahkan ke suatu tujuan

Vitalisme = kehidupan tidak semata-mata fisik-kimiawi

Organisisme = hidup adl struktur dinamis, sistem yg teratur

2. Persoalan Pengetahuan.

A. Sumber

Rasionalisme = akal deduksi

Empirisme = indera

Realisme = objek nyata dalam dirinya sendiri

Kritisisme = Pengamatan indera dan Pengolahan akal.

B. Hakikat

Idealisme = proses mental/psikologis subjektif

Empirisme = pengalaman

Positivisme = pengetahuan faktawi

Pragmatisme = guna pengetahuan

2. Persoalan Etika/Nilai-Nilai

Idealisme etis – ideal

Deontologisme etis – kewajiban

Etika Teleologis = tujuan

Hedonisme = kenikmatan

Utilitarisme = Kebahagiaan sebesar2nya utk man sebanyak2nya.

Hubungan filsafat dengan ilmu

  • Perbedaannya, filsafat dengan metodenya mampu mempertanyakan

keabsahan dan kebenaran ilmu, sedangkan ilmu tidak

mempertanyakan asumsi, kebenaran, metode, dan keabsahannya

sendiri.

  • Ilmu lebih bersifat ekslusif, menyelidiki bidang-bidang yang

terbatas, sedangkan filsafat lebih bersifat inklusif.

Dengan demikian filsafat berusaha mendapatkan pandangan yang

lebih komprehensif tentang fakta-fakta.

  • Ilmu dalam pendekatannya lebih bersifat analitik dan deskriptif:

menganalisis keseluruhan unsur-unsur yang mnjadi bagian

kajiannya, sedangkan filsafat lebih sintetik atau sinoptik menghadapi

objek kajiannya sebagai keseluruhan.

Filsafat berusaha mencari arti fakta-fakta. Jika ilmu condong menghilangkan faktor-faktor subjektivitas dan

menganggap sepi nilai-nilai demi menghasilkan objektivitas, maka filsafat mementingkan personalitas, nilai-nilai dan bidang pengalaman

keduanya tumbuh dari sikap refleksif, ingin tahu, dan dilandasi kecintaan pada

Kebenaran

  • Filsafat itu tidak salah satu ilmu di antara ilmu-ilmu lain. “Filsafat itu pemeriksaan

(‘survey‘) dari ilmu-ilmu, dan tujuan khusus dari filsafat itu menyelaraskan ilmu-ilmu dan melengkapinya.”

  • Filsafat mempunyai dua tugas: menekankan bahwa abstraksi-abstraksi dari ilmu-

ilmu betul-betul hanya bersifat abstraksi (maka tidak merupakan keterangan yang

menyeluruh), dan melengkapi ilmu-ilmu dengan cara ini: membandingkan hasil

ilmu-ilmu dengan pengetahuan intuitif mengenai alam raya, pengetahuan yang

lebih konkret, sambil mendukung pembentukan skema-skema berpikir yang lebih

menyeluruh.

  • Hubungan ilmu dengan filsafat bersifat interaksi. Perkembangan-perkembangan

ilmiah teoritis selalu berkaitan dengan pemikiran filsafati, dan suatu perubahan

besar dalam hasil dan metode ilmu tercermin dalam filsafat. Ilmu merupakan

masalah yang hidup bagi filsafat. Ilmu membekali filsafat dengan bahan-bahan

deskriptif dan faktual yang sangat perlu untuk membangun filsafat. Tiap filsafat

dari suatu periode condong merefleksikan pandangan ilmiah di periode itu. Ilmu

melakukan cek terhadap filsafat dengan membantu menghilangkan ide-ide yang

tidak sesuai dengan pengetahuan ilmiah. Sedangkan filsafat memberikan kritik

tentang asumsi dan postulat ilmu serta analisa kritik tentang istilah-istilah yang

dipakai

  • Filsafat dapat memperlancar integrasi antara ilmu-ilmu yang dibutuhkan.
    Searah dengan spesialisasi ilmu maka banyak ilmuwan yang hanya
    menguasai suatu wilayah sempit dan hampir tidak tahu menahu apa yang
    dikerjakan di wilayah ilmu lainnya. Filsafat bertugas untuk tetap
    memperhatikan keseluruhan dan tidak berhenti pada detil-detilnya.
    Filsafat adalah meta ilmu, refleksinya mendorong peninjauan kembali ide-
    ide dan interpretasi baik dari ilmu maupun bidang-bidang lain.
    Filsafat pada masa-masa awal kelahirannya dianggap sebagai mater
    scientiarum
    , induknya ilmu. Seiring dengan spesialisasi ilmu sampai dengan
    akhir-akhir ini, kekhususan setiap ilmu menimbulkan batas-batas yang tegas
    antara masing-masing ilmu. Tidak ada bidang pengetahuan lain yang
    menjadi penghubung ilmu-ilmu yang terpisah itu. Di sinilah filsafat
    berusaha mengatasi spesialisasi dengan mengintegrasikan masing-masing
    ilmu dan/dengan merumuskan pandangan hidup yang didasarkan atas
    pengalaman kemanusiaan yang luas.

HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN SENI
• Seni dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan manusia yang menjelajahi dan menciptakan realitas baru serta menyajikannya secara kiasan. Manusia membutuhkan seni, sebagaimana manusia membutuhkan filsafat dan ilmu,
karena melalui seni manusia dapat mengekspresikan dan menanamkan apresiasi dalam pengalamannya.
• Seni tidak bertujuan untuk mencari pengetahuan dan pemahaman sebagaimana filsafat, juga bukan seperti ilmu yang bertujuan mengadakan deskripsi, prediksi,eksperimentasi, dan kontrol, tetapi seni bertujuan untuk
mewujudkan kreativitas, kesempurnaan, bentuk, keindahan, komunikasi, dan ekspresi.
merupakan sarana manusia untuk “tahu”, dalam arti tahu tentang dirinya sendiri, sesama,alam, maupun Sang Penciptanya untuk kemudian tahu bagaimana bersikap, berbuat, dan bertanggung jawab dalam aneka macam kompleksitas kehidupannya

HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN AGAMA
• Filsafat bukan agama, meskipun banyak juga manusia dari berbagai
belahan dunia yang menjadikan filsafat (dalam arti pandangan hidup)
sebagai agama, misalnya filsafat konfusianisme.
• Tujuan agama lebih dari sekedar pengetahuan, yakni untuk mencari
keharmonisan, keselamatan, dan perdamaian. Agama yang matang
dan kokoh akan mencantumkan latar belakang filsafat dan sekaligus
menimba dan menyaring informasi dari ilmu. Ini diperlukan agama
dalam rangka memberi jawaban komprehensif, integral, dan
berwibawa (dalam arti tidak asal menjawab) terhadap berbagai
pertanyaan dan gugatan.
• Kasus-kasus yang membawa-bawa agama seperti terorisme, tentu
bisa dirunut pada latar belakang filsafat dari agama tersebut, misalnya
bagaimana pandangan agama tersebut terhadap kekerasan, keadilan,
dan kemanusiaan.
• Seperti kata Einstein, tanpa ilmu (dan filsafat), agama akan lumpuh

CIRI SAHNYA ILMU
Memiliki objek atau pokok soal, yakni sasaran dan titik pusat perhatian tertentu.
Bermetode, yakni cara atau sistem dalam ilmu untuk memperoleh kebenaran agar rasional, terarah dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah
Bersistem: mencakup seluruh objek serta aspek- aspeknya sehingga saling berkaitan satu sama lain,
Universal
: keputusan kebenarannya berorientasi sifat keumuman, bukan tunggal,
Verifikatif
: dapat dilacak kebenarannya,
Rasional/objektif
: dapat dipahami dengan akal.

• Ternyata perkembangan ilmu tidak semata-mata mengandalkan rasio atau empiris saja, tetapi merupakan suatu petualangan yang tak habis-habisnya
(an unending adventure)
, yang selalu hadir di ambang ketakpastian (uncertainty)
dan menuntut tindakan keputusan (act of judgment).

• Diperlukan penerobosan (penetration) antara kehidupan berpikir (rasio),
berbuat (pengalaman = empiri), dan intuisi (sebagai pemahaman tertinggi
terhadap
masalah itu sebagai keseluruhan), suatu interpenetrasi yang
interaktif yang melahirkan ilham untuk mewujudkan tindakan kreatif.
• Oleh karena itu, ilmu tidak semata-mata disusun secara logis rasional
(menekankan fungsi akal) atau bersifat empiris (menekankan fungsi
pengalaman/indera) atau rasionalistis kritis (dalam arti Kantian), ataupun
konstruktivistis (penekanan keseluruhan konteks, rasional maupun
empiris), tetapi merupakan sistem terbuka yang dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan kehidupan manusiawi dengan seluruh aspek pembangunan
masyarakat spiritual maupun material ataupun dalam kaitan dengan
konteks ilmu itu sendiri. Tanggung jawab etis kemudian menjadi tuntutannya (dalam hal inilah value bond-nya ilmu dalam konteks aksiologi).
• Bertitik tolak dari hal ini, filsafat ilmu bisa dirumuskan sebagai ilmu yang
berbicara tentang dinamika ilmu pengetahuan itu sendiri, dan bisa disebut
sebagai meta-science yang berarti ilmunya ilmu lainnya
• Sering disebutkan, kesepakatan antara para ilmuwan dan filsuf dengan tegas menunjuk “empiris” sebagai ciri ilmu, baik menyangkut metode, observasi, ataupun analisis yang digunakan ilmu‐ilmu sosial
maupun ilmu‐ilmu alam.

Definisi filsafat

  1. Plato (427SM – 347SM) Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli).
  2. Aristoteles (384 SM – 322SM ) Filsafat adalah ilmua pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).
  3. Marcus Tullius Cicero (106 SM – 43SM) Filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang mahaagung dan usaha-usaha untuk mencapainya.
  4. Al-Farabi (meninggal 950M) Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya
  5. Immanuel Kant (1724 -1804), : Filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu:

” apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika)

” apakah yang dapat kita kerjakan? (dijawab oleh etika)

” sampai di manakah pengharapan kita? (dijawab oleh antropologi)

Prof. Dr. Fuad Hasan, guru besar psikologi UI Filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal, artinya mulai dari radiksnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang hendak dimasalahkan. Dan dengan jalan penjajakan yang radikal itu filsafat berusaha untuk sampai kepadakesimpulan-kesimpulan yang universal.

(UU RI No 20 Tahun 2003) dari defe-nisi pendidikan tersebut, dengan jelas terungkap bahwa pendidikan indonesia adalah pendidikan yang usaha sadar dan terencana, untuk mengembangkan potensi individu demi tercapainya kesejahteraan pri-badi, masyarakat dan negara.

B. Objek filsafat ilmu
1. Objek Material Filsafat Ilmu
Objek material adalah objek yang di jadikan sasaran menyelidiki oleh suatu ilmu, atau objek yang yang di pelajari oleh ilmu itu. Objek material filsafat illmu adalah pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah di susun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga dapat di pertanggung jawabkan kebenarannya secara umum.
2. Objek Formal Filsafat Ilmu
Objek formal adalah sudut pandang dari mana sang subjek menelaah objek materialnya. Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat (esensi) ilmu pengetahuan artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan, seperti apa hakikat ilmu pengetahuan, bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah dan apa fingsi ilmu itu bagi manusia. Problem inilah yang di bicarakan dalam landasan pengembangan ilmu pengetahuan yakni landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis.

A.    LANDASAN PENDIDIKAN

1.     Landasan Filososfis

a.   Pengertian Landasan Filosofis

Landasan filosofis bersumber dari pandangan-pandanagan dalam filsafat pendidikan, meyangkut keyakianan terhadap hakekat manusia, keyakinan tentang sumber nilai, hakekat pengetahuan, dan tentang kehidupan yang lebih baik dijalankan. Aliran filsafat yang kita kenal sampai saat ini adalah Idealisme, Realisme, Perenialisme, Esensialisme, Pragmatisme dan Progresivisme dan Ekstensialisme

1.     ­Esensialisme

Esensialisme adalah mashab pendidikan yang mengutamakan pelajaran teoretik (liberal arts) atau bahan ajar esensial.

2.     Perenialisme

Perensialisme adalah aliran pendidikan yang megutamakan bahan ajaran konstan (perenial) yakni kebenaran, keindahan, cinta kepada kebaikan universal.

3.     Pragmatisme dan Progresifme

Prakmatisme adalah aliran filsafat yang memandang segala sesuatu dari nilai kegunaan praktis, di bidang pendidikan, aliran ini melahirkan progresivisme yang menentang pendidikan tradisional.

4.     Rekonstruksionisme

Rekonstruksionisme adalah mazhab filsafat pendidikan yang menempatkan sekolah/lembaga pendidikan sebagai pelopor perubahan masyarakat.

b.   Pancasila sebagai Landasan Filosofis Sistem Pendidkan Nasional

Pasal 2 UU RI No.2 Tahun 1989 menetapkan bahwa pendidikan nasional berdasarkan pancasila dan UUD 1945. sedangkan Ketetapan MPR RI No. II/MPR/1978 tentang P4 menegaskan pula bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia, dan dasar negara Indonesia.

2.     Landasan Sosiolagis

a.   Pengertian Landasan Sosiologis

Dasar sosiolagis berkenaan dengan perkembangan, kebutuhan dan karakteristik masayarakat.Sosiologi pendidikan merupakan analisi ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiolagi  pendidikan meliputi empat bidang:

1.     Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain.

2.     hubunan kemanusiaan.

3.     Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya.

4.     Sekolah dalam komunitas,yang mempelajari pola interaksi antara    sekolah dengan kelompok sosial lain di dalam komunitasnya.

b.   Masyarakat indonesia sebagai Landasan Sosiologis Sistem Pendidikan Nasional

Perkembangan masyarakat Indonesia dari masa ke masa telah mempengaruhi sistem pendidikan nasional. Hal tersebut sangatlah wajar, mengingat kebutuhan akan pendidikan semakin meningkat dan komplek. Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk menyesuaikan pendidikan dengan perkembangan masyarakat terutama dalam hal menumbuhkembangkan KeBhineka tunggal Ika-an, baik melalui kegiatan jalur sekolah (umpamanya dengan pelajaran PPKn, Sejarah Perjuangan Bangsa, dan muatan lokal), maupun jalur pendidikan luar sekolah (penataran P4, pemasyarakatan P4 nonpenataran)

3.     Landasan Kultural

a.   Pengertian Landasan Kultural

Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbal balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan/ dikembangkan dengan jalur mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi penerus dengan jalan pendidikan, baiksecara formal maupun informal.

Anggota masyarakat berusaha melakukan perubahan-perubahan yang sesuai denga perkembangan zaman sehingga terbentuklah pola tingkah laku, nlai-nilai, dan norma-norma baru sesuai dengan tuntutan masyarakat. Usaha-usaha menuju pola-pola ini disebut transformasi kebudayaan. Lembaga sosial yang lazim digunakan sebagai alat transmisi dan transformasi kebudayaan adalah lembaga pendidikan, utamanya sekolah dan keluarga

b.   Kebudayaan sebagai Landasan Sistem Pendidkan Nasional

Pelestarian dan pengembangan kekayaan yang unik di setiap daerah itu melalui upaya pendidikan sebagai wujud dari kebineka tunggal ikaan masyarakat dan bangsa Indonesia. Hal ini harsulah dilaksanakan dalam kerangka pemantapan kesatuan dan persatuan bangsa dan negara indonesia sebagai sisi ketunggal-ikaan

4.     Landasan Psikologis

a.   Pengertian Landasan Filosofis

Dasar psikologis berkaitan dengan prinsip-prinsip belajar dan perkembangan anak. Pemahaman etrhadap peserta didik, utamanya yang berkaitan dengan aspek kejiwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajian dan penemuan psikologis sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan.

Sebagai implikasinya pendidik tidak mungkin memperlakukan sama kepada setiap peserta didik, sekalipun mereka memiliki kesamaan. Penyusunan kurikulum perlu berhati-hati dalam menentukan jenjang pengalaman belajar yang akan dijadikan garis-garis besar pengajaran serta tingkat kerincian bahan belajar yang digariskan.

b.   Perkembangan Peserta Didik sebagai Landasan Psikologis

Pemahaman tumbuh kembang manusia sangat penting sebagai bekal dasar untuk memahami peserta didik dan menemukan keputusan dan atau tindakan yang tepat dalam membantu proses tumbuh kembang itu secara efektif dan efisien.

5.     Landasan Ilmiah dan Teknologis

a.   Pengertian Landasan IPTEK

Kebutuhan pendidikan yang mendesak cenderung memaksa tenaga pendidik untuk mengadopsinya teknologi dari berbagai bidang teknologi ke  dalam penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan yang berkaitan erat dengan proses penyaluran pengetahuan haruslah mendapat perhatian yang proporsional dalam bahan ajaran, dengan demikian pendidikan bukan hanya berperan dalam pewarisan IPTEK tetapi juga ikut menyiapkan manusia yang sadar IPTEK dan calon pakar IPTEK itu. Selanjutnya pendidikan akan dapat mewujudkan fungsinya dalam pelestarian dan pengembangan iptek tersebut.

b.   Perkembangan IPTEK sebagai Landasan Ilmiah

Iptek merupakan salah satu hasil pemikiran manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, yang dimualai pada permulaan kehidupan manusia. Lembaga pendidikan, utamanya pendidikan jalur sekolah harus mampu mengakomodasi dan mengantisipasi perkembangan iptek. Bahan ajar sejogjanya hasil perkembangan iptek mutahir, baik yang berkaitan dengan hasil perolehan informasi maupun cara memproleh informasi itu dan manfaatnya bagi masyarakat

B.    ASAS-ASAS POKOK PENDIDIKAN

Asas pendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Khusu s di Indonesia, terdapat beberapa asas pendidikan yang memberi arah dalam merancang dan melaksanakan pendidikan itu. Diantara  asas tersebut adalah Asas Tut Wuri Handayani, Asas Belajar Sepanjang Hayat, dan asas Kemandirian dalam belajar.

1.     Asas Tut Wuri Handayani

Sebagai asas pertama, tut wuri handayani merupakan inti dari sitem Among perguruan. Asas yang dikumandangkan oleh Ki Hajar Dwantara ini kemudian dikembangkan oleh Drs. R.M.P. Sostrokartono dengan menambahkan dua semboyan lagi, yaitu Ing Ngarso Sung Sung Tulodo dan Ing Madyo Mangun Karso.

Kini ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas yaitu:

Ø      Ing Ngarso Sung Tulodo ( jika di depan memberi contoh)

Ø      Ing Madyo Mangun Karso (jika ditengah-tengah memberi dukungan dan semangat)

Ø      Tut Wuri Handayani (jika di belakang memberi dorongan)

2.     Asas Belajar Sepanjang Hayat

Asas belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang dari sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup (life long education). Kurikulum yang dapat meracang dan diimplementasikan dengan memperhatikan dua dimensi yaitu dimensi vertikal dan horisontal.

Ø      Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi keterkaitan dan kesinambungan antar tingkatan persekolahan dan keterkaitan dengan kehidupan peserta didik di masa depan.

Ø      Dimensi horisontal dari kurikulum sekolah yaitu katerkaitan antara pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman di luar sekolah.

3.     Asas Kemandirian dalam Belajar

Dalam kegiatan belajar mengajar, sedini mungkin dikembangkan kemandirian dalam belajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selalu suiap untuk ulur tangan bila diperlukan.

Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalamperan utama sebagai fasilitator dan motifator. Salah satu pendekatan yang memberikan peluang dalam melatih kemandirian belajar peserta didik adalah sitem CBSA (Cara Belajar Siwa Aktif).

Peranan filsafat pendidikan ditinjau dari tiga lapangan filsafat, yaitu:
1. Metafisika
Metafisika merupakan bagian filsafat yang mempelajari masalah hakekat: hakekat dunia, hakekat manusia, termasuk di dalamnya hakekat anak. Metafisika secara praktis akan menjadi persoalan utama dalam pendidikan. Karena anak bergaul dengan dunia sekitarnya, maka ia memiliki dorongan yang kuat untuk memahami tentang segala sesuatu yang ada. Memahami filsafat ini diperlukan secara implisit untuk mengetahui tujuan pendidikan.Seorang guru seharusnya tidak hanya tahu tentang hakekat dunia dimana ia tinggal, tetapi harus tahu hakekat manusia, khususnya hakekat anak. Hakekat manusia:
Manusia adalahü makhluk jasmani rohani, Manusia adalah makhluk individual sosialü, Manusia adalah makhluk yang bebas, Manusia adalah makhluk menyejarah.

Peranan filsafat pendidikan ditinjau dari tiga lapangan filsafat, yaitu:
1. Metafisika
Metafisika merupakan bagian filsafat yang mempelajari masalah hakekat: hakekat dunia, hakekat manusia, termasuk di dalamnya hakekat anak. Metafisika secara praktis akan menjadi persoalan utama dalam pendidikan. Karena anak bergaul dengan dunia sekitarnya, maka ia memiliki dorongan yang kuat untuk memahami tentang segala sesuatu yang ada. Memahami filsafat ini diperlukan secara implisit untuk mengetahui tujuan pendidikan.Seorang guru seharusnya tidak hanya tahu tentang hakekat dunia dimana ia tinggal, tetapi harus tahu hakekat manusia, khususnya hakekat anak. Hakekat manusia:
Manusia adalahü makhluk jasmani rohani, Manusia adalah makhluk individual sosialü, Manusia adalah makhluk yang bebas, Manusia adalah makhluk menyejarah.

2. Epistemologi
Kumpulan pertanyaan berikut yang berhubungan dengan para guru adalah epistemologi. Pengetahuan apa yang benar? Bagaimana mengetahui itu berlangsung? Bagaimana kita mengetahui bahwa kita mengetahui? Bagaimana kita memutuskan antara dua pandangan pengetahuan yang berlawanan? Apakah kebenaran itu konstan, ataukah kebenaran itu berubah dari situasi satu kesituasi lainnya? Dasn akhirnya pengetahuan apakah yang paling berharga?
Bagaimana menjawab pertanyaan epistemologis tersebut, itu akan memiliki implikasi signifikan untuk pendekatan kurikulum dan pengajaran. Pertama guru harus menentukan apa yang benar mengenai muatan yang diajarkan, kemudian guru harus menentukan alat yang paling tepat untuk membawa muatan ini bagi siswa. Meskipun ada banyak cara mengetahui, setidaknya ada lima cara mengetahui sesuai dengan minat / kepentingan masing-masing guru, yaitu mengetahui berdasarkan otoritas, wahyu tuhan, empirisme, nalar, dan intuisi.
Guru tidak hanya mengetahui bagaimana siswa memperoleh pengetahuan, melainkan juga bagaimana siswa belajar. Dengan demikian epistemologi memberikan sumbangan bagi teori pendidikan dalam menentukan kurikulum. Pengetahuan apa yang harus diberikan kepada anak dan bagaimana cara untuk memperoleh pengetahuan tersebut, begitu juga bagaimana cara menyampaikan pengetahuan tersebut.

3. Aksiologi
Cabang filsafat yang membahas nilai baik dan nilai buruk, indah dan tidak indah, erat kaitannya dengan pendidikan, karena dunia nilai akan selalu dipertimbangkan atau akan menjadi dasar pertimbangan dalam menentukan tujuan pendidikan. Langsung atau tidak langsung, nilai akan menentukan perbuatan pendidikan. Nilai merupakan hubungan sosial.
Pertanyaan-pertanyaan aksiologis yang harus dijawab guru adalah: Nilai-nilai apa yang dikenalkan guru kepada siswa untuk diadopsi? Nilai-nilai apa yang mengangkat manusia pada ekspresi kemanusiaan yang tertinggi? Nilai-nilai apa yang bener-benar dipegang orang yang benar-benar terdidik?
Pada intinya aksiologi menyoroti fakta bahwa guru memiliki suatu minat tidak hanya pada kuantitas pengetahuan yang diperoleh siswa melainkan juga dalam kualitas kehidupan yang dimungkinkan karena pengetahuan. Pengetahuan yang luas tidak dapat memberi keuntungan pada individu jika ia tidak

4 thoughts on “Filsafat Pendidikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s