PENDEKATAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

PENDEKATAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan fakta dalam kehidupan siswa. CTL lebih menekankan pada rencana kegiatan kelas yang dirancang guru. Rencana kegiatan tersebut berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajari. Pembelajaran kontekstual lebih mementingkan strategi belajar bukan hasil belajar. Pembelajaran kontekstual mengharapkan siswa untuk memperoleh materi pelajaran meskipun sedikit tetapi mendalam bukan banyak tetapi dangkal.
Pembelajaran kontekstual mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Komponen dalam pembelajaran kontekstual adalah konstruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian yang sebenarnya. Apabila sebuah kelas menerapkan ketujuh komponen di atas dalam proses pembelajaran, maka kelas tersebut telah menggunakan model pembelajaran kontekstual.
Penggunaan CTL dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di kelas dapat menarik perhatian siswa karena CTL memiliki berbagai komponen sehingga
pembelajaran tidak membosankan. Menurut Suyanto (2003:1) CTL dapat membuat siswa terlibat dalam kegiatan yang bermakna yang diharapkan dapat membantu mereka mampu menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kelas dengan konteks situasi kehidupan nyata. Pembelajaran dengan peran serta lingkungan secara alami akan memantapkan pengetahuan yang dimiliki siswa. Belajar akan lebih bermanfaat dan bermakna jika seorang siswa mengalami apa yang dipelajarinya bukan hanya sekedar mengetahui. Belajar tidak hanya sekedar menghafal tetapi siswa harus dapat mengonstruksikan pengetahuan yang dimiliki dengan cara mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki pada realita kehidupan sehari-hari. Dengan demikian pengembangan CTL dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis baik dari segi berbahasa maupun bersastra akan membuat pembelajaran lebih bervariasi.
Dalam proses belajar di kelas, siswa dibiasakan untuk saling membantu dan berbagi pengalaman dalam kelompok masyarakat belajar (learning community). Dalam proses belajar, guru perlu membiasakan anak untuk mengalami proses belajar dengan melakukan penemuan dengan melakukan pengamatan, bertanya, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data analisis data, dan menarik kesimpulan (inquiry). Seluruh proses dan hasil belajar diukur dengan berbagai cara dan diamati dengan indikator yang jelas (outhentic assessment). Setiap selesai pembelajaran guru wajib melakukan refleksi terhadap proses dan hasil pembelajaran (refleksion).
Berdasarkan paparan di atas CTL merupakan salah satu model pembelajaran yang efektif diterapkan pada proses pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di
kelas. Oleh karena itu, topik penerapan CTL dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia perlu dipaparkan lebih lanjut.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
(1) Apa pengertian pendekatan kontekstual (CTL)?
(2) Apa karakteristik Contextual Teaching and Learning?
(3) Apa saja komponen Contextual Teaching and Learning?
(4) Bagaimana penerapan Contextual Teaching and Learning dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
(1) Menjelaskan pengertian pendekatan kontekstual (CTL).
(2) Menjelaskan karakteristik Contextual Teaching and Learning.
(3) Menjelaskan komponen-komponen Contextual Teaching and Learning.
(4) Menjelaskan penerapan Contextual Teaching and Learning dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.
BAB II
PENDEKATAN KONTEKSTUAL
(CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)
Pendekatan kontekstual merupakan suatu pendekatan yang membantu guru mengaitkan isi materi pelajaran dengan keadaan dunia nyata. Pembelajaran ini memotivasi siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kelas, dan penerapannya dalam kehidupan siswa sebagai anggota keluarga, serta sebagai anggota masyarakat.
A. Pengertian Pendekatan Kontekstual (CTL)
CTL adalah salah satu strategi pembelajaran yang dikembangkan oleh The Washington State Consortium for Contextual Teaching and Learning, yang melibatkan 11 perguruan tinggi, 20 sekolah, dan lembaga-lembaga yang bergerak di bidang pendidikan di Amerika Serikat. Salah satu kegiatan dari konsorsium tersebut adalah melatih dan memberi kesempatan kepada para guru dari enam propinsi di Indonesia untuk mempelajari pendekatan kontekstual di Amerika Serikat (Priyatni, 2002:1).
Pendekatan kontekstual (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh
komponen utama pembelajaran afektif, yaitu konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian yang sebenarnya (Nurhadi, 2002:5).
Johnson (dalam Nurhadi, 2002:12) merumuskan pengertian CTL sebagai suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan budayanya. Untuk mencapai tujuan tersebut, sistem CTL, akan menuntun siswa ke semua komponen utama CTL, yaitu melakukan hubungan yang bermakna, mengerjakan pekerjaan yang berarti, mengatur cara belajar sendiri, bekerja sama, berpikir kritis dan kreatif, memelihara atau merawat pribadi siswa, mencapai standar yang tinggi, dan menggunakan penilaian sebenarnya.
Pendekatan CTL menurut Suyanto (2003:2) merupakan suatu pendekatan yang memungkinkan siswa untuk menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh dalam berbagai macam mata pelajaran baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar pada saat guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mengonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sehari-hari.
B. Karakteristik Contextual Teaching and Learning
Menurut Johnson (dalam Nurhadi, 2002:14) terdapat delapan utama yang menjadi karakteristik pembelajaran kontekstual, yaitu (1) melakukan hubungan yang bermakna, (2) mengerjakan pekerjaan yang berarti, (3) mengatur cara belajar sendiri, (4) bekerja sama, (5) berpikir kritis dan kreatif, (6) mengasuh atau memelihara pribadi siswa, (7) mencapai standar yang tinggi, dan (8) menggunakan penilaian sebenarnya.
Nurhadi (2003:20) menyebutkan dalam kontekstual mempunyai sebelas karakteristik antara lain yaitu (1) kerja sama, (2) saling menunjang, (3) menyenangkan, (4) belajar dengan bergairah, (5) pembelajaran terintegrasi, (6) menggunakan berbagai sumber, (7) siswa aktif, (8) sharing dengan teman, (9) siswa aktif, guru kreatif, (10) dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor, dan lain-lain, serta (11) laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan lain-lain.
Priyatni (2002:2) menyatakan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan dengan CTL memiliki karakteristik sebagai berikut.
(1) Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks yang autentik, artinya pembelajaran diarahkan agar siswa memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah dalam
konteks nyata atau pembelajaran diupayakan dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting).
(2) Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful learning).
(3) Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa melalui proses mengalami (learning by doing).
(4) Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi (learning in a group).
(5) Kebersamaan, kerja sama saling memahami dengan yang lain secara mendalam merupakan aspek penting untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan (learning to knot each other deeply).
(6) Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, kreatif, dan mementingkan kerja sama (learning to ask, to inquiry, to York together).
(7) Pembelajaran dilaksanakan dengan cara yang menyenangkan (learning as an enjoy activity).
C. Komponen Contextual Teaching and Learning
Pembelajaran kontekstual (CTL) memiliki tujuh komponen utama, yaitu sebagai berikut.
(1) Konstruktivisme (construktivism)
Konstruktivisme merupakan landasan filosofi pendekatan CTL yang menyatakan bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit dan tidak sekonyong-
konyong). Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mengingat pengetahuan. Konsep konstruktivisme menuntut siswa untuk dapat membangun arti dari pengalaman baru pada pengetahuan tertentu.
Priyatni (2002:2) menyebutkan bahwa pembelajaran yang berciri konstruktivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif, dan produktif dari pengalaman atau pengetahuan terdahulu dan dari pengalaman belajar yang bermakna. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Siswa harus mengonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.
(2) Inkuiri (inquiry)
Menemukan merupakan strategi belajar dari kegiatan pembelajaran kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apa pun materinya.
Inkuiri adalah siklus proses dalam membangun pengetahuan yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Inkuiri diawali dengan pengamatan untuk memahami konsep atau fenomena dan dilanjutkan dengan melaksanakan kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan. Priyatni (2002:2) menjelaskan bahwa inkiri dimulai dari kegiatan mengamati, bertanya, mengajukan dugaan sementara (hipotesis), mengumpulkan data, dan merumuskan teori sebagai kegiatan terakhir.
(3) Bertanya (questioning)
Bertanya merupakan keahlian dasar yang dikembangkan dalam pembelajaran CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inkuiri, yaitu menggali informasi, mengonfirmasikan apa yang sudah diketahuinya, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui.
Konsep ini berhubungan dengan kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan sebagai wujud pengetahuan yang dimiliki. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
(4) Masyarakat belajar (learning commnunity)
Masyarakat belajar merupakan penciptaan lingkungan belajar dalam pembelajaran kontekstual (CTL). Masyarakat belajar adalah kelompok belajar yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Aplikasinya dapat berwujud dalam pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, atau belajar dengan teman-teman lainnya. Belajar bersama dengan orang lain lebih baik dibandingkan dengan belajar sendiri.
Konsep masyarakat belajar menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari berbagi pengalaman antarteman, antarkelompok, dan antara yang tahu ke yang tidak tahu. Pembelajaran kontekstual dilaksanakan dalam kelompok-kelompok belajar yang anggotanya heterogen sehingga sehingga akan terjadi kerja sama antara siswa yang pandai dengan siswa yang lambat. Kegiatan masyarakat belajar difokuskan pada aktivitas berbicara
dan berbagai pengalaman dengan orang lain. Priyatni (2002:3) menyebutkan bahwa aspek kerja sama dengan orang lain untuk menciptakan pembelajaran yang lebih baik adalah tujuan pembelajaran yang menerapkan learning community.
(5) Pemodelan (modelling)
Model merupakan acuan pencapaian kompetensi dalam pembelajaran kontekstual. Konsep ini berhubungan dengan kegiatan mendemonstrasikan suatu materi pelajaran agar siswa dapat mencontoh atau agar dapat ditiru, belajar atau melakukan dengan model yang diberikan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model, siswa juga dapat berperan aktif dalam mencoba menghasilkan model.
Priyatni (2002:3) menyatakan bahwa kegiatan pemberian model bertujuan untuk membahasakan gagasan yang kita pikirkan, mendemonstrasikan bagaimana kita menginginkan para siswa untuk belajar, atau melakukan apa yang kita inginkan agar siswa melakukannya.
(6) Refleksi (reflction)
Refleksi merupakan langkah akhir dari belajar dalam pembelajaran kontruktivisme. Konsep ini merupakan proses berpikir tentang apa yang telah dipelajari. Proses telaah terhadap kejadian, aktivitas, dan pengalaman yang dihubungkan dengan apa yang telah dipelajari siswa, dan memotivasi munculnya ide-ide baru. Refleksi berarti melihat kembali suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman dengan tujuan untuk mengidentifikasi hal yang telah diketahui, dan hal yang belum diketahui. Realisasinya adalah pertanyaan langsung tentang apa-apa yang
diperolehnya hari itu, catatan di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu.
Priyatni (2002:3) menjelaskan bahwa kegiatan refleksi adalah kegiatan memikirkan apa yang telah kita pelajari, menelaah, dan merespons semua kejadian, aktivitas, atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran, dan memberikan masukan-masukan perbaikan jika diperlukan.
(7) Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)
Penilaian yang sebenarnya merupakan proses pengumpulan berbagai data dan informasi yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran kontekstual, penilaian ditekankan pada proses pembelajarannya, maka data dan informasi yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajarannya.
Penilaian yang sebenarnya merupakan tindakan menilai kompetensi siswa secara nyata dengan menggunakan berbagai alat dan berbagai teknik tes, portofolio, lembar observasi, unjuk kerja, dan sebagainya. Prosedur penilaian yang menunjukkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa secara nyata. Penilaian yang sebenarnya ditekankan pada pembelajaran yang seharusnya membantu siswa agara mamapu mempelajari sesuatu, bukan hanya memperoleh informasi pada akhir periode. Kemajuan belajar siswa dinilai bukan hanya yang berkaitan dengan nilai tetapi lebih pada proses belajarnya.
D. Penerapan Contextual Teaching and Learning dalam Pembelajaran
Bahasa dan Sastra Indonesia
Pembelajaran bahasa Indonesia bertujuan menanamkan bekal keterampilan berbahasa dan bersastra Indonesia bukan hanya memberikan pengetahuan. Pembelajaran bahasa Indonesia harus dibuat semenarik mungkin agar siswa antusias mengikuti proses belajar mengajar. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia menghendaki sebuah proses pragmatik, bukan teoritik belaka. Pembelajaran yang memanfaatkan CTL sangat diperlukan.
Menurut Endraswara (2003:58) pendekatan kontekstual memang cukup strategis karena menghendaki (1) terhayati fakta yang dipelajari, (2) permasalahan yang akan dipelajari harus jelas, terarah, rinci, (3) pragmatika materi harus mengacu pada kebermanfaatan secara konkret, dan (4) memerlukan belajar kooperatif dan mandiri.
Penerapan CTL dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada aspek membaca, berbicara, mendengarkan, dan menulis baik dari segi berbahasa maupun bersastra dipaparkan sebagai berikut.
(1) Penerapan CTL dalam Pembelajaran Membaca
Membaca menurut Komaruddin (2005:21) adalah mengeja atau melafalkan apa yang tertulis atau melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati). Membaca merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang harus dikuasai oleh siswa. Kegiatan membaca tersusun dari empat komponen, yaitu strategi, kelancaran, pembaca, dan teks.
Dalam pembelajaran membaca, guru dapat menciptakan masyarakat belajar di kelas. Masyarakat belajar berfungsi sebagai wadah bertukar pikiran, bertukar
informasi, tanya jawab tentang berbagai permasalahan belajar yang dihadapi, dan pada akhirnya dicari solusi tentang permasalahan tersebut.
Guru seharusnya menjadi model yang mendemonstrasikan teknik membaca yang baik di kelas. Guru juga harus memonitor pemahaman siswa. Memonitor pemahaman penting untuk mencapai sukses membaca. Salah satu hal yang terkait dalam proses memonitor ini adalah kemampuan siswa dalam mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan guru. Guru harus seimbang baik posisinya sebagai pendamping siswa maupun pengembang keterampilan siswa dalam pemahaman bacaan.
(2) Penerapan CTL dalam Pembelajaran Berbicara
Berbicara merupakan salah satu kompetensi dasar yang berusaha mengungkapkan gagasan melalui bahasa lisan. Berbicara merupakan kegiatan menghubungkan antara semata dengan kepercayaan diri untuk tampil mengungkapkan gagasan. Suasana kelas memiliki peran dalam pembelajaran berbicara.
Pembelajaran di kelas dapat menggunakan teknik belajar dalam konteks interaksi kelompok (cooperating). Guru membuat suatu kelompok belajara (learning community). Dalam komunitas tersebut siswa berusaha untuk mengutarakan pikirannya, berdiskusi dengan teman. Konsep dasar dalam teknik ini adalah menyatukan pengalaman-pengalamn dari masing-masing individu. Teknik ini memacu siswa untuk berkomentar, mengungkapkan gagasannya dalam komunitas belajar. Tahap pertama, siswa diberikan peluang untuk berbicara. Apabila terdapat
kesalahan penggunaan bahasa, guru dapat memberikan pembenaran selanjutnya. Menumbuhkan keterampilan berbicara, dimulai dengan menumbuhkan kepercayaan diri pada diri siswa.
Prinsip CTL memuat konsep kesalingbergantungan para pendidik, siswa, masyarakat, dan lingkungan. Prinsip tersebut memacu siswa untuk turut mengutarakan pendapat dalam memecahkan masalah. Prinsip diferensiasi dalam CTL membebaskan siswa untuk menjelajahi bakat pribadi, membebaskan siswa untuk belajar dengan cara mereka sendiri. CTL merupakan salah satu alternatif pembelajaran inovatif, kreatif, dan efektif.
Keterampilan berbicara menggunakan bentuk penilaian berupa unjuk kerja. Siswa diberikan instrumen yang dapat membuatnya berbicara atau berkomentar. Berpidato, menceritakan kembali, berkomentar, bertanya merupakan salah satu kegiatan dalam berbicara. Penilaian yang dilakukan guru harus sesuai dengan fakta di kelas. Siswa yang pandai berbicara layak mendapatkan nilai tinggi dalam kompetensi berbicara dibandingkan siswa yang frekuensi berbicaranya rendah.
(3) Penerapan CTL dalam Pembelajaran Mendengarkan
Mendengarkan adalah proses menangkap pesan atau gagasan yang disampaikan melalui ujaran. Keterampilan mendengarkan membutuhkan daya konsentrasi lebih tinggi dibanding membaca, berbicara, dan menulis. Ciri-ciri mendengarkan adalah aktif reseptif, konsentratif, kreatif, dan kritis. Pembelajaran mendengarkan dalam CTL mengharuskan guru untuk membiasakan siswanya untuk
mendengarkan. Mendengarkan dapat melalui tuturan langsung maupun rekaman. Kemudian siswa diberikan instrumen untuk menjawab beberapa pertanyaan.
Teknik-teknik penilaian yang digunakan untuk mengetahui perkembangan siswa pada keterampilan mendengarkan dapat menggunakan teknik observasi. Observasi dilakukan guru dengan melihat dan mencatat hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan menyimak siswa. Proses perekaman dapat dilakukan guru menggunakan buku atau lembar observasi untuk siswa. Rekaman observasi ini berisi perilaku siswa saat pembelajaran menyimak berlangsung dan pembelajaran keterampilan yang lain.
Teknik kedua adalah dengan portofolio merupakan kumpulan hasil karya siswa dalam satu periode waktu tertentu, misalnya satu semester yang menggambarkan perkembangan siswa dalam keterampilan menyimak. Data yang didapat dari portofolio digunakan untuk mengetahui perkembangan belajar menyimak siswa.
Teknik ketiga adalah jurnal dalam mendengarkan. Jurnal digunakan untuk merekam atau meringkas aspek-aspek yang berhubungan dengan topik-topik kunci yang dipahami, perasaan siswa terhadap pembelajaran menyimak, kesulitan yang dialami atau keberhasilan siswa dalam mencapai kompetensi yang dipelajari. Jurnal dapat berupa diary, atau catatan siswa yang lain.
(4) Penerapan CTL dalam Pembelajaran Menulis
Menulis merupakan penyampaian gagasan dalam bentuk bahasa tulis. Salah satu keterampilan pembelajaran menulis adalah pembelajaran menulis kreatif.
Keterampilan menulis kreatif bukan hanya berpusat pada guru sebagai informan melainkan siswa sendiri yang harus berperan aktif dalam pembelajaran. Guru hanya memberikan instruksi kepada siswa untuk membuat karangan kreatif tanpa ada penguatan sebelumnya.
Salah satu tujuan pembelajaran kontekstual adalah mempertemukan konsep-konsep yang dipelajari di dalam ruang kelas dengan kenyataan aktual yang dapat dipahami dengan konsep-konsep teoretis itu dalam kenyataan lingkungan terdekatnya. Guru seharusnya dapat memberikan ruang bebas untuk siswa agar dapat mengungkapkan gagasannya, tanpa perlu dibatasi. Komponen CTL berwujud refleksi adalah berusaha untuk menghubungkan apa yang telah dipelajari dengan realitas sehari-hari siswa. Instrumen yang diberikan guru dapat berupa pemberian tugas menuliskan kegiatan sehari-hari dalam sebuah diary yang pada nantinya dapat dijadikan sebuah dokumen portofolio. Isi diary adalah tentang apa yang dipelajari hari itu, permasalahan apa yang dihadapi, serta proses pencarian jawaban tentang permasalahan tersebut. Setelah siswa menulis diary dalam periode tertentu, guru dapat melakukan penilaian tentang tulisan siswa tersebut dan pada akhirnya ditentukan keputusan siswa tersebut telah dapat memenuhi kompetensi atau belum.
Seorang guru yang memiliki kompetensi memadai seharusnya dapat melakukan penilaian secara autentik tentang kegiatan menulis siswanya. Penilaian yang sebenarnya adalah penilaian berbasis siswa. Penilaian guru tentang kegiatan menulis siswa harus sesuai dengan kompetensi siswa yang sesungguhnya. Guru harus membuat rubrik penilaian yang dapat mencakup semua aspek yang akan dinilai. Sebelum membuat rubrik, guru harus dapat membuat instrumen yang mudah
dimengerti oleh siswa, dan instrumen yang dapat membuat siswa berpikir kritis dan kreatif. Instrumen menulis yang dibuat guru harus dapat memfasilitasi siwa untuk menulis kreatif.
BAB III
PENUTUP
Contextual Teaching and Learning (CTL) atau pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang mengaitkan materi yang diajarkan dengan realitas dunia siswa sehingga siswa dapat membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya. Pembelajaran bahasa bukan hanya memberikan pemahaman berupa definisi melainkan siswa dituntut untuk dapat menemukan pengetahuannya sendiri. Guru harus memiliki strategi yang memacu siswa untuk dapat berpikir kritis dan kreatif.
Implementasi CTL pada pembelajaran membaca, berbicara, menulis, dan mendengarkan dapat membuat pembelajaran lebih kreatif, dan menuntut siswa untuk lebih berpikir kritis. Artinya siswa dipacu untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dengan kehidupan sehari-hari. Guru harus dapat menjadi model pada kompetensi tertentu, sehingga siswa mendapatkan contoh atau model untuk mengambangkan konsep yang didapat.
Pembelajaran bahasa Indonesia dengan metode CTL akan membuat pembelajaran semakin menarik dan kreatif tanpa menghilangkan tujuan pembelajaran. Guru seharusnya dapat menciptakan berbagai strategi pembelajaran yang inovatif sehingga siswa semakin berantusias mengikuti pembelajaran. Kerja
sama yang baik antara para pelaksana pendidikan dengan masyarakat akan memperlancar proses pendidikan.
DAFTAR RUJUKAN
Endraswara, Suwardi. 2003. Membaca, Menulis, mengajarkan Sastra. Yogyakarta: Kota Kembang.
Komaruddin, Erien. 2005. Panduan Kreatif Bahasa Indonesia. Bogor: Yudhistira.
Nurhadi, dkk. 2002. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.
Priyatni, Endah Tri. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Pembelajaran Konteksual. Makalah disajikan dalam Semlok KBK dan Pembelajarannya di SMAN 2 Jombang. Malang: Universitas Negeri Malang.
Priyatni, Endah Tri. 2002. Penerapan Konsep dan Prinsip Pengajaran dan Pembelajaran dan Pembelajaran Kontekstual dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia. Kumpulan Materi TOT CTL Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Lanjutan Tingkat pertama. Jakarta: Depdiknas.
Suyanto, Kasihani E. 2003. Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual. Makalah disajikan dalam Penataran Terintegrasi, AA dalam CTL. Malang: Universitas Negeri Malang.

MACAM-MACAM MODEL PEMBELAJARAN BHS.INDONESIA

MACAM-MACAM MODEL PEMBELAJARAN BHS.INDONESIA
Sederet pertanyaan di bawah ini barangkali dapat mencerminkan kondisi pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar yang perlu mendapatkan perhatian para pendidik di tanah air tercinta. Jelas pertanyaan ini tidak perlu jawaban langsung, tetapi hanya sekedar refleksi dan introspeksi diri kita masing-masing tentang bagaimana mengolah pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolaha Dasar menjadi kian bermutu, berbobot dan bermakna. Bagaimana kondisi pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar? Apakah pembelajarannya berlangsung secara menarik, menyenangkan? Apakah pembelajarannya memungkinkan siswa untuk kreatif dan menemukan sendiri pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai? Apakah hasil pembelajarannya sudah sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dalam kurikulum?
SOLUSI Bagaimana mengatasi masalah yang terjadi dalam pembelajaran bahasa Indonesia? Guru perlu memahami secara benar Kurikulum yang berlaku. Guru perlu merancang dan menerapkan model pembelajaran yang inovatif dan kreatif.
Model Pembelajaran Mendengarkan Berbicara Membaca Menulis Apresiasi Sastra
Model Pembelajaran Mendengarkan Dengar Ulang Ucap Dengar Tirukan Dengar Kerjakan Dengar Tulis Dengar Rangkum
Model Pembelajaran Berbicara Ulang Ucap Lihat Ucapkan Memerikan Menjawab Pertanyaan Bertanya Reka Cerita Gambar Melanjutkan Cerita Menceritakan Kembali
Bercerita Parafrase Bermain Peran
Model Pembelajaran Membaca Baca – Rangkum Baca – Ceritakan Baca – Susun Pertanyaan Baca – Jawab Pertanyaan Baca – Peragakan Baca – Parafrasekan Baca – Ubah
MODEL PEMBELAJARAN MENULIS/MENGARANG Menulis objek langsung Menulis objek gambar Menulis beranting Menulis re-kreasi Menulis imajinatif
MODEL PEMBELAJARAN SASTRA
Pembelajaran Sastra dilakukan dalam konteks keterampilan berbahasa yang menggunakan materi sastra. Sehingga model pembelajaran mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis yang diungkap di muka dapat diterapkan dalam pembelajaran sastra.
Namun demikian, ada beberapa model atau teknik pembelajaran khas sastra yang akan disampaikan berikut ini.
Model Pembelajaran Sastra : Ganti Tokoh Ganti Latar Urutan Alur Skema Tokoh Tabel Kesan Tokoh Lanjutkan Cerita Parafrase Puisi Melagukan Puisi/Pantun Baca Puisi Perseorangan/Berpasangan/Serempak

DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM

UNIT 4:
DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-2
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
(+ 1 hari)
1. Pengantar
Beberapa orang memandang bahwa PAKEM sama dengan kerja kelompok. Jika dalam suatu kelas sedang berlangsung pembelajaran, dan disana siswa tetap duduk seperti orang menonton bioskop, semua menghadap ke depan, duduk berdua dengan satu bangku, maka dengan mudah dan cepat kita katakan kelas itu tidak PAKEM.
Tetapi sebaliknya jika kita masuk ke suatu kelas dan siswa sedang duduk kelompok, walau mereka hanya duduk dalam kelompok, dan tidak semua bekerja, maka dengan mudah kita mengatakan kelas itu PAKEM.
Seharusnya menilai PAKEM tidaknya suatu pembelajaran tidak cukup hanya dengan melihat pengaturan tempat duduk siswa, tetapi harus diperhatikan pula intensitas keterlibatan siswa dalam belajar.
Usaha-usaha yang menawarkan sebuah pembaharuan, termasuk penerapan PAKEM di kelas, biasanya akan menemui masalah. Beberapa masalah yang masih sering ditemukan baik dalam pelatihan maupun dalam penerapan PAKEM di kelas dapat dilihat di bawah ini.
Beberapa temuan penerapan PAKEM di kelas adalah sebagai berikut:
1) Guru kurang banyak memperoleh kesempatan menyaksikan pembelajaran PAKEM yang baik
2) Guru kurang memiliki referensi (buku, video, dll) tentang pembelajaran PAKEM yang baik
3) Tugas yang diberikan bersifat tertutup dan banyak pengisian lembar kerja (LK) yang kurang baik.
4) Pembelajaran kurang memberikan tantangan sesuai kemampuan siswa
5) Pembelajaran hanya mengajarkan satu indikator dengan satu aktifitas.
6) Perbedaaan individual siswa kurang diperhatikan termasuk laki-laki/perempuan, pintar/kurang pintar, sosial ekonomi tinggi/rendah.
7) Pengelolaan siswa kurang sesuai dengan kegiatan
8) Guru merasa khawatir dan pesimis untuk melaksanakan PAKEM di kelas 6 dan 9.
9) Pajangan cenderung menampilkan semua apa yang dikerjakan siswa dengan hasil yang seragam.
Berbagai kendala selalu ada, akan tetapi dukungan pun tak kurang banyak dalam menerapkan PAKEM. Berbagai pelatihan telah diikuti dan para guru telah melakukannya di kelas masing-masing.
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-3
Sebagai upaya untuk terus meningkatkan mutu pelaksanaan PAKEM, pada unit ini dibahas dan kaji secara berurutan: 1) telaah PAKEM, 2) pengembangan ide pembelajaran, 3) teknik bertanya, 4) pengorganisasian kelas, dan 5) pembe- lajaran kooperatif.
2. Tujuan :
Setelah mengikuti sesi ini, diharapkan peserta:
a. Mampu mengidentifasi sifat-sifat PAKEM tertentu dalam pembelajaran yang dilaksanakan
b. Mampu mengembangkan ide pembelajaran
c. Mampu mengidentifikasi jenis pertanyaan yang efektif
d. Mampu mengorganisasikan kelas sesuai dengan tugas pembelajaran
e. Mampu mengembangkan pembelajaran kooperatif
3. Persiapan
Setiap fasilitator perlu membaca keseluruhan isi paket pelatihan termasuk bab pendahuluan dan mendalami unit yang menjadi tanggung jawabnya agar memahami benar: Sumber bahan yang diperlukan, lembar kerja/slide powerpoint yang akan digunakan, pengorganisasian/pembagian kelompok dan waktu yang tersedia untuk setiap kegiatan (pengelolaan waktu).
4. Bahan Penunjang
1) Transparan OHP/slide powerpoint
2) Lembar tugas untuk modelling PAKEM
3) Pena, kertas lebar, gunting, spidol warna
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-4
5. Kegiatan
1) Pengantar (15 menit)
Fasilitator membuka sesi ini dan menyampaikan informasi yang berkaitan dengan isu dalam kegiatan PAKEM. Kemudian memberikan informasi tentang pengalaman belajar apa yang akan dilaksanakan dalam sesi ini.
2) Cerita dari Guru (Nara Sumber) (20 menit)
Satu atau dua nara sumber dipilih dari guru / fasilitator yang sudah berhasil melaksanakan PAKEM / CTL dengan baik. Mereka diminta membawa hasil karya siswa dan / atau bahan ajaran yang kreatif, serta foto kalau ada. Mereka menjelaskan tentang pembelajaran yang berkaitan dengan bahan yang dibawa.
3) Diskusi tentang Keberhasilan dan Hambatan (30 menit)
Para peserta dibagi kelompok 5 – 6 orang untuk membahas (i) keberhasilan dalam melaksanakan PAKEM / CTL dan (ii) hambatan yang dihadapi. Hasil diskusi ditulis di kertas besar untuk dipajanagkan.
4) Belanja dan Diskusi (40 menit)
Para peserta bekeliling membaca hasil diskusi kelompok lainnya (15 menit), ditindaklanjuti dengan diskusi pleno tentang temuan (25 menit)
5) Modelling dan Diskusi :Konvensional dan PAKEM (120 menit)
Dalam sesi ini akan ditampilkan 2 modelling pembelajaran yaitu :
a. Pembelajaran Konvensional
b. Pembelajaran PAKEM
Dalam pembelajaran konvensional dan PAKEM tersebut, fasilitator bertindak sebagai model dan menyajikan contoh pembelajaran konvensional dan
Modelling dan Diskusi:
Konvensional dan PAKEM
120 menit
Pengembangan Gagasan Pembelajaran
45 menit
Keterampilan Bertanya
60 menit
Pengorganisasian Kelas
60 menit
Pengantar
15 menit
Pembelajaran Kooperatif
60 menit
Belanja dan Diskusi
40 menit
Diskusi keberhasilan / hamabatan dalam PAKEM
30 menit
Cerita dari Guru (Nara Sumber)
20 menit
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-5
PAKEM. Contoh pembelajaran mencakup 2 mata pelajaran yaitu : bahasa Indonesia dan Matematika. Dalam penyajian modelling ini peserta dibagi dalam beberapa kelompok (tergantung banyaknya peserta). Setiap kelompok dibagi 2, yaitu kelompok yang berperan sebagai siswa dan kelompok yang berperan sebagai pengamat. Kelompok pengamat dilengkapi dengan lembar pengamatan yang sudah disiapkan (lampiran 9). Bahan, tahapan detail dan lembar kerja lihat di lampiran 1-8.
6) Pengembangan Gagasan Pembelajaran (45 menit)
Setelah peserta mengamati 2 model pembelajaran di atas, peserta mendiskusikan hasil kegiatan tersebut termasuk membahas lembar pengamatan yang diisi kelompok pengamat (lampiran 9). Setelah diskusi mereka mencoba mengembangkan ide-ide sederhana yang mungkin bisa diterapkan dalam pembelajaran PAKEM yang akan dilakukan, termasuk: cara bertanya, kerja kelompok, dan sebagainya.
a. Peserta dalam kelompok 4-5 orang mengembangkan langkah-langkah KBM untuk satu topik yang diberikan oleh fasilitator atau diseleksikan oleh peserta sendiri. Langkah-langkah tersebut harus memperhatikan ciri-ciri pembelajaran PAKEM di atas.
b. Kelompok-kelompok saling menukar hasil kerjanya dan memberikan masukan perbaikan.
7) Ketrampilan bertanya (60 menit)
a. Fasilitator menayangkan PowerPoint/OHP dengan pertanyaan berikut untuk menimbulkan gagasan dari peserta: Mengapa kita mengajukan pertanyaan kepada siswa? Pertanyaan apa yang sering disampaikan oleh guru, mengapa?
b. Lewat Powerpoint/OHP, dan lembar bacaan, fasilitator memberi contoh bacaan (lihat Lampiran 10) dan berbagai pertanyaan yang memuat/mengacu pada ketiga jenis/sifat pertanyaan di bawah ini: mencari informasi memanfaatkan pengetahuannya menciptakan sesuatu yang baru dan memberikan pendapat
c. Peserta ( dalam kelompok kecil 3-4 orang ) menyusun 3 pertanyaan dari ketiga jenis/sifat pertanyaan di atas, dengan menggunakan teks yang sama
d. Peserta saling menukar pertanyaan untuk didiskusikan kualitas pertanyaan dan memberi tanggapan/perbaikan. Peserta meninjau kembali hasil perbaikan dan saran dari kelompok lain untuk kemudian disempurnakan dan dikembangkan
e. Secara pleno Fasilitator dengan memakai Powerpoint atau OHP mengajukan kepada peserta pertanyaan sebagai berikut:
a) Pertanyaan mana yang dianggap mudah untuk ditulis dan dijawab?
b) Pertanyaan mana yang dianggap sulit untuk ditulis dan dijawab? mengapa?
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-6
c) Apa yang bisa membantu kita untuk menyusun pertanyaan seperti kategori b dan c.
f. Fasiltator menutup kegiatan ini dengan bertanya kepada peserta untuk reviu kembali pertanyaan dalam contoh pembelajaran PAKEM dan mengidentifikasikan jenisnya pertanyaan dari tiga kategori yang dibahas tadi (mencari informasi; memanfaatkan pengetahuannya; menciptakan sesuatu yang baru dan memberikan pendapat)
8) Pengorganisasian kelas (60 menit)
Untuk kegiatan tentang pengorganisasian kelas, bila ada video tentang pengorganisasian kelas dapat ditayangkan sebagai salah satu sumber dan media pembelajaran pada awal kegiatan itu. Jika tidak ada, langkah-langkah berikut dapat dilakukan.
a. Dengan memakai Powerpoint/OHP, fasilitator mengajukan pertanyaan berikut kepada peserta tentang organisasi kelas (Klasikal, kelompok, dan individu). Apa yang anda ketahui tentang belajar klasikal, kelompok, dan individu? Kapan siswa belajar klasikal, kelompok atau individual? Mengapa siswa bekerja/belajar secara klasikal, kelompok dan individual?
Peserta dan fasilitator kemudian membahas bersama (melalui penayangan Powerpoint/OHP) beberapa jenis organisasi dengan mencoba memberikan contoh tugas/kegiatan yang sesuai untuk jenis organisasi masing-masing (lihat Lampiran 11 dan 12).
b. Peserta mengidentifikasi kegiatan yang harus dikerjakan secara klasikal, kelompok atau individu dengan menggunakan lembar kerja berikut:
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-7
Tabel: Pengorganisasian kelas
Mengidentifikasi Kegiatan Klasikal, Kelompok Atau Individu
No
Kegiatan pembelajaran
Pengelolaan kelas
Alasan
Klas
Klp
indv
1.
Mendengarkan instruksi guru
2.
Menggunakan termometer
3.
Mencari kota-kota di peta
4.
Melaporkan hasil tugas
5.
Membuat diagram alir
6.
Curah pendapat tentang tsunami
7.
Menceritakan pengalaman waktu kecil
8.
Meragakan tokoh cerita
9.
Menulis cerita
10.
Mengerjakan soal-soal matematika halaman 60
11.
Memperkirakan luas ruang kelas
Sesudah tugas selesai peserta saling menukar pilihan dengan memberikan alasan dan komentar. Selanjutnya fasilitator menayangkan slide Power Point/OHP tips pengorganisasian kelas (Lihat Lampiran 13)
9) Pembelajaran Kooperatif (60 menit)
Dalam sesi ini ada 2 kegiatan pokok. Pertama, fasilitator menyajikan bahan-bahan/informasi yang berkaitan dengan pembelajaran koooperatif. Kedua, peserta melakukan aktivitas yang berhubungan dengan pembelajaran kooperatif melalui bahan yang sudah disiapkan oleh fasilitator. Bahan dapat dilihat dalam Lampiran 14 – 15 .
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-8
6. Indikator Monev: (Bahan referensi untuk fasilitator)
1) Guru Guru lebih banyak memberi kesempatan anak untuk bekerja (menemukan sendiri, mengungkapkan pendapat dsb.) Guru menciptakan pembelajaran yang menantang Guru mempergunakan berbagai media, metode, dan sumber belajar, termasuk sumber belajara dan bahan dari lingkungan Guru memberikan tugas dan bantuan yang berbeda sesuai dengan kemampuan siswa Guru mengelola kelas secara fleksibel (individu, kelompok, pasangan) sesuai tugas yang diberikan untuk melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran.
2) Siswa Siswa tidak takut bertanya Ada interaksi antara siswa untuk mmebahas dan memecahkan masalah Siswa aktif bekerja Siswa dapat mengungkapkan dengan kata-kata sendiri Siswa melakukan kegiatan baca mandiri Siswa melakukan kegiatan proyek (teknologi sederhana, menulis biograpi tokoh).
3) Kelas Ada pajangan yang merupakan hasil karya siswa Pajangan dimanfaatkan sebagai sumber belajar Penataan tempat duduk memudahkan interaksi guru dengan siswa, siswa dan siswa Ada penataan sumber belajar (alat bantu belajar, poster, buku) yang dimanfaatkan siswa.
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-9
Lampiran
Lampiran 1
Modeling pembelajaran Konvensional dan PAKEM
1) Persiapan dan pengorganisasian kelompok
a. Persiapan
Selama kegiatan ini, fasilitator akan memberikan 2 contoh (model) pembelajaran, yakni: pembelajaran konvensional, dan pembelajaran PAKEM. Contoh tersebut mencakup mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika (Lihat Lampiran 1- 4 ). Untuk melaksanakan tugas ini dengan baik, Anda (fasilitator) harus merencanakan dan menyiapkan pembelajaran yang meliputi: Mengorganisasikan peserta ke dalam kelompok beserta peran masing-masing dalam kelompok Mengorganisasikan ruang belajar Mengorganisasikan bahan-bahan yang diperlukan untuk melaksanakan model pembelajaran
b. Pengorganisasian kelompok
Pengorganisasian kelompok akan tergantung pada jumlah peserta dan ketersediaan ruangan. Saran pengaturan diberikan tetapi Anda mungkin menyesuaikannya dengan situasi setempat. Model ini didasarkan jumlah peserta 100 orang peserta.
Kegiatan ini melibatkan setengah kelompok menjadi “siswa” dan setengahnya lagi menjadi pengamat.
c. Pengorganisasian ruang belajar
Selama pembelajaran konvensional, meja dan kursi diatur menghadap ke papan tulis dan “siswa” duduk berjajar. Meja dan kursi perlu diatur kembali
Ruang kelas 1:
Kelompok
Bahasa Indonesia
Jumlah 25 orang
13 “siswa”
12 pengamat
Ruang kelas 3: Kelompok Matematika
Jumlah 25 orang
13 “siswa”
12 pengamat
Pembelajaran memerlukan 4 ruang kelas atau kelompok
Setiap kelompok memerlukan satu atau 2 orang
fasilitator
Ruang kelas 2:
Kelompok Bahasa Indonesia
Jumlah 25 orang
13 “siswa”
12 pengamat
Ruang kelas 4:
Kelompok Matematika
Jumlah 25 orang
13 “siswa”
12 pengamat
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-10
setelah model pembelajaran pertama (pembelajaran konvensional) untuk memberikan kesempatan kepada peserta bekerja dalam kelompok-kelompok pada model pembelajaran kedua (pembelajaran PAKEM).
Selama pembelajaran konvensional, pengamat duduk di samping “siswa” . Dalam pembelajaran PAKEM para pengamat duduk di antara kelompok “siswa”. Pengamat tidak berpartisipasi di dalam pembelajaran, tetapi mengamati dan mengisi lembar observasi.
d. Pengorganisasian bahan untuk pelajaran.
Bacalah dengan teliti daftar bahan yang diperlukan pada awal model pelajaran dan pastikan Anda sudah siap dengan foto copy lembar kerja dan bahan yang tersedia. Bacalah petunjuk pelajaran dengan baik agara Anda mengetahui benar apa yang harus dikerjakan.
2) Pelaksanaan model pembelajaran
Ikutilah petunjuk yang diberikan dan usahakan melaksanakan pembelajaran seperti yang diberikan dalam model pembelajaran. Bagikan lembar observasi kepada para pengamat untuk mendeskripsikan aspek-aspek PAKEM. Laksanakan terlebih dulu pembelajaran konvensional dan kemudian pembelajaran PAKEM.
a) Dalam kelompok yang terdiri dari 4-5 orang (sebagian anggota sebagai pengamat dan sebagian sebagai “siswa”) menyimpulkan hasil pengamatannya dan membandingkan hasil dari pengamatan proses dan hasil kerja “siswa” antara pembelajaran konvensional dan PAKEM.
b) Peserta membandingkan ciri-ciri dari kedua pembelajaran tersebut. Peserta diminta untuk mengidentifikasi ciri-ciri pembelajaran PAKEM, misalnya:
Tugas terbuka Pertanyaan yang mengundang tanggapan siswa yang bervariasi Mengorganisasikan kelas sesuai dengan tugas pembelajaran.
c) Fasilitator menyimpulkan hasil diskusi dengan menekankan ciri-ciri pembelajaran PAKEM dengan menggunakan power point/OHP yang terkait dengan ketiga ciri di atas.
Pembelajaran konvensional
Pembelajaran PAKEM
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-11
Lampiran 2
Simulasi Pembelajaran Konvensional
Mata pelajaran: Bahasa Indonesia
Melaporkan : Tsunami 26 Desember 2005
1. Organisasi Pengaturan kelas konvensional
Fasilitator (guru) di depan kelas, dekat papan tulis, peserta (siswa ) duduk berjajar.
2. Bahan
Artikel, Lembar Kerja.
Pendahuluan
1. Fasilitator berkata: “Hari ini kita akan belajar mengenai Tsunami”. Siapa yang dapat menjelaskan apa tsunami itu? Fasilitator memberi waktu sebentar dan menyuruh seorang anak menjawab, kemudian menuliskan jawabannya di papan tulis.
Tsunami mulai dengan gempa di bawah laut. Kekuatan itu mematahkan dasar laut, mengerakkan air dan menimbulkan gelombang. Ketika gelombang mencapai perairan yang dangkal, kekuatannya meningkat dan semakin tinggi.
2. Peserta menyalin jawaban tsb pada buku catatan mereka.
Kegiatan
1. Fasilitator bertanya kepada semua peserta: Apa yang kamu ketahui tentang Tsunami yang baru baru ini terjadi di Indonesia? Beberapa peserta bergantian mengatakan apa yang mereka ketahui tentang tsunami. Fasilitator mengajukan beberapa pertanyaan mengenai fakta fakta tsunami, misalnya negara mana saja yang tertimpa tsunami, berapa orang yang meningggal dan siapa yang datang memberikan bantuan
2. Fasilitator memberitahu peserta mereka mendapat lembar kerja untuk dikerjakan. Peserta membaca lembar kerja dan menjawab pertanyaan pertanyaan. Fasilitator menjelaskan bacaan itu berasal dari laporan surat khabar tentang tsunami dan laporan laporan itu berisi fakta fakta mengenai apa yang terjadi. Sebagian besar pertanyaan adalah pertanyaan ingatan yang sederhana ada sedikit pertanyaan pemahaman. Peserta mengerjakan lembar kerja secara individual dan menuliskan jawaban di buku tulis mereka. (10 menit). Fasilitator tidak memperhatikan para peserta waktu mereka mengerjakan tugas seperti mengkoreksi pekerjaaan di meja fasilitator, keluar dari kelas untuk sementara waktu
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-12
Simpulan
Fasiltator menyuruh peserta melakukan koreksi bersama-sama. Fasilitator membacakan jawaban, peserta memberikan centang kalau jawabannya benar. Akhirnya peserta menghitung jawaban yang benar dan menuliskan nilai mereka.
Lampiran 3
LEMBAR KERJA PEMBELAJARAN KONVENSIONAL
MATA PELAJARAN: BAHASA INDONESIA
TSUNAMI 26 DESEMBER
Bacalah laporan surat kabar dan jawab pertanyaan pertanyaan:
Pada tanggal 26 Desember, gempa bumi yang terbesar dalam 40 tahun terakhir terjadi di Lautan India yang dalam di sebelah barat Sumatra yang menimbulkan gelombang tsunami yang besa. Gempa bumi berkekuatan 9 pada Skala Richter, skala yang mengukur kekuatan gempa. Banyak gempa susulan yang terjadi dengan kekuatan 5 skala richter atau lebih pada hari hari berikutnya, tetapi dampak susulan yang paling kuat dan merusak adalah dari gempa tsb adalah gelombang tsunami yang ditimbulkannya
Kata “tsunami“ berasal dari kata bahasa Jepang tsu (pelabuhan) dan nami (gelombang). Tsunami adalah gelombang atau rangkaian gelombang di laut yang panjangnya dapat mencapai ratusan mil dan ada yang tingginya sampai 10,5 meter. “Dinding air”bergerak hampir secepat pesawat penumpang jet. Gelombang tsunami tanggal 26 Desember mencapai jarak 600 km dalam waktu 75 menit. Itu berarti 480 km per jam.
Di laut dalam, gelombangnya hanya beberapa kaki tingginya,tetapi pada waktu gelombang mendekati pantai, energi dan tingginya meningkat. Sering sebelum tsunami datang, ada efek vakum raksasa, dan air terisap dari pelabuhan dan pantai pantai. Orang melihat dasar lautan penuh dengan ikan dan kapal kapal yang terdampar. Ini terjadi karena gelombang terdiri dari puncak, atau titik tertinggi, dan lembah atau titik terendah. Energi tsunami dipampatkan di air dangkal dan dengan cepat tumbuh makin tinggi. Tsunami sering muncul sebagai suatu rangkaian banjir yang kuat dan cepat, tidak berupa satu gelombang tunggal yang sangat besar.Walaupun demikian satu gelombang vertikal yang dinamakan “bore” pertama kali nampak, diikuti dengan banjir air yang cepat.
Salah satu hal yang membuat peristiwa ini sangat merusak adalah karena tsunami ini melanda daerah berpenduduk relative padat di tengah musim libur turis. Negara Negara yang paling parah kena tsunami termasuk Indonesia, Sri Langka, Thailand dan India.
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-13
Ujung barat pulau Sumatra, daerah berpenduduk yang paling dekat dengan epicentrum, porak poranda karena tsunami. Lebih dari 70% penduduk di beberapa desa di pantai dilaporkan meninggal. Lebih dari 95.000 orang Indonesia sudah dimakamkan dan 133.000 dinyatakan hilang, kemungkinan besar meninggal. Jumlah yang kehilangan rumah diperkirakan 800.000 orang.
Paling sedikit ada 100 organisasi bantuan yang beroperasi di Indonesia. Badan badan bantuan memberikan bantuan darurat berupa makan, air, dan tenda untuk 330.000 orang. Pemerintah memperkirakan beaya pembangunan kembali $ 4,5 milyard lebih selama 3 tahun yang akan datang. Bantuan dari Negara Negara lain dijanjikana $1,7 milyard tahun ini.
Internet, 8 Januari 2005
Jawablah pertanyaan pertanyaan ini di buku Anda
1. Apa yang terjadi pada tanggal 26 Desember?
2. Di manakah gempa bumi terjadi dan berapa kekuatannya?
3. Gempa bumi tsb dampaknya apa?
4. Mana yang lebih merusak, gempa bumi atau tsunami. Mengapa?
5. Kata tsunami berasal dari mana?
6. Apakah “tsunami” itu? Berapa tingginya dan berapa kecepatan bergeraknya? Dengan kecepatan tsb berapa jauh yang dicapai dalam 45 menit?
7. Apa yang terjadi pada waktu gelombang mendekati pantai?
8. Apakah tsunami selalu datang sebagai satu tembok air yang besar?
9. Mengapa begitu banyak orang yang meninggal terlanda tsunami?
10. Apakah menurut anda kurban akan bertambah lagi dalam minggu mingu ini? Mengapa?
11. Berapa orang yang dibantu badan badan bantuan dan apa yang mereka lakukan?
12. Berapa biaya pembangunan kembali setelah dilanda tsunami dan berapa lama diperlukan?
Lampiran 4
Simulasi Pembelajaran PAKEM
Mata pelajaran: Bahasa Indonesia
Melaporkan : Tsunami 26 Desember 2005
1. Organisasi pengaturan kelas :
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-14
Bangku bangku diatur dalam kelompok kelompok. Peserta duduk dalam kelompok. Jumlah peserta dalam kelompok tergantung pada jumlah peserta di kelas, tetapi besar kelompok yang ideal antara 4 – 6 orang. Ada tiga macam kegiatan yang berbeda, oleh karena itu kelompok-kelompok perlu diorganisir dengan kelipatan 3
2. Bahan stimulus misalnya: gambar-gambar, video tentang tsunami, lembar kerja dan bahan bahan bacaan
Pendahuluan:
(Seluruh kelas)
1. Fasilitator memulai pelajaran dengan mengatakan: Saya akan menunjukkan beberapa gambar dan video. Perhatikan baik-baik dan tuliskan apa yang kamu ketahui mengenai peristiwa ini dan bagaimana perasaanmu. (pertanyaan terbuka)
2. Fasilitator menunjukkan gambar-gambar, clip video bencana tsunami. Peserta membuat catatan secara individual mengenai gambar gambar dan clip video video bencana tsunami. Peserta secara individual membuat catatan catatan tentang gambar gambar dan video dalam bentuk butir butir. (individual/berpasangan)
3. Fasilitator minta kepada peserta dalam kelompok untuk melihat respon mereka dan mengklasifikannya ke dalam 2 kelompok: fakta, pendapat dan perasaan. Dalam kelompok peserta menambahkan respon mereka dalam tabel dan mendiskusikannya (lampiran 5)
Fakta-fakta
Perasaan/pendapat
4. Kelompok kelompok saling bertukar tabel mereka. Fasilitator meminta setiap kelompok menjelaskan bagaimana mereka memutuskan di mana mereka akan menempatkan respon mereka. (mereka menjelaskan bagaimana mereka mengetahui apakah pernyataan mereka fakta atau pendapat). Fasiltator bertanya di mana peserta menemukan fakta fakta yang mereka catat.
5. Fasiltator bertanya: apa kita namakan informasi yang mempunyai banyak fakta dan cerita mengenai topik atau peristiwa khusus ( laporan)
Kegiatan:
(Berpasangan)
1. Fasiltator menyuruh peserta mendiskusikan dengan pasangan masing masing untuk beberapa menit bagaimana informasi mengenai tsunami disampaikan dengan cara yang berbeda beda di media masa (yakni laporan tertulis, photo, video, pengalaman penderita dsb) Fasiltator minta kelompok memutuskan menurut pendapat mereka cara mana yang paling efektif untuk melaporkan. Jelaskan pilihan mereka
2. Fasiltator menjelaskan bahwa “Beberapa laporan yang kita lihat adalah semata mata factual, (laporan informasi) beberapa menceritakan apa yang terjadi melalui
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-15
kaca mata dari orang yang menjadi korban (cerita pengalaman)Apa beda antara cerita pengalaman dengan laporan informasi? (peserta berdiskusi berpasangan selama 3 menit) Fasilitator meminta tanggapan peserta dan mendiskusikan perbedaan perbedaan ( sering lebih banyak komentar perorangan dan emosional dari peristiwa, peristiwa diceritakan dari sudut orang pertama, dari sudut pandang penulis)
3. Fasilitator menjelaskan bahwa kadang-kadang, kita melihat grafik, bagan atau diagram di dalam laporan. Mengapa penulis memilih menyajikan informasi dengan cara ini? (angka angka sering lebih mudah dimengerti di dalam tabel, lebih efektif untuk perbandingan, informasi mengenai geografi sering lebih jelas untuk dilihat dalam peta atau diagram)
4. Peserta mendiskusikan secara berpasangan dalam beberapa menit dan fasilitator mendengarkan beberapa tanggapan.
( Kelompok )
1. Fasiltator menjelaskan kepada peserta bahwa mereka akan melaporkan informasi mengenai tsunami dengan cara yang berbeda-beda. Aka ada 3 kelompok: Kelompok 1: menulis laporan informasi Kelompok 2: menulis cerita pengalaman tentang tsunami Kelompok 3: menyajikan grafik “sejarah tsunami”
Lihat lampiran 6-8.
2. Setiap kelompok akan mendapat lembar kerja dengan instruksi dan bahan bahan untuk menyelesaikan tugas. Mereka akan memutuskan bagaimana mereka akan menyajikan hasil kerja mereka kepada seluruh kelas dengan cara yang menarik dan informatif.
Kesimpulan:
Masing masing kelompok menyajikan laporan mereka ke semua peserta. Mereka menjelaskan jenis laporan dan metodenya, misalnya menjelaskan jenis laporan dan ciri ciri laporan mereka. Kelompok lain menggunakan ceklis sederhana untuk menilai apakah ciri-ciri laporan masuk ke dalam presentasi mereka.
Lampiran 5
Fakta, Pendapat Dan Perasaan
Fakta-fakta
Perasaan/pendapat
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-16
Lampiran 6
Lembar kerja untuk kelompok 1
Laporan Informasi.
TUGAS: Dengan menggunakan bahan informasi yang diberikan fasilitator, buatlah laporan yang disajikan di surat kabar (suatu naskah perlu dibuat kalau Anda memilih laporan TV)
Semua laporan harus mencakup: Judul laporan (kalau tertulis) Pendahuluan umum Satu seri pernyataan yang memberikan rincian fakta tentang pokok bahasan (apa, kapan, di mana, mengapa) Ringkasan informasi yang diberikan
Anda perlu memutuskan siapa yang akan menjadi Ketua kelompok. Yang akan bertanggung jawab agar masing masing anggota kelompok mempunyai tugas untuk dikerjakan, secara individual atau berpasangan: misalnya, beberapa anggota kelompok bertugas untuk kerja mengenai pendahuluan, beberapa orang mengenai uraian tentang fakta fakta. Rangkuman dapat dilakukan setelah semua bagian lain selesai dikerjakan. Ketua kelompok harus menjamin bahwa setiap orang aktif, dan mempunyai tugas untuk dikerjakan untuk menyelesaikan tugas kelompok. Pelapor. Satu atau dua orang akan bertanggung jawab untuk menyampaikan laporan pada akhir sesi Penerbit. Satu atau dua orang akan bertanggung jawab mengorganisir “penerbitan” atau “penyajian” artikel. Bagaimana ujud laporan? Apakah akan ada gambar gambar dll. Waktu penyajian, siapa yang akan menjadi pembaca berita? Naskahnya bagaimana? Kalau mereka harus “membaca berita TV” apa yang akan berbeda?
Lampiran 7
Lembar kerja untuk kelompok 2
Tuliskan pengalaman mengenai tsunami dari kacamata kurban
TUGAS: Kelompok bertugas untuk membuat buku kecil mengenai cerita pengalaman pengalaman dari korban tsunami.Anda membayangkan berada dekat pantai Aceh pada waktu air menerjang
Cerita pengalaman Anda perlu mencakup: Peristiwa ditulis dari sudut orang pertama, dari kaca mata penulis Laporan pengalaman menceritakan siapa saja yang terlibat, di mana peristiwa terjadi, kapan terjadi dan bagaimana
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-17
Laporan Anda harus mencakup komentar pribadi Anda, perasaan dan emosi berkaitan dengan peristiwa.
Bacalah cerita pengalaman dari para korban yang selamat dari bencana tsunami untuk membantu Anda
Kelompok Anda perlu memutuskan berama sama cerita ini dtulis mengenai siapa misalnya: dari seorang anak, seorang nelayan, dari seorang pemilik warung di dekat pantai, dari seorang tua, dsb. Tentukan siapa yang akan menulis cerita yang mana. (Apakah Anda memerlukan ketua kelompok? Bagaimana Anda dapat melakukannya?)
Anggota kelompok perlu bekerja berpasangan untuk menulis dan memberikan ilustrasi pengalaman mereka. Kelompok kemudian memutuskan bagaimana menyajikan pengalaman mereka dalam buku. Anggota kelompok juga memutuskan bagaimana mereka akan mempresentasikan karya mereka ke depan kelas. (apakah seseorang akan membacakan beberapa cerita? Atau meminta kelompok lain membacakan cerita mereka? Dsb) Bagaimana mereka akan membacakan cerita mereka? Apakah seperti laporan berita? Apakah akan emosional?
Lampiran 8
Lembar kerja untuk kelompok 3
Laporan Grafik tentang Tsunami yang terkenal
TUGAS: Kelompok Anda perlu membuat tabel berisi informasi mengenai Tsunami dan memutuskan bagaimana cara menyajikannya dalam bentuk grafis.
Sebagai kelompok lihatlah informasi dan sumber sumber yang ada, dan diskusikan bagaimana dapat menyajikan informasi tsb lebih menarik dalam bentuk grafis.Laporan grafis Anda harus membuat pembaca lebih mudah mendapat informasi tentang tempat, waktu, dan peristiwa yang terjadi.
Beberapa ide sebelum Anda mulai: Bagaimana Anda dapat menggunakan peta yang ada? Apakah Anda akan menyajikan dalam garis waktu yang menyatakan urutan peristiwa secara kronologis? Apakah Anda akan menyajikan peta lokasi sebagai yang terpenting? Bagaimana Anda akan mencantumkan informasi mengenai jumlah korban?
Pilihlah ketua kelompok yang akan menjamin bawa setiap anggota akan mengambil bagian dan setiap orang mempunyai tugas untuk dikerjakan
Pertama tama, putuskan bagaimana kelompok akan menyajikan informasi. Kemudian bagi tugas di antara anggota, baik perorangan maupun berpasangan untuk menyelesaikan bagian tugas. Setiap orang dalam kelompok harus mengerjakan sesuatu untuk menambah laporan grafis. Gunakan bahan ekstra (Lihat Lembar Informasi hal 4-23) yang tersedia untuk membuat laporan grafis lebih menarik. Betuk grafis antara lain adalah tabel, peta, grafik, bagan, dan sebagainya
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-18
Tentukan bagaimana kelompok akan menyajikan laporan dan apa yang akan ditunjukkan dalam laporan
Lembar Informasi untuk Kelompok 3
Tsunami yang Terkenal 26 Desember, 2004: Suatu gempa bumi kuat di lepas pantai Sumatra melahirkan gelombang tsunami yang menghancurkan garis pantai pantai di 10 negara, lmenewaskan ebih dari 225.000 orang 17 Juli , 1998: Satu tsunami menimpa pantai utara Papua New Guinea, menewaskan 2000 orang. 16 Agusus 1976:satu tsunami menghantam daerah teluk Moro di Philipina , menewaskan 5000 orang 22 Mei , 1960: Satu tsunami yang tingginya 35 kaki menimpa Chili, Hawaii, Philipina, Okinawa dan Jepang. Lebih dari 1000 orang meninggal 27 Augustus , 1883: Letusan gunung Krakatau menimbulkan tsunami yang membanjiri pantai Jawa dan Sumatera, menewaskan 36.000 orang
Dari http://www.HowstuffWorks.com “How Tsunamis Work”
lampiran 9
Lembar Observasi PAKEM
No
Aspek
Uraian/temuan
1
Bagaimana bentuk tugas yang diberikan?
2
Apa yang dikerjakan siswa untuk melakukan tugas tersebut?
3
Kemampuan apa yang dikembangkan melalui tugas tersebut?
4
Bagaimana bentuk pertanyaan yang diberikan dalam tugas?
5
Jenis pertanyaan apa saja yang diajukan guru kepada siswa dalam pembelajaran?
6
Sejauh mana guru memperhatikan perbedaan siswa?
7
Apa yang dilakukan oleh siswa selama mengerjakan tugas?
8
Sejauh mana siswa diberi kesempatan untuk menanggapi kegiatan belajar yang telah dilakukan?
9
Apa yang dilakukan siswa pada saat belajar kelompok, individu, berpasangan, atau
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-19
klasikal?
10
Pada saat ada kerja kelompok, berapa jumlah anggota kelompok?
11
Apakah semua siswa terlibat dalam kegiatan kelompok?
12
Apa yang dilakukan guru selama anak mengerjakan tugas?
Lampiran 10
BAHAN UNTUK FASILITATOR
Bacaan
Dari Kompas Minggu 27 Februari 2005, H. 37.
Rahasia Segitiga Bermuda
Banyak cerita tentang hilangnya kapal laut beserta seluruh awaknya kala berlayar di daerah yang disebut sebagai daerah Segitiga Bermuda. Kata segitiga diambil dari titik-titik yang diproyeksikan di peta, bentuknya seperti segitiga, dengan lokasi di Kepulauan Bermuda, Puerto Riko, dan Florida. Semuanya berada di Samudra Atlantik!
Kapal yang tercatat hilang, antara lain, terjadi pada April 1925. Kapal pengangkut barang Raifuku Maru dari Jepang tenggelam setelah mengirim berita, “Seperti pisau raksasa! Cepat, tolong! Kami tak mungkin lolos!” Namun kapal itu tak lagi menjawab, hilang membawa seluruh awaknya. Bulan Oktober 1951, kapal tanker Southern Isles mengalami nasib yang sama. Ketika sedang berlayar dalam konvoi, tiba-tiba ia menghilang. Kapal yang lain hanya sempat melihat cahaya kecil yang dianggap sebagai cahaya yang ditinggalkan oleh kapal yang tenggelam itu.
SESUDAH itu, pada Desember 1954, kapal tanker kembarannya, Southern Districts juga tenggelam dengan cara yang mirip. Ia lenyap tanpa meninggalkan tanda SOS ketika berlayar melintasi wilayah itu ke utara menuju South Carolina.
YANG tercatat di atas hanya peristiwa-peristiwa yang mencolok saja. Padahal, masih banyak kapal kecil yang hilang. Bahkan, pesawat terbang pun ikut jadi korbannya. Pada 5 Desember 1945, tercatat lima pesawat pelemparan torpedo Grumman TMB-3 Avenger lenyap.
Sebelum hilang kontak, mereka menyatakan tidak tahu arah. Padahal, komandan penerbangan itu, Letnan Udara Charles Taylor, sudah mengantongi 2.500 jam terbang. Jadi, dia bukan penerbang yang tidak berpengalaman. Bahkan, sebuah pesawat penyelamat yang dikirim pun lenyap ditelan “air putih”.
UFO atau gas metana?
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-20
MENURUT buku penulis Amerika Charles Berlitz, The Bermuda Triangle, terbitan Doubleday & Co, New York 1974 disebutkan bahwa kapal laut dan pesawat yang hilang itu diserang oleh makhluk ruang angkasa atau UFO yang naik piring terbang bercahaya putih. Jadi, cahaya putih yang dilihat para korban sebelum kehilangan kontak adalah cahaya piring terbang makhluk ruang angkasa.
ATAU ada lagi ilmuwan yang mengatakan bahwa pesawat dan kapal laut itu tersedot ke lubang lorong waktu seperti hilangnya semua materi kalau masuk black hole. Menurut istilah astronomi, black hole itu sendiri adalah benda angkasa yang memiliki gravitasi atau gaya tarik yang hebat, sampai-sampai bisa menarik benda yang ada di sekitarnya dan dalam sekejap “menelannya”. Bahkan cahaya pun bisa “ditelannya”.
MENURUT Bill Dillon dari US Geological Survey, Woods Hole Field Center, beberapa korban sebelum kehilangan kontak selalu menggambarkan ada cahaya putih. Kemungkinan itu adalah semprotan gas metana dari dalam air. Seperti blow out atau semburan air yang mendidih akibat dipanasi gas metana yang ada di dalam laut. Asal kamu tahu saja, di daerah Segitiga Bermuda terdapat tambang metana. Nah, kalau keluar saat dasar laut retak, gas itu akan mendorong air laut ke atas. Dorongannya itu tidak tanggung-tanggung, berupa semburan kuat dan mendidihkan air laut. Jadi, pesawat pun bisa terkena semburannya!
TEORI lain sebagai penyebab hilangnya pesawat terbang di daerah itu adalah rusaknya kompas. Karena para awak jadi tidak tahu posisinya, mereka lalu berputar-putar sampai pesawat kehabisan bahan bakar, lalu jatuh laut! Rusaknya kompas mereka pasti karena medan magnet.
Meskipun belum bisa dijelaskan medan magnet apa yang merusak kompas, prof Yohanes Surya PhD, ahli fisika kita setuju dengan penulis asing, Larry Kusche, dalam bukunya The Bermuda Triangle Mystery Solved. Tertulis di buku itu bahwa hilangnya kapal di segitiga itu dapat dijelaskan secara rasional. Ada yang berupa kecelakaan, cuaca buruk, kehabisan bahan bakar, dan sebagainya. Maka, kita tak perlu penjelasan yang aneh-aneh dan bersifat takhayul.
TAKHAYUL atau bukan, tidak jadi soal. Yang pasti, kalau harus lewat daerah segitiga itu, kita jadi ngeri juga. Bagaimana kalau tiba-tiba… wuzzz! Lenyap deh kita! Ih, jangan sampai deh!
Contoh pertanyaan
1. Pertanyaan mencari informasi:
Di mana letak Segitiga Bermuda?
2. Pertanyaan memanfaatkan pengetahunan:
Penjelasan yang diberikan oleh penulis tentang peristiwa Segitiga Bermuda mana yang menurutmu paling mungkin?
3. Pertanyaan yang menciptakan sesuatu yang baru/memberikan pendapat:
Sependapat atau tidak dengan kesimpulan yang ditarik oleh penulis artikel ini, bahwa “Takhayul atau bukan, tidak jadi soal”? Berikan alasan atas pendapatmu.
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-21
Lampiran 11
Tugas/Kegiatan Yang Sesuai Untuk Masing-masing Jenis Organisasi
Pengorganisasian kelas
Jenis kegiatan seperti apa?
Klasikal: seluruh kelas mengerjakan hal yang sama
Kelompok: sekelompok siswa mengerjakan satu tugas bersama sama
Perorangan: anak mengerjakan tugas sendiri sendiri
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-22
Lampiran 12
Mengidentifikasi Kegiatan Yang Harus Dikerjakan Secara Klasikal, Kelompok Atau Individu
No
Kegiatan pembelajaran
Pengelolaan kelas
Alasan
Klas
klp
indv
1.
Mendengarkan instruksi guru
2.
Menggunakan termometer
3.
Mencari kota-kota di peta
4.
Melaporkan hasil tugas
5.
Membuat diagram alir
6.
Curah pendapat tentang tsunami
7.
Menceritakan pengalaman waktu kecil
8.
Meragakan tokoh cerita
9.
Menulis cerita
10.
Mengerjakan soal-soal matematika halaman 60
11.
Memperkirakan luas ruang kelas
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-23
Lampiran 13
“TIPS” MEMILIH BENTUK ORGANISASI KELAS YANG SESUAI Tugas yang tidak sesuai dikerjakan kelompok diberikan pada kelompok: misalnya 8 anak menulis satu cerita padahal satu anak yang menulis dan yang lain tidak melakukan apa-apa Satu pertemuan belajar bisa memakai beberapa jenis pengelolaan kelas tergantung dari apa yang diinginkan dari siswa. Pemberian instruksi tugas pada awal pembelajaran harus klasikal karena penting bagi semua anak untuk mendengar hal yang sama Anak perlu membahas ide-ide cerita dalam kelompok karena bertukar pikiran itu penting bagi anak. (memanaskan pikiran kalau ditukar) Menulis cerita/laporan dilakukan perorangan karena penting bagi anak untuk mengekspresikan diri Memberikan umpan balik tentang cerita/laporan yang telah ditulis dilakukan dalam kelompok supaya anak lebih berani mengeluarkan pendapat dan peluangnya juga lebih banyak. Pemindahan kursi untuk kerja kelompok belum berarti bahwa itu sebagai indikator kerja atau belajar kelompok yang efektif Untuk memberikan pengalaman belajar kepada peserta, fasilitator perlu memperhatikan dan praktik langsung tentang penataan kursi, peran setiap anggota kelompok, pengaturan waktu, tugas antar individu untuk menciptakan saling ketergantungan positif antar peserta. Untuk menguatkan pemahaman peserta, perlu diperhatikan dan disampaikan alasan-alasaan pengelompokan.
Lampiran 14 Bahan Pembelajaran Kooperatif
Fasilitator harus menekankan bahwa ini adalah salah satu jenis kerja kelompok, dimana seluruh anggota kelompok terlibat dalam menghasilkan produk tersebut.
1. Menulis cerita kelompok.
a. Setiap anggota kelompok memilih sebuah topik yang menarik untuk membuat cerita secara berkelompok, misalnya gempa bumi di Jakarta, pesawat Garuda mendapat masalah di atas pelabuhan udara Jakarta, semua menteri pemerintah dikejutkan oleh penyakit serius yang misterius, dan lain-lain.
b. Setiap anggota kelompok menulis judul cerita yang mereka pilih serta tiga kalimat pertama untuk mengawali cerita.
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-24
c. Anggota-anggota kelompok memutar cerita mereka ke arah sebelah kiri mereka, dan masing-masing anggota yang menerimanya harus melanjutkan cerita yang ada di hadapan mereka. Masing-masing memiliki waktu dua menit untuk membaca dan menulis.
d. Jika sudah selesai, kelompok berbagi cerita dan memilih salah satu cerita untuk dibacakan di kelompok.
Perluasan / kegiatan tambahan: Anggota-anggota kelompok menyunting cerita tersebut untuk memangkas panjangnya dan meningkatkan kualitas ceritanya.
Peran dalam kelompok:
Ketua: Harus menerangkan kegiatan-kegiatan, berusaha agar kelompok tetap terlibat dalam tugas. Membantu membuat keputusan.
Penjaga waktu: Harus memberitahu anggota kelompok untuk saling bertukar dan melanjutkan cerita setiap dua menit. Ketika ceritanya berkembang kian panjang, si penjaga waktu bisa menambah menjadi tiga menit, untuk memberi waktu membaca ulang dan menulis.
Pelapor: membaca cerita yang dipilih di kelompok tersebut.
2. Merumuskan Pertanyaan secara Kooperatif
a. Tiap kelompok diberi sebuah artikel/bacaan, satu kopi tiap anggota kelompok jika mungkin;
b. Secara perorangan, anggota merumuskan 5 pertanyaan, berkaitan dengan artikel tersebut, 1 pertanyaan pada sehelai pita kertas; kemudian menempatkannya di tengah meja. Peserta harus merumuskan pertanyaan yang baik dan bervariasi, misal meliputi pertanyaan tingkat rendah dan tinggi serta tertutup dan terbuka, seperti yang telah dipelajari pada sesi “keterampilan bertanya”;
c. Setelah terkumpul, kelompok mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan itu dan memilih satu bila ada yang sama. Kelompok harus memutuskan/memilih 10 pertanyaan seakan-akan untuk lembar kerja bagi siswa berkaitan dengan artikel itu. Kelompok harus mendiskusikan pertanyaan mana yang harus dipertahankan dan mana yang dibuang dengan alasan apa;
d. Bila 10 pertanyaan sudah diputuskan untuk dipilih, tulis pertanyaan itu pada kertas lebar sebagai hasil kelompok. Di kelas, pertanyaan dan artikel itu dapat diberikan kepada kelompok lain untuk dijawab;
Peran dalam Kelompok
Ketua: menjelaskan tugas, mengawasi anggota agar tetap bekerja. 1 halaman kertas kosong di potong-potong menjadi 8 potongan panjang
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-25
Pemimpin diskusi: memimpin diskusi tetapi tidak mengambil keputusan. Mengontrol anggota sehingga masing-masing memberi komentar dan memiliki kesempatan utk berbicara.
Pencatat: menulis 10 pertanyaan terpilih.
Bagaimana kegiatan ini diterapkan di kelas?
Lampiran 15, Bahan untuk Menyusun Pertanyaan Secara Kooperatif
KISAH SUARSIH
Oleh :
Zackir El Makmur
Almarhum Pak Haji Metong mempunyai 8 rumah kontrakan. Setiap rumah terdiri dari 3 kamar dan dikontrakkan tiap bulannya Rp. 65.000,- Suarsih, bersama anaknya berusia satu setengah tahun, tinggal di salah satu rumah itu. Sambil mengasuh anaknya, ia membuka warung makanan dan jajan goreng-gorengan. Hasilnya lumayanlah, bisa membeli susu untuk anaknya.
Tetapi kini, sejak Pak Haji Metong meninggal dua bulan lalu, istrinya menjual semua rumah, termasuk rumah inti yang ditempati keluarga tersebut. Pembelinya, orang Kampung Baru yang biasa dipanggil Bu Tati. Halaman rumah Bu Tati yang luas dan berpagar tinggi empat meter, yang berada persis di samping rumah Pak Haji Metong itu, karuan saja bertambah luas.
Penduduk kampung banyak yang memuji-muji kekayaan Bu Tati, tetapi semua orang belum pernah melihatnya karena dia sealu mengendarai mobil mewah dengan kaca gelap.
Suarsih tidak peduli siapa pemilik rumah kontrakan itu. Toh buatnya, tetap saja ia bakal menunaikan kewajibannya membayar uang kontrakan, dan dia ia bisa menempatinya dengan nyaman. Dengan berdagang kecil-kecilan di rumah kontrakan ini, dia bisa merawat Anto dengan lebih tertib daripada waktu dia masih menjadi buruh cuci. Juga bisa menyambut sang suami yang kadang pulang, kadang gilir ke rumah istri tuanya.
Pokoknya, rumah dalam pengertian Suarsih adalah semacam sarang menenteramkan. Tidak peduli sekalipun rumah itu rombeng atau rumah kontrakan. Pengertian Suarsih memang kelewat sederhana. Sebab ia tahu betul bahwa tinggal di Jakarta kalau mau dapat lingkungan rumah mentereng harus punya duit banyak. Tanpa itu cuma mimpi
Kadang-kadang, Suarsih juga sempat mengkhayal, seandainya ia jadi Bu Tati. Rumah gedong, pembantunya empat, mau apa saja tinggal bilang, segalanya ada yang melayani dan tersedia, dan dipuji-puji warga. Ketika sadar, segera ditepiskan khayalannya itu. Dia sudah cukup bersyukur dapat menempati rumah kontrakan yang sangat sederhana.
UNIT 4: DESAIN PEMBELAJARAN PAKEM
4-26
Tetapi, kenyamanan dan kebahagiaannya itu hanya sekejap. Sebab, apa yang semula Suarsih anggap bahwa siapa pun pemilik rumah kontrakan yang ia tempati itu tidak akan mengusik keadaannya, ternyata keliru. Bu Tati pemilik baru rumah-rumah kontrakan itu mau meratakannya karena akan membangun taman dan kolam renang di situ. Semua penghuni rumah kontrakan itu menjadi gelisah dan risau.
“Kenapa risau? Cari saja tempat lain.” Ujar Bu Tati enteng saja. Suarsih cuma tarik nafas. Baru kali ini dia bertemu muka dengan orang yang namanya di puji-puji orang sekampung itu.
“Setidaknya saya butuh waktu, Bu”, jelas Suarsih pelan.
“Secepatnya sajalah”, gampang saja Bu Tati berkata.
“Baik, Bu,” jawabnya pelan.
Sambil menggendong anaknya Suarsih menelusuri wilayah itu untuk mencari rumah kontrakan baru. Semua tempat yang banyak rumah kontrakan ia datangi. Tidak ada yang cocok, yang sesuai dengan kemampuannya. Dan hal ini membuatnya makin risau saja. Apalagi Bu Tati mendesak terus menyuruh pindah karena ia dianggap mengulur-ulur waktu saja.

10 Cara Meningkatkan Inovasi

10 Cara Meningkatkan Inovasi

Diterbitkan 10 Desember 2008 manajemen pendidikan 7 Comments

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/12/10/10-cara-meningkatkan-inovasi/

Untuk menghadapi dinamika perubahan dan kompetisi yang sangat tajam dan ketat dan demi keberangsungan hidup organisasi itu sendiri, maka setiap orang dalam organisasi dituntut untuk dapat berfikir dan bertindak secara inovatif. Paul Sloane dalam sebuah tulisannya mengetengahkan 10 cara untuk meningkatkan inovasi dalam suatu organisasi, yakni:
1. Memiliki visi untuk berubah
Jangan berharap suatu tim akan menjadi inovatif apabila mereka tidak mengetahui tujuan yang hendak dicapai ke depan. Inovasi harus memiliki tujuan dan seorang pemimpin harus mampu menyatakan dan mendefinisikan tujuan secara jelas sehingga setiap orang dapat memahami dan mengingatnya. Para pemimpin besar banyak meluangkan waktu untuk menggambarkan dan menjelaskan visi, tujuan dan tantangan masa depan kepada setiap orang . Mereka berusaha meyakinkan setiap orang akan peran pentingnya dalam upaya mencapai visi dan tujuan, serta dalam menghadapi berbagai tantangan. Mereka mengilhami kepada setiap orang untuk menjadi enterpreneur yang bersemangat dan menemukan cara-cara yang inovatif untuk memperoleh kesuksesan.
2. Memerangi ketakutan akan perubahan
Para pemimpin inovatif senantiasa mengobarkan semangat pentingnya perubahan. Mereka berusaha menggantikan kepuasan atas kemapanan yang ada dengan kehausan akan ambisi. Mereka akan berkata, ” Saat ini kita memang sedang melakukan hal yang baik, tetapi kita tidak boleh berhenti dan berpuas diri dengan kemenangan yang ada, kita harus melakukan hal-hal yang lebih baik lagi”. Mereka menyampaikan pula bahwa saat ini kita sedang melakukan suatu spekulasi baru yang penuh resiko, dan jika kita tidak bergerak maka akan jauh lebih berbahaya. Mereka memberikan gambaran menarik tentang segala sesuatu yang hendak diraih pada masa mendatang. Oleh karena itu, satu-satunya cara menuju ke arah sana yaitu dengan berusaha memeluk perubahan.
3. Berani mengambil Resiko
Seorang pemodal yang berani mengambil resiko akan menggunakan pendekatan portofolio, berusaha mencari keseimbangan antara kegagalan dengan kesuksesan. Mereka senang mempertimbangkan berbagai usulan atau gagasan tetapi tetap merasa nyaman dengan berbagai pemikiran yang menggambarkan tentang kegagalan-kegagalan yang mungkin akan diterima.
4. Memiliki Rencana Usulan yang Dinamis
Anda harus memfokus pada rencana usulan yang benar-benar hebat, setiap rencana mudah dilaksanakan, sumber tersedia dengan baik, responsif dan terbuka untuk semuanya. Berikan penghargaan dan respons yang wajar kepada karyawan serta para senior harus memliki komitmen agar karyawan tetap dapat menjaga kesegarannya dalam melaksanakan setiap pekerjaan.
5. Mematahkan Aturan
Untuk mencapai inovasi yang radikal, Anda harus memiliki keberanian manantang berbagai asumsi aturan yang ada di sekitar lingkungan. Bisnis bukan seperti permainan olah raga yang selalu terikat dengan aturan dan keputusan wasit, tetapi bisnis tak ubahnya seperti seni, yang di dalamnya memiliki banyak kesempatan untuk berfikir secara lateral, sehingga mampu menciptakan cara-cara baru tentang aneka benda dan jasa yang diinginkan para pelanggan.
6. Beri Setiap Orang Dua Pekerjaan
Berikan setiap orang dua pekerjaan pokok. Mintalah kepada mereka untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari mereka secara efektif dan pada saat yang bersamaan kepada mereka diminta pula untuk menemukan cara-cara baru dalam melaksanakan pekerjaannya. Doronglah mereka untuk bertanya pada diri sendiri tentang apa sebenarnya tujuan esensial dari peran saya? Hasil dan nilai riil apa yang bisa saya berikan kepada klien saya, baik internal maupun eksternal? Apakah ada cara yang lebih baik untuk memberikan dan mencapai nilai atau tujuan tersebut? Dan jawabannya selalu mengatakan “YA”. Tetapi, kebanyakan orang tidak pernah atau jarang menanyakan hal-hal seperti itu.
7. Kolaborasi
Beberapa eksekutif perusahaan memandang kolaborasi sebagai kunci sukses dalam inovasi. Mereka menyadari bahwa tidak semua dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan pada sumber-sumber internal. Oleh karena itu, mereka melihat dunia luar dan mengajak organisasi lain sebagai mitra, sehingga bisa saling bertukar pengalaman dan keterampilan dalam team.
8. Siap Menerima kegagalan
Pemimpin inovatif mendorong terbentuknya budaya eksperimen. Setiap orang harus dibelajarkan bahwa setiap kegagalan merupakan langkah awal dari perjalanan jauh menunju kesuksesan. Untuk menjadi orang benar-benar cerdas dan tangkas, setiap orang harus diberi kebebasan berinovasi, bereksperimen dan memperoleh kesuksesan dalam melakukan pekerjaannya, termasuk didalamnya mereka juga harus diberi kebebasan akan kemungkinan terjadinya kegagalan.
9. Membangun prototipe
Anda harus berani mencobakan suatu ide baru yang biaya dan resikonya relatif rendah ke dalam pasar (dunia nyata), kemudian lihat apa reaksi dari pelanggan dan orang-orang. Di sana sesungguhnya Anda akan lebih banyak belajar tentang dunia nyata, dibandingkan jika Anda hanya melakukan uji coba dalam laboratorium atau terfokus pada sekelompok orang saja.
10. Bersemangat
Anda harus fokus terhadap segala sesuatu yang ingin dirubah. Siap dan senantiasa bergairah dan bersemangat dalam menghadapi dan menanggulangi berbagai tantangan. Energi dan semangat yang Anda miliki akan menular dan mengilhami setiap orang. Tak ada gunanya jika Anda mengisi bus dengan penumpang yang selalu merasa asyik dengan dirinya sendiri. Anda membutuhkan dan menghendaki orang-orang dan para pendukung Anda dengan semangat yang berkobar-kobar. Anda mengharapkan setiap orang dapat meyakini bahwa upaya mencapai tujuan merupakan sesuatu yang amat penting dan bermanfaat.
Jika Anda menghendaki setiap orang dapat terinpirasi untuk menjadi inovatif, merubah cara-cara yang biasa mereka lakukan, dan untuk mencapai hasil yang luar biasa, maka Anda mutlak harus memiliki semangat yang menyala-nyala tentang apa yang Anda yakini dan Anda harus dapat mengkomunikasikannya setiap saat ketika Anda berbicara dengan orang.
*)) terjemahan bebas dari tulisan Paul Sloane, pengarang The Innovative Leader, yang berjudul “Ten Ways to Boost Innovation” dipublikasikan oleh Kogan Page. http://www.director.co.uk

Filsafat Pendidikan

PENGERTIAN FILSAFAT

Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan

Ciri-ciri berfikir filosfi :

  1. Berfikir dengan menggunakan disiplin berpikir yang tinggi.
  2. Berfikir secara sistematis.
  3. Menyusun suatu skema konsepsi, dan
  4. Menyeluruh.

Empat persoalan yang ingin dipecahkan oleh filsafat ialah :

  1. Apakah sebenarnya hakikat hidup itu? Pertanyaan ini dipelajari oleh Metafisika
  2. Apakah yang dapat saya ketahui? Permasalahan ini dikupas oleh Epistemologi.
  3. Apakah manusia itu? Masalah ini dibahas olen Atropologi Filsafat.

Beberapa ajaran filsafat yang telah mengisi dan tersimpan dalam khasanah ilmu adalah:

  1. Materialisme, yang berpendapat bahwa kenyatan yang sebenarnya adalah alam semesta badaniah. Aliran ini tidak mengakui adanya kenyataan spiritual. Aliran materialisme memiliki dua variasi yaitu materialisme dialektik dan materialisme humanistis.
  2. Idealisme yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau intelegesi. Variasi aliran ini adalah idealisme subjektif dan idealisme objektif.
  3. Realisme. Aliran ini berpendapat bahwa dunia batin/rohani dan dunia materi murupakan hakitat yang asli dan abadi.
  4. Pragmatisme merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak bersikap mutlak (absolut) tidak doktriner tetapi relatif tergantung kepada kemampuan minusia.

Manfaat filsafat dalam kehidupan adalah :

  1. Sebagai dasar dalam bertindak.
  2. Sebagai dasar dalam mengambil keputusan.
  3. Untuk mengurangi salah paham dan konflik.
  4. Untuk bersiap siaga menghadapi situasi dunia yang selalu berubah.

FILSAFAT PENDIDIKAN

Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.

Beberapa aliran filsafat pendidikan;

  1. Filsafat pendidikan progresivisme. yang didukung oleh filsafat pragmatisme.
  2. Filsafat pendidikan esensialisme. yang didukung oleh idealisme dan realisme; dan
  3. Filsafat pendidikan perenialisme yang didukung oleh idealisme.

Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks.  Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

ESENSIALISME DAN PERENIALISME
Esensialisme berpendapat bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela yang mengatur dunia beserta isinya dengan tiada cela pula. Esensialisme didukung oleh idealisme modern yang mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam semesta tempat manusia berada.

Esensialisme juga didukung oleh idealisme subjektif yang berpendapat hahwa alam semesta itu pada hakikatnya adalah jiwa/spirit dan segala sesuatu yang ada ini nyata ada dalam arti spiritual. Realisme berpendapat bahwa kualitas nilai tergantung pada apa dan bagaimana keadaannya, apabila dihayati oleh subjek tertentu, dan selanjutnya tergantung pula pada subjek tersebut.

Menurut idealisme, nilai akan menjadi kenyataan (ada) atau disadari oleh setiap orang apabila orang yang bersangkutan berusaha untuk mengetahui atau menyesuaikan diri dengan sesuatu yang menunjukkan nilai kepadanya dan orang itu mempunyai pengalaman emosional yang berupa pemahaman dan perasaan senang tak senang mengenai nilai tersehut. Menunut realisme, pengetahuan terbentuk berkat bersatunya stimulus dan tanggapan tententu menjadi satu kesatuan. Sedangkan menurut idealisme, pengetahuan timbul karena adanya hubungan antara dunia kecil dengan dunia besar. Esensialisme berpendapat bahwa pendidikan haruslah bertumpu pada nilai- nilai yang telah teruji keteguhan-ketangguhan, dan kekuatannya sepanjang masa.

Perenialisme berpendirian bahwa untuk mengembalikan keadaan kacau balau seperti sekarang ini, jalan yang harus ditempuh adalah kembali kepada prinsip-prinsip umum yang telah teruji. Menurut. perenialisme, kenyataan yang kita hadapi adalah dunia dengan segala isinya. Perenialisme berpandangan hahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sesuatu dinilai indah haruslah dapat dipandang baik.

Beberapa pandangan tokoh perenialisme terhadap pendidikan:

  1. Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal (Plato)
  2. Perkemhangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya ( Aristoteles)
  3. Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. (Thomas Aquinas)

Adapun norma fundamental pendidikan menurut  J. Maritain adalah cinta kebenaran, cinta kebaikan dan keadilan, kesederhanaan dan sifat terbuka terhadap eksistensi serta cinta kerjasama.

Pengertian Filsafat
Secara terminologis filsafat adalah suatu pemikiran yang rasional dalam usaha mendapatkan suatu gambaran yang menyeluruh dalam upaya untuk mendapatkan suatu kebenaran.
Obyek Filsafat
1.Obyek Material
Kajian filsafat yang “ada”, kongkrit-abstrak, maujud-tidak maujud, materil immaterial, phisik-non phisik
2.Obyek formal
Sudut pandang filsafat dalam mengkaji obyek immaterialnya, yaitu:
Sudut Antologi
Merupakan hakekat segala sesuatu membicarakan subtansi, esensi dan realita yang tertuang dalam beberapa aliran yaitu aliran idealisme (bahwa kenyataan adalah ide, segala sesuatu berasal dari ide), materialisme (bahwa kenyataan adalah materi, materialisme merupakan bentuk natural), dan pluralisme (bahwa kenyataan itu banyak, tetapi mempunyai hubungan satu sama lain) Sunoto(2000:22-23).
Selain itu ontology juga membahas tentang masalah “kebendaan” sesuatu yang dapat dilihat dan dibedakan secara empiris (kasat mata) , misalnya tentang keberadaan alam semesta, makhluk hidup,atau tata surya.
.(http://id.wikipedia.org/wiki/filsafat)
Sudut Epistemologi
Menurut Popper epistemology memperjuangkan pengetahuan didasarkan oleh rasionalisme dalam arti luas yaitu belajar dari kesalahan dan terbuka untuk kerja sama mendekati kebenaran. Sehingga rasionalis yang fundamental merupakan hasil dari suatu tindakan kepercayaan pada akal sebagai basis kesatuan manusia (1989:156)
Menurut Kaelan, epistemology adalah cabang filsafat yang membahas tentang hakekat pengetahuan manusia, yaitu tentang sumber, watak, dan kebenaran pengetahuan (2002:28)
Sudut Aksiologi
Aksiologi adalah tema yang membahas tentang masalah nilai atau norma sosial yang berlaku pada kehidupan manusia.
.(http://id.wikipedia.org/wiki/filsafat)

Ciri-ciri Berfilsafat
1.kritis
mempertanyakan segala sesuatu permasalahan yang dihadapi manusia.
2.terdalam
tidak hanya sampai pada fakta-fakta yang khusus dan empiris tetapi sampai pada inti yang terdalam yaitu subtansinya bersifat universal. Kaelan(2002:13)
3.konseptual
tidak hanya pada persepsi belaka tapi sampai pada pengertian yang bersifat konseptual.
4.koheren
berfilsafat yang berusaha menyusun suatu bagan secara runtut.misalnya A B C D E F G, dst
5.rasional
sesuai dengan nalar , hubungan logis antara bagian bagan konseptual.
6.menyeluruh
pemikiran yang tidak hanya berdasarkan pada fakta yaitu tudak sampai pada kesimpulan khusus tetapi sampai pada kisimpulan yang paling umum.
7.universal
sampai pada kesimpulan yang paling umum bagi seluruh umat manusia dimanapun. Kapanpun dan dalam keadaan apapun.
8.spekulatif
pengajuan dugaan-dugaan yang masuk akal (rasional) yang melampaui batas-batas akal
9.sistematis
ada hubungan antar unsure ysng runtut tetapi rasional inlah yang dimaksud sistematis.
10.bebas
berfikir secara bebas untuk sampai pada kakekat yang terdalam dan universal.

Sifat-sifat Dasar Filsafat
1.mempunyai tingkat keumumamn yang tinggi
2.tidak faktawi
3.berkaitan dengan makna
4.berkaitan dengan nilai
5.mencengangkan
6.implikatif

Metode Filsafat
1.Metode Analisis
Menguji,menguraikan, menilai, mendiskripsikan suatu kajian dengan sangat teliti
2.Metode Sintensis
Pernyataan-pernyataan yang berserakan dijadikan satu
3.Metode Analitiko-Sistensis
Gabungan antara metode analisis dan sintesis dengan melakukan perincian terhadap istilah/pernyataan. Kemudian mengumpulkan kembali suatu islitah/ pengetahuan- pengetahuan itu untuk menyusun suatu rumusan umum.
4.metode Dialog Sokrates
dialog antara dua pendirian yang berbeda metode dasar untuk menyelidiki filsafat.

~~~ Pengertian filsafat

TIGA KATEGORI BELAJAR FILSAFAT
• HISTORIS – berdasar kurun waktu tertentu
• SISTEMATIS – spesialisasi cabang-cabang filsafat
• PRINSIP-PRINSIP FILSAFAT – pola yang Digunakan/ mengkritisi.

MENGASAH FILSAFAT
• Diskusi, Mailing List, dsb
• Studi Literatur (Topik & Tokoh)
• Hadap Masalah
• Permenungan
• Menulis
• Mengajar

ARTI SEMANTIK FILSAFAT

Filsafat (mater scientiarum) induk segala ilmu (cat. > dulu),

• Kelahiran Filsafat di Yunani Kuno (di Miletos) 6 SM Kemenangan akal atas mite Thales (Father of Philosophy): Arche Air,

Filsafat (Ina) = Falsafah (Arab) = Philosophy (Ing) = Philosophia (Latin) = Philosophie (Jerman, Belanda, Prancis) Philosophia (Yunani

• Philosophia philein (mencintai) + sophos (bijaksana), philos (teman) + sophia (kebijaksanaan)

• Pythagoras (572-497 SM) “philosophos” (lover of wisdom),

• Filosof bukan orang yang sudah mencapai & memiliki kebenaran, tetapi   selalu mengejar & mencintai kebenaran,

• Berfilsafat berarti berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh,

Filsafat merupakan ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu,

• Dengan filsafat, manusia berusaha menangkap makna, hikmah dari tiap pemikiran, realitas, dan kejadian,

Filsafat mengantarkan manusia untuk lebih jernih dan bijaksana dalam berpikir, bersikap, berkata, dan berbuat.

Terminologi filsafat

Immanual Kant:

filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu: apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika); apakah yang dapat kita kerjakan? (dijawab oleh etika);

sampai di manakah pengharapan kita? (dijawab oleh antropologi)

Filsafat adalah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami atau mendalami secara radikal dan integral serta sistematis hakikat sarwa yang ada, yaitu: hakikat tuhan, hakikat alam semesta, dan hakikat manusia, serta sikap manusia sebagai konsekuensi dari paham tersebut.

Filsafat: kegiatan/hasil pemikiran/permenungan yang menyelidiki sekaligus mendasari segala sesuatu yang berfokus pada makna di balik kenyataan/teori yang ada untuk disusun dalam sebuah sistem pengetahuan rasional….

Permenungan Kefilsafatan: percobaan utk menyusun sebuah sistem pengetahuan rasional yang memadai utk memahami dunia maupun diri sendiri.

Berpikir didefinisikan sebagai kemampuan manusia untuk mencari arti bagi realitas yang muncul di hadapan kesadarannya dalam pengalaman dan pengertian

Berfikir dalam filsafat

Rasional: tahu & paham dengan akal budi

Logis:tahu & paham dengan teknik berpikir yang telah ditetapkan dalam

aturan logika formal, yakni menyusun silogisme-silogisme dengan         tujuan mendapatkan kesimpulan yang tepat dengan menghilangkan setiap kontra diksi.

Dialektik: menetapkan tesis dan antitesis dengan tujuan mendapat sintesis

dengan mengaktifkan kontradiksi.

Intuisi: diutamakan kemampuan inventif, mendapat pengetahuan segera

tanpa terlalu mempedulikan prosedur atau langkah untuk sampai    pada kepada pengetahuan tersebut.

Taksonomi: susun klasifikasi dengan tujuan menyederhanakan kenyataan

dan gejala dalam kategori.

Simbolisme: lihat gejala sbg lambang dg tujuan mengerti apa yang dilamBangkan.

FILSAFAT BISA BERUPA…
(1)Sikap,
(2)Metode berpikir,
(3) Kel. persoalan,
(4) Kel. Teori
(5) Analisa bahasa/Istilah,
(6) Pemahaman yg menyeluruh
atau
Pandangan
Hidup


FILSAFAT-FILSAFAT KHUSUS

1. Filsafat Politik
2. Filsafat Ekonomi
3. Filsafat Kebudayaan
4. Filsafat Pendidikan
5. Filsafat Hukum
6. Filsafat Bahasa
7. Filsafat Seni
8. Filsafat Ilmu
9. …dll

OBJEK FILSAFAT

• Objek Material : Segala sesuatu yang ada

1. Tipikal / sungguh-sungguh ada

2. Dalam kemungkinan

3. Dalam pikiran/konsep

• Objek Formal : Hakikat terdalam / substansi / esensi / intisari Ketr.

O.M. = Sesuatu hal yg dijadikan sasaran pemikiran (Gegenstand), yg  diselidiki, yg dipelajari.

O.F. = Cara memandang, meninjau, seorang peneliti terhadap OM-nya  serta prinsip-prinsip yang digunakan.

OF. = Memberi keutuhan suatu ilmu Membedakannya dengan bidang ilmu  lain,

1 OM = sekian OF

CIRI-CIRI PERSOALAN FILSAFAT
• Bersifat sangat umum (tak bersangkutan dg objek2 (khusus),
• Spekulatif, tak langsung menyangkut fakta (non- faktawi),
• Bersangkutan dg nilai-nilai (kualitas abstrak yg ada pd suatu hal),
• Bersifat kritis, thd konsep dan arti2 yg biasanya diterima bgt saja oleh ilmu
• Besifat sinoptik: mencakup struktur kenyataan scr keseluruhan,
• Bersifat implikatif: jawaban suatu persoalan memunculkan persoalan baru yg saling berhubungan,
• Bersifat teoritik: lebih pada tindak reflektif, non-praktis.

CIRI-CIRI PEMIKIRAN FILSAFAT
• Bersifat radikal (sampai ke akar-akarnya, sampai pd hakikat/esensi),
• Sistematis (adanya hub. fungsional antara unsur2 utk  mencapai tujuan ttt),
• Berpikir ttg hal/proses umum, universal, ide2 besar, bukan ttg peristiwa tunggal,
• Konsisten/runtut (tak terdapat pertentangan di dalamnya) dan koheren (sesuai dg kaidah2 berpikir, logis),
• Secara bebas, tak cenderung bias prasangka, emosi. Kebebasan ini berdisiplin (berpegang pd prinsip2 pemikiran logis serta tanggung jawab pd hati nurani sendiri)
• Berusaha memperolah pandangan komprehensif/menyeluruh.
• Secara konseptual hasil generalisir (perumuman) dan abstraksi dr pengalaman ttg hal2 serta proses2 individual melampaui batas pengalaman hidup sehari2,

SIFAT  FILSAFAT

  • Punya tingkat keumuman yang tinggi
  • Tidak faktawi
  • Berkaitan dengan makna
  • Mencengangkan
  • Implikatif
  • Berkaitan dengan nilai

TUJUAN & MANFAAT FILSAFAT
• Mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, mengajukan  kritik & menilai pengetahuan ini, menemukan hakikatnya & menerbitkan serta mengatur semua itu dlm bentuk yg sistematis.
• Bukan Problem Solving, tetapi memberi kejernihan dalam berpikir tentang  sesuatu, memetakan secara komprehensif & radikal. Dengan filsafat, manusia mampu menghindar dari arogansi “akulah yang benar”, dogmatisme kepercayaan.

Melalui filsafat semua argumen diakui sama potensinya dalam meraih kebenaran.
• Para filosof tampak selalu gelisah, “semakin banyak tahu semakin merasa banyak yang belum diketahui”. Kebenaran, kebahagiaan, keadilan, keindahan, nilai-nilai itu selalu dalam proses & debatable, tak pernah finish tergenggam..! subjektif

Filsafat membicarakan fakta dengan 2 cara:

• mengajukan kritik atas makna yg dikandung fakta “sungguh finalkah kebenaran faktawi bahwa tangan itu materi padat?”

• menarik kesimpulan yg bersifat umum dari fakta “kebenaran bisa ganda: tangan materi padat sekaligus gelombang tak kasat mata”

JENIS-JENIS PERSOALAN FILSAFAT

Keberadaan (being) atau eksistensi (exixtence) cab. Metafisika Pengetahuan (knowledge) atau kebenaran (truth)cab. Epistemologi & Logika Nilai-Nilai (values)cab. Etika (kebaikan) & Estetika (keindahan)

METAFISIKA

Merupakan studi terdalam dari kenyataan/keberadaan Persoalan Ontologis

Makna dan penggolongan “ada”, “eksistensi”. Sifat dasar kenyataan persoalan Kosmologis. Asal mula, perkembangan, struktur/susunan alam

Hubungan kausalitas Permasalahan ruang dan waktu Persoalan Antropologis

• Hubungan tubuh dan jiwa

• Kesadaran, kebebasan

EPISTEMOLOGI

Pelajari asal/sumber, struktur, metode, & validitas pengetahuan

Theory of knowledge, Episteme = pengetahuan + logos = ilmu

Apa yang dapat saya ketahui?

Bagaimana manusia dapat mengetahui sesuatu?

Perbedaan pengetahuan apriori dengan aposteriori?

LOGIKA

Ilmu, kecakapan, alat untuk berpikir secara lurus

Logos = nalar, kata, teori, uraian, ilmu

OM = pemikiran

OF = kelurusan berpikir

Pengertian, putusan, penyimpulan, silogisme

Bagaimana manusia berpikir secara lurus?

Perbedaan logika material dan formal

Penerapan logika induksi dan deduksi

Macam-macam sesat pikir

ETIKA

Filsafat Moral

Ethos = watak; Mores = kebiasaaan; kesusilaan

OM = perilaku secara sadar dan bebas;

OF = baik dan buruk

Syarat baik-buruknya perilaku

Hubungan kebebasan berkehendak dengan perbuatan susila

Kesadaran moral, hati nurani

Pertimbangan moral dan pertimbangan yang bukan moral

ESTETIKA

Filsafat Keindahan

Estetika berasal dari kata Yunani aisthesis = cerapan indera

Arti keindahan Subjektivitas, objektivitas, dan ukuran keindahan

Peranan keindahan dalam kehidupan Hubungan keindahan dengan kebenaran.

ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT

1. Persoalan Keberadaan.

A. Dari segi jumlah

Monisme = satu kenyataan fundamental

Dualisme = dua substansi

Pluralisme = banyak substansi

B. Dari Segi Kualitas

spiritualisme = roh idealisme

Materialisme = materi

C. Dari Segi Proses, Kejadian/Perubahan

Mekanisme = asas-asas mekanik

Teleologi = alam diarahkan ke suatu tujuan

Vitalisme = kehidupan tidak semata-mata fisik-kimiawi

Organisisme = hidup adl struktur dinamis, sistem yg teratur

2. Persoalan Pengetahuan.

A. Sumber

Rasionalisme = akal deduksi

Empirisme = indera

Realisme = objek nyata dalam dirinya sendiri

Kritisisme = Pengamatan indera dan Pengolahan akal.

B. Hakikat

Idealisme = proses mental/psikologis subjektif

Empirisme = pengalaman

Positivisme = pengetahuan faktawi

Pragmatisme = guna pengetahuan

2. Persoalan Etika/Nilai-Nilai

Idealisme etis – ideal

Deontologisme etis – kewajiban

Etika Teleologis = tujuan

Hedonisme = kenikmatan

Utilitarisme = Kebahagiaan sebesar2nya utk man sebanyak2nya.

Hubungan filsafat dengan ilmu

  • Perbedaannya, filsafat dengan metodenya mampu mempertanyakan

keabsahan dan kebenaran ilmu, sedangkan ilmu tidak

mempertanyakan asumsi, kebenaran, metode, dan keabsahannya

sendiri.

  • Ilmu lebih bersifat ekslusif, menyelidiki bidang-bidang yang

terbatas, sedangkan filsafat lebih bersifat inklusif.

Dengan demikian filsafat berusaha mendapatkan pandangan yang

lebih komprehensif tentang fakta-fakta.

  • Ilmu dalam pendekatannya lebih bersifat analitik dan deskriptif:

menganalisis keseluruhan unsur-unsur yang mnjadi bagian

kajiannya, sedangkan filsafat lebih sintetik atau sinoptik menghadapi

objek kajiannya sebagai keseluruhan.

Filsafat berusaha mencari arti fakta-fakta. Jika ilmu condong menghilangkan faktor-faktor subjektivitas dan

menganggap sepi nilai-nilai demi menghasilkan objektivitas, maka filsafat mementingkan personalitas, nilai-nilai dan bidang pengalaman

keduanya tumbuh dari sikap refleksif, ingin tahu, dan dilandasi kecintaan pada

Kebenaran

  • Filsafat itu tidak salah satu ilmu di antara ilmu-ilmu lain. “Filsafat itu pemeriksaan

(‘survey‘) dari ilmu-ilmu, dan tujuan khusus dari filsafat itu menyelaraskan ilmu-ilmu dan melengkapinya.”

  • Filsafat mempunyai dua tugas: menekankan bahwa abstraksi-abstraksi dari ilmu-

ilmu betul-betul hanya bersifat abstraksi (maka tidak merupakan keterangan yang

menyeluruh), dan melengkapi ilmu-ilmu dengan cara ini: membandingkan hasil

ilmu-ilmu dengan pengetahuan intuitif mengenai alam raya, pengetahuan yang

lebih konkret, sambil mendukung pembentukan skema-skema berpikir yang lebih

menyeluruh.

  • Hubungan ilmu dengan filsafat bersifat interaksi. Perkembangan-perkembangan

ilmiah teoritis selalu berkaitan dengan pemikiran filsafati, dan suatu perubahan

besar dalam hasil dan metode ilmu tercermin dalam filsafat. Ilmu merupakan

masalah yang hidup bagi filsafat. Ilmu membekali filsafat dengan bahan-bahan

deskriptif dan faktual yang sangat perlu untuk membangun filsafat. Tiap filsafat

dari suatu periode condong merefleksikan pandangan ilmiah di periode itu. Ilmu

melakukan cek terhadap filsafat dengan membantu menghilangkan ide-ide yang

tidak sesuai dengan pengetahuan ilmiah. Sedangkan filsafat memberikan kritik

tentang asumsi dan postulat ilmu serta analisa kritik tentang istilah-istilah yang

dipakai

  • Filsafat dapat memperlancar integrasi antara ilmu-ilmu yang dibutuhkan.
    Searah dengan spesialisasi ilmu maka banyak ilmuwan yang hanya
    menguasai suatu wilayah sempit dan hampir tidak tahu menahu apa yang
    dikerjakan di wilayah ilmu lainnya. Filsafat bertugas untuk tetap
    memperhatikan keseluruhan dan tidak berhenti pada detil-detilnya.
    Filsafat adalah meta ilmu, refleksinya mendorong peninjauan kembali ide-
    ide dan interpretasi baik dari ilmu maupun bidang-bidang lain.
    Filsafat pada masa-masa awal kelahirannya dianggap sebagai mater
    scientiarum
    , induknya ilmu. Seiring dengan spesialisasi ilmu sampai dengan
    akhir-akhir ini, kekhususan setiap ilmu menimbulkan batas-batas yang tegas
    antara masing-masing ilmu. Tidak ada bidang pengetahuan lain yang
    menjadi penghubung ilmu-ilmu yang terpisah itu. Di sinilah filsafat
    berusaha mengatasi spesialisasi dengan mengintegrasikan masing-masing
    ilmu dan/dengan merumuskan pandangan hidup yang didasarkan atas
    pengalaman kemanusiaan yang luas.

HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN SENI
• Seni dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan manusia yang menjelajahi dan menciptakan realitas baru serta menyajikannya secara kiasan. Manusia membutuhkan seni, sebagaimana manusia membutuhkan filsafat dan ilmu,
karena melalui seni manusia dapat mengekspresikan dan menanamkan apresiasi dalam pengalamannya.
• Seni tidak bertujuan untuk mencari pengetahuan dan pemahaman sebagaimana filsafat, juga bukan seperti ilmu yang bertujuan mengadakan deskripsi, prediksi,eksperimentasi, dan kontrol, tetapi seni bertujuan untuk
mewujudkan kreativitas, kesempurnaan, bentuk, keindahan, komunikasi, dan ekspresi.
merupakan sarana manusia untuk “tahu”, dalam arti tahu tentang dirinya sendiri, sesama,alam, maupun Sang Penciptanya untuk kemudian tahu bagaimana bersikap, berbuat, dan bertanggung jawab dalam aneka macam kompleksitas kehidupannya

HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN AGAMA
• Filsafat bukan agama, meskipun banyak juga manusia dari berbagai
belahan dunia yang menjadikan filsafat (dalam arti pandangan hidup)
sebagai agama, misalnya filsafat konfusianisme.
• Tujuan agama lebih dari sekedar pengetahuan, yakni untuk mencari
keharmonisan, keselamatan, dan perdamaian. Agama yang matang
dan kokoh akan mencantumkan latar belakang filsafat dan sekaligus
menimba dan menyaring informasi dari ilmu. Ini diperlukan agama
dalam rangka memberi jawaban komprehensif, integral, dan
berwibawa (dalam arti tidak asal menjawab) terhadap berbagai
pertanyaan dan gugatan.
• Kasus-kasus yang membawa-bawa agama seperti terorisme, tentu
bisa dirunut pada latar belakang filsafat dari agama tersebut, misalnya
bagaimana pandangan agama tersebut terhadap kekerasan, keadilan,
dan kemanusiaan.
• Seperti kata Einstein, tanpa ilmu (dan filsafat), agama akan lumpuh

CIRI SAHNYA ILMU
Memiliki objek atau pokok soal, yakni sasaran dan titik pusat perhatian tertentu.
Bermetode, yakni cara atau sistem dalam ilmu untuk memperoleh kebenaran agar rasional, terarah dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah
Bersistem: mencakup seluruh objek serta aspek- aspeknya sehingga saling berkaitan satu sama lain,
Universal
: keputusan kebenarannya berorientasi sifat keumuman, bukan tunggal,
Verifikatif
: dapat dilacak kebenarannya,
Rasional/objektif
: dapat dipahami dengan akal.

• Ternyata perkembangan ilmu tidak semata-mata mengandalkan rasio atau empiris saja, tetapi merupakan suatu petualangan yang tak habis-habisnya
(an unending adventure)
, yang selalu hadir di ambang ketakpastian (uncertainty)
dan menuntut tindakan keputusan (act of judgment).

• Diperlukan penerobosan (penetration) antara kehidupan berpikir (rasio),
berbuat (pengalaman = empiri), dan intuisi (sebagai pemahaman tertinggi
terhadap
masalah itu sebagai keseluruhan), suatu interpenetrasi yang
interaktif yang melahirkan ilham untuk mewujudkan tindakan kreatif.
• Oleh karena itu, ilmu tidak semata-mata disusun secara logis rasional
(menekankan fungsi akal) atau bersifat empiris (menekankan fungsi
pengalaman/indera) atau rasionalistis kritis (dalam arti Kantian), ataupun
konstruktivistis (penekanan keseluruhan konteks, rasional maupun
empiris), tetapi merupakan sistem terbuka yang dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan kehidupan manusiawi dengan seluruh aspek pembangunan
masyarakat spiritual maupun material ataupun dalam kaitan dengan
konteks ilmu itu sendiri. Tanggung jawab etis kemudian menjadi tuntutannya (dalam hal inilah value bond-nya ilmu dalam konteks aksiologi).
• Bertitik tolak dari hal ini, filsafat ilmu bisa dirumuskan sebagai ilmu yang
berbicara tentang dinamika ilmu pengetahuan itu sendiri, dan bisa disebut
sebagai meta-science yang berarti ilmunya ilmu lainnya
• Sering disebutkan, kesepakatan antara para ilmuwan dan filsuf dengan tegas menunjuk “empiris” sebagai ciri ilmu, baik menyangkut metode, observasi, ataupun analisis yang digunakan ilmu‐ilmu sosial
maupun ilmu‐ilmu alam.

Definisi filsafat

  1. Plato (427SM – 347SM) Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli).
  2. Aristoteles (384 SM – 322SM ) Filsafat adalah ilmua pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).
  3. Marcus Tullius Cicero (106 SM – 43SM) Filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang mahaagung dan usaha-usaha untuk mencapainya.
  4. Al-Farabi (meninggal 950M) Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya
  5. Immanuel Kant (1724 -1804), : Filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu:

” apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika)

” apakah yang dapat kita kerjakan? (dijawab oleh etika)

” sampai di manakah pengharapan kita? (dijawab oleh antropologi)

Prof. Dr. Fuad Hasan, guru besar psikologi UI Filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal, artinya mulai dari radiksnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang hendak dimasalahkan. Dan dengan jalan penjajakan yang radikal itu filsafat berusaha untuk sampai kepadakesimpulan-kesimpulan yang universal.

(UU RI No 20 Tahun 2003) dari defe-nisi pendidikan tersebut, dengan jelas terungkap bahwa pendidikan indonesia adalah pendidikan yang usaha sadar dan terencana, untuk mengembangkan potensi individu demi tercapainya kesejahteraan pri-badi, masyarakat dan negara.

B. Objek filsafat ilmu
1. Objek Material Filsafat Ilmu
Objek material adalah objek yang di jadikan sasaran menyelidiki oleh suatu ilmu, atau objek yang yang di pelajari oleh ilmu itu. Objek material filsafat illmu adalah pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah di susun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga dapat di pertanggung jawabkan kebenarannya secara umum.
2. Objek Formal Filsafat Ilmu
Objek formal adalah sudut pandang dari mana sang subjek menelaah objek materialnya. Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat (esensi) ilmu pengetahuan artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan, seperti apa hakikat ilmu pengetahuan, bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah dan apa fingsi ilmu itu bagi manusia. Problem inilah yang di bicarakan dalam landasan pengembangan ilmu pengetahuan yakni landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis.

A.    LANDASAN PENDIDIKAN

1.     Landasan Filososfis

a.   Pengertian Landasan Filosofis

Landasan filosofis bersumber dari pandangan-pandanagan dalam filsafat pendidikan, meyangkut keyakianan terhadap hakekat manusia, keyakinan tentang sumber nilai, hakekat pengetahuan, dan tentang kehidupan yang lebih baik dijalankan. Aliran filsafat yang kita kenal sampai saat ini adalah Idealisme, Realisme, Perenialisme, Esensialisme, Pragmatisme dan Progresivisme dan Ekstensialisme

1.     ­Esensialisme

Esensialisme adalah mashab pendidikan yang mengutamakan pelajaran teoretik (liberal arts) atau bahan ajar esensial.

2.     Perenialisme

Perensialisme adalah aliran pendidikan yang megutamakan bahan ajaran konstan (perenial) yakni kebenaran, keindahan, cinta kepada kebaikan universal.

3.     Pragmatisme dan Progresifme

Prakmatisme adalah aliran filsafat yang memandang segala sesuatu dari nilai kegunaan praktis, di bidang pendidikan, aliran ini melahirkan progresivisme yang menentang pendidikan tradisional.

4.     Rekonstruksionisme

Rekonstruksionisme adalah mazhab filsafat pendidikan yang menempatkan sekolah/lembaga pendidikan sebagai pelopor perubahan masyarakat.

b.   Pancasila sebagai Landasan Filosofis Sistem Pendidkan Nasional

Pasal 2 UU RI No.2 Tahun 1989 menetapkan bahwa pendidikan nasional berdasarkan pancasila dan UUD 1945. sedangkan Ketetapan MPR RI No. II/MPR/1978 tentang P4 menegaskan pula bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia, dan dasar negara Indonesia.

2.     Landasan Sosiolagis

a.   Pengertian Landasan Sosiologis

Dasar sosiolagis berkenaan dengan perkembangan, kebutuhan dan karakteristik masayarakat.Sosiologi pendidikan merupakan analisi ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiolagi  pendidikan meliputi empat bidang:

1.     Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain.

2.     hubunan kemanusiaan.

3.     Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya.

4.     Sekolah dalam komunitas,yang mempelajari pola interaksi antara    sekolah dengan kelompok sosial lain di dalam komunitasnya.

b.   Masyarakat indonesia sebagai Landasan Sosiologis Sistem Pendidikan Nasional

Perkembangan masyarakat Indonesia dari masa ke masa telah mempengaruhi sistem pendidikan nasional. Hal tersebut sangatlah wajar, mengingat kebutuhan akan pendidikan semakin meningkat dan komplek. Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk menyesuaikan pendidikan dengan perkembangan masyarakat terutama dalam hal menumbuhkembangkan KeBhineka tunggal Ika-an, baik melalui kegiatan jalur sekolah (umpamanya dengan pelajaran PPKn, Sejarah Perjuangan Bangsa, dan muatan lokal), maupun jalur pendidikan luar sekolah (penataran P4, pemasyarakatan P4 nonpenataran)

3.     Landasan Kultural

a.   Pengertian Landasan Kultural

Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbal balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan/ dikembangkan dengan jalur mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi penerus dengan jalan pendidikan, baiksecara formal maupun informal.

Anggota masyarakat berusaha melakukan perubahan-perubahan yang sesuai denga perkembangan zaman sehingga terbentuklah pola tingkah laku, nlai-nilai, dan norma-norma baru sesuai dengan tuntutan masyarakat. Usaha-usaha menuju pola-pola ini disebut transformasi kebudayaan. Lembaga sosial yang lazim digunakan sebagai alat transmisi dan transformasi kebudayaan adalah lembaga pendidikan, utamanya sekolah dan keluarga

b.   Kebudayaan sebagai Landasan Sistem Pendidkan Nasional

Pelestarian dan pengembangan kekayaan yang unik di setiap daerah itu melalui upaya pendidikan sebagai wujud dari kebineka tunggal ikaan masyarakat dan bangsa Indonesia. Hal ini harsulah dilaksanakan dalam kerangka pemantapan kesatuan dan persatuan bangsa dan negara indonesia sebagai sisi ketunggal-ikaan

4.     Landasan Psikologis

a.   Pengertian Landasan Filosofis

Dasar psikologis berkaitan dengan prinsip-prinsip belajar dan perkembangan anak. Pemahaman etrhadap peserta didik, utamanya yang berkaitan dengan aspek kejiwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajian dan penemuan psikologis sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan.

Sebagai implikasinya pendidik tidak mungkin memperlakukan sama kepada setiap peserta didik, sekalipun mereka memiliki kesamaan. Penyusunan kurikulum perlu berhati-hati dalam menentukan jenjang pengalaman belajar yang akan dijadikan garis-garis besar pengajaran serta tingkat kerincian bahan belajar yang digariskan.

b.   Perkembangan Peserta Didik sebagai Landasan Psikologis

Pemahaman tumbuh kembang manusia sangat penting sebagai bekal dasar untuk memahami peserta didik dan menemukan keputusan dan atau tindakan yang tepat dalam membantu proses tumbuh kembang itu secara efektif dan efisien.

5.     Landasan Ilmiah dan Teknologis

a.   Pengertian Landasan IPTEK

Kebutuhan pendidikan yang mendesak cenderung memaksa tenaga pendidik untuk mengadopsinya teknologi dari berbagai bidang teknologi ke  dalam penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan yang berkaitan erat dengan proses penyaluran pengetahuan haruslah mendapat perhatian yang proporsional dalam bahan ajaran, dengan demikian pendidikan bukan hanya berperan dalam pewarisan IPTEK tetapi juga ikut menyiapkan manusia yang sadar IPTEK dan calon pakar IPTEK itu. Selanjutnya pendidikan akan dapat mewujudkan fungsinya dalam pelestarian dan pengembangan iptek tersebut.

b.   Perkembangan IPTEK sebagai Landasan Ilmiah

Iptek merupakan salah satu hasil pemikiran manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, yang dimualai pada permulaan kehidupan manusia. Lembaga pendidikan, utamanya pendidikan jalur sekolah harus mampu mengakomodasi dan mengantisipasi perkembangan iptek. Bahan ajar sejogjanya hasil perkembangan iptek mutahir, baik yang berkaitan dengan hasil perolehan informasi maupun cara memproleh informasi itu dan manfaatnya bagi masyarakat

B.    ASAS-ASAS POKOK PENDIDIKAN

Asas pendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Khusu s di Indonesia, terdapat beberapa asas pendidikan yang memberi arah dalam merancang dan melaksanakan pendidikan itu. Diantara  asas tersebut adalah Asas Tut Wuri Handayani, Asas Belajar Sepanjang Hayat, dan asas Kemandirian dalam belajar.

1.     Asas Tut Wuri Handayani

Sebagai asas pertama, tut wuri handayani merupakan inti dari sitem Among perguruan. Asas yang dikumandangkan oleh Ki Hajar Dwantara ini kemudian dikembangkan oleh Drs. R.M.P. Sostrokartono dengan menambahkan dua semboyan lagi, yaitu Ing Ngarso Sung Sung Tulodo dan Ing Madyo Mangun Karso.

Kini ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas yaitu:

Ø      Ing Ngarso Sung Tulodo ( jika di depan memberi contoh)

Ø      Ing Madyo Mangun Karso (jika ditengah-tengah memberi dukungan dan semangat)

Ø      Tut Wuri Handayani (jika di belakang memberi dorongan)

2.     Asas Belajar Sepanjang Hayat

Asas belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang dari sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup (life long education). Kurikulum yang dapat meracang dan diimplementasikan dengan memperhatikan dua dimensi yaitu dimensi vertikal dan horisontal.

Ø      Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi keterkaitan dan kesinambungan antar tingkatan persekolahan dan keterkaitan dengan kehidupan peserta didik di masa depan.

Ø      Dimensi horisontal dari kurikulum sekolah yaitu katerkaitan antara pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman di luar sekolah.

3.     Asas Kemandirian dalam Belajar

Dalam kegiatan belajar mengajar, sedini mungkin dikembangkan kemandirian dalam belajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selalu suiap untuk ulur tangan bila diperlukan.

Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalamperan utama sebagai fasilitator dan motifator. Salah satu pendekatan yang memberikan peluang dalam melatih kemandirian belajar peserta didik adalah sitem CBSA (Cara Belajar Siwa Aktif).

Peranan filsafat pendidikan ditinjau dari tiga lapangan filsafat, yaitu:
1. Metafisika
Metafisika merupakan bagian filsafat yang mempelajari masalah hakekat: hakekat dunia, hakekat manusia, termasuk di dalamnya hakekat anak. Metafisika secara praktis akan menjadi persoalan utama dalam pendidikan. Karena anak bergaul dengan dunia sekitarnya, maka ia memiliki dorongan yang kuat untuk memahami tentang segala sesuatu yang ada. Memahami filsafat ini diperlukan secara implisit untuk mengetahui tujuan pendidikan.Seorang guru seharusnya tidak hanya tahu tentang hakekat dunia dimana ia tinggal, tetapi harus tahu hakekat manusia, khususnya hakekat anak. Hakekat manusia:
Manusia adalahü makhluk jasmani rohani, Manusia adalah makhluk individual sosialü, Manusia adalah makhluk yang bebas, Manusia adalah makhluk menyejarah.

Peranan filsafat pendidikan ditinjau dari tiga lapangan filsafat, yaitu:
1. Metafisika
Metafisika merupakan bagian filsafat yang mempelajari masalah hakekat: hakekat dunia, hakekat manusia, termasuk di dalamnya hakekat anak. Metafisika secara praktis akan menjadi persoalan utama dalam pendidikan. Karena anak bergaul dengan dunia sekitarnya, maka ia memiliki dorongan yang kuat untuk memahami tentang segala sesuatu yang ada. Memahami filsafat ini diperlukan secara implisit untuk mengetahui tujuan pendidikan.Seorang guru seharusnya tidak hanya tahu tentang hakekat dunia dimana ia tinggal, tetapi harus tahu hakekat manusia, khususnya hakekat anak. Hakekat manusia:
Manusia adalahü makhluk jasmani rohani, Manusia adalah makhluk individual sosialü, Manusia adalah makhluk yang bebas, Manusia adalah makhluk menyejarah.

2. Epistemologi
Kumpulan pertanyaan berikut yang berhubungan dengan para guru adalah epistemologi. Pengetahuan apa yang benar? Bagaimana mengetahui itu berlangsung? Bagaimana kita mengetahui bahwa kita mengetahui? Bagaimana kita memutuskan antara dua pandangan pengetahuan yang berlawanan? Apakah kebenaran itu konstan, ataukah kebenaran itu berubah dari situasi satu kesituasi lainnya? Dasn akhirnya pengetahuan apakah yang paling berharga?
Bagaimana menjawab pertanyaan epistemologis tersebut, itu akan memiliki implikasi signifikan untuk pendekatan kurikulum dan pengajaran. Pertama guru harus menentukan apa yang benar mengenai muatan yang diajarkan, kemudian guru harus menentukan alat yang paling tepat untuk membawa muatan ini bagi siswa. Meskipun ada banyak cara mengetahui, setidaknya ada lima cara mengetahui sesuai dengan minat / kepentingan masing-masing guru, yaitu mengetahui berdasarkan otoritas, wahyu tuhan, empirisme, nalar, dan intuisi.
Guru tidak hanya mengetahui bagaimana siswa memperoleh pengetahuan, melainkan juga bagaimana siswa belajar. Dengan demikian epistemologi memberikan sumbangan bagi teori pendidikan dalam menentukan kurikulum. Pengetahuan apa yang harus diberikan kepada anak dan bagaimana cara untuk memperoleh pengetahuan tersebut, begitu juga bagaimana cara menyampaikan pengetahuan tersebut.

3. Aksiologi
Cabang filsafat yang membahas nilai baik dan nilai buruk, indah dan tidak indah, erat kaitannya dengan pendidikan, karena dunia nilai akan selalu dipertimbangkan atau akan menjadi dasar pertimbangan dalam menentukan tujuan pendidikan. Langsung atau tidak langsung, nilai akan menentukan perbuatan pendidikan. Nilai merupakan hubungan sosial.
Pertanyaan-pertanyaan aksiologis yang harus dijawab guru adalah: Nilai-nilai apa yang dikenalkan guru kepada siswa untuk diadopsi? Nilai-nilai apa yang mengangkat manusia pada ekspresi kemanusiaan yang tertinggi? Nilai-nilai apa yang bener-benar dipegang orang yang benar-benar terdidik?
Pada intinya aksiologi menyoroti fakta bahwa guru memiliki suatu minat tidak hanya pada kuantitas pengetahuan yang diperoleh siswa melainkan juga dalam kualitas kehidupan yang dimungkinkan karena pengetahuan. Pengetahuan yang luas tidak dapat memberi keuntungan pada individu jika ia tidak

ARTI DAN MANFAAT OLAH RAGA

Arti Pendidikan Jasmani :
Pendidikan jasmani terdiri dari kata pendidikan dan jasmani, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tatalaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan sesorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan (KBBI, 1989), jasmani adalah tubuh atau badan (fisik). Namun yang dimaksud jasmani di sini bukan hanya badan saja tetapi keseluruhan (manusia seutuhnya), karena antara jasmani dan rohani tidak dapat dipisah-pisahkan. Jasmani dan rohanai merupakan satu kesatuan yang utuh yang selalu berhubungan dan selalu saling berpengaruah.

Pengertian Pendidikan Jasmani
Pendidikan Jasamani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai perseorangan maupun angota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani dalam rangka memperoleh peningkatan kemampuan dan ketrampilan jasmani, pertumbuhan kecerdasan dan pembentukan watak.
Pengertian Olahraga
Pengertian olahraga adalah suatu bentuk kegiatan jasmani yang terdapat di dalam permainan, perlombaan dan kegiatan intensif dalam rangka memperoleh relevansi kemenangan dan prestasi optimal.

Pengertian Olahraga (Menpora Maladi)
Olahraga mencakup segala kegiatan manusia yang ditujukan untuk melaksanakan misi hidupnya dan cita-cita hidupnya, cita-cita nasional politik, sosial, ekonomi, kultural dan sebagainya.
Olaharaga rekreasi adalah jenis kegiatan olahraga yang dilakukan pada waktu senggang atau waktu-waktu luang.

Sumber : Aip Syarifuddin, Belajar Aktif Pendidikan Jasmani dan Kesehatan SMP, Jakarta, Grasindo. 1990

manfaat olah raga

Dalam kehidupan modern saat ini banyak orang yang melupakan pentingnya olahraga untuk tubuh. Padahal olahraga merupakan cara untuk sehat yang paling murah dengan hasil yang mengagumkan untuk kebugaran badan. Selain itu olahraga dapat dilaksanakan kapanpun dan dimanapun kita suka melakukannya baik siang maupun malam sesuai keinginan.

Berikut adalah beberapa manfaat olahraga untuk tubuh kita menurut Asosiasi Kebugaran di Inggris :

  • Meningkatkan kisaran gerak
  • Meningkatkan stamina
  • Melepaskan kecemasan
  • Meredakan kinerja seksual
  • Meredakan gejala menopause
  • Membantu mencegah penyakit jantung
  • Mencegah osteoporosis
  • Memperbaiki ketajaman mental
  • Memperbaiki konsentrasi
  • Mengurangi resiko kanker payudara
  • Memperbaiki pandangan hidup
  • Mengurangi nyeri radang sendi
  • Mengendalikan kolesterol
  • Membakar lemak
  • Mempercepat metabolisme
  • Menghilangkan gejala pra-menstruasi
  • Membantu kita berhenti merokok
  • Meredakan depresi
  • Mengurangi biaya hidup
  • Meningkatkan kepuasan kerja
  • Mengawetkan otot
  • Mengawetkan organ-organ internal (hati, ginjal)
  • Memperbaiki waktu reaksi
  • Memperbaiki kebugaran kardiovaskuler
  • Meningkatkan energi
  • Memperbaiki koordinasi saraf dan otot
  • Meningkatkan kemampuan tubuh untuk memerangi infeksi
  • Mengurangi resiko glaukoma
  • Mengurangi resiko kanker usus besar
  • Menurunkan tekanan darah
  • Mengurangi resiko kegemukan
  • Membakar kalori
  • Memperbaiki sembelit
  • Mencegah endometriosis
  • Mengurangi konsumsi alkohol
  • Mengurangi stres
  • Meningkatkan harga diri
  • Meningkatkan perasaan sejahtera
  • Meningkatkan IQ
  • Meningkatkan kreativitas
  • Mengurangi absensi kerja
  • Meningkatkan produktivitas
  • Memperbaiki kelenturan
  • Memperbaiki peredaran darah
  • Meningkatkan mobilitas
  • Meningkatkan ingatan/mengurangi resiko pikun
  • Memperpendek waktu pemulihan sesudah sakit atau cedera
  • Meningkatkan kesehatan punggung
  • Tidur nyenyak
  • Memperpanjang hidup

Agar kita bugar dan “berisi” serta menjamin kecepatan metabolisme tidak turun dan peredaran darah tidak melambat disarankan melakukan olahraga 30 menit sehari. Olahraga yang reguler dan dilakukan lebih sering akan lebih baik daripada olahraga selama 3 jam namun 2 minggu sekali atau lebih. Olahraga yang jarang ini membuat kita cepat lelah. selain itu manfaat diatas tidak akan kita dapatkan apabila olahraga jarang kita lakukan. Untuk itu mulailah olahraga kecil-kecilan agar kita terbiasa untuk berolahraga…

Contoh Proposal PTK

PROPOSAL PTK

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERMAIN PERAN “MAKAN DAN DIMAKAN” DALAM MENINGKATKAN KUALITAS HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV SDN MLATEN 1 PADA MATERI

RANTAI MAKANAN MATA PELAJARAN SAINS

(Disusun Untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian)

Disusun Oleh :

Nurul Ayni (071644249)

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

2009

A. Judul

Penerapan Model Pembelajaran Bermain Peran Makan Dan Dimakan Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SDN Mlaten 1 Dalam Materi Rantai Makanan Mata Pelajaran SAINS

B. Mata Pelajaran Dan Bidang Kajian

Model pembelajaran siswa di sekolah

C. Pendahuluan

Dalam sebuah ruang kelas, siswa terlihat ada yang terlalu semangat dalam kegiatan pembelajaran, ada yang biasa-biasa saja terhadap kegiatan pembelajaran, dan ada pula yang sama sekali tidak menghiraukan akan kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Sedangkan harapan seorang guru adalah agar di dalam kelas  benar-benar hidup dan semua siswa termotivasi terhadap pelajaran

Di dalam mata pelajaran SAINS, pengetahuan tidak hanya teori saja, tetapi dalam kehidupan realita sangat terbukti kebenarannya. Jika siswa belajar hanya dari teori saja, tanpa ada tindakan langsung atau praktek, maka pengetahuan siswa hanya pengetahuan sesaat saja dan tidak tahan lama. Karena dominan dari siswa belajar untuk menghafal teori. Oleh karena itu penerapan dalam siswa sangat dibutuhkan sekali.

Kemampuan dalam memahami BAB: Daur Kehidupan,  materi :   Rantai Makanan yang dimiliki oleh setiap siswa bervariasi, ini ditentukan oleh latihan dan respon siswa. Berdasarkan hasil observasi, diketahui bahwa siswa kelas IV SDN MLATEN II masih perlu dilatih kemampuannya dalam memotivasi pemahaman pada pelajaran SAINS materi Rantai Makanan.

Siswa didalam pelajaran jika hanya teori saja  yang berikan, maka siswa akan merasa bosan dan sulit memahami. Permainan makan dan dimakan merupakan pemecahan masalah dalam memotivasi siswa untuk mengukur kemampuan pemahaman siswa.

D. Rumusan Masalah

¨  Apakah model permainan anak dapat meningkatkan pemahaman anak terhadap materi rantai makanan pada mata pelajaran SAINS?

¨  Apakah siswa  dapat menerima model permainan dalam materi rantai makanan pada mata pelajaran SAINS?

¨  Apakah dengan model permainan anak dapat meningkatkan motivasi siswa SDN MLATEN II terhadap materi rantai makanan?

E. Tujuan

¨  Untuk mengetahui model permainan anak dapat meningkatkan pemahaman anak terhadap materi rantai makanan pada mata pelajaran SAINS?

¨  Untuk mengetahui siswa  dapat menerima model permainan dalam materi rantai makanan pada mata pelajaran SAINS?

¨  Untuk mengetahui dengan model permainan anak dapat meningkatkan motivasi siswa SDN MLATEN II terhadap materi rantai makanan?

F. Manfaat

¨  Bagi guru, dengan model permainan anak makan dan dimakan pada materi rantai makanan, dapat mempermudah guru dalam menyampaikan materi. Karena guru tidak bersusah payah dalam memusatkan konsentrasi siswa pada materi jika anak-anak terlalu agresif

¨  Bagi siswa,

  • Dengan model permainan anak makan dan dimakan, maka dapat meningkatkan motivasi anak dalam pembelajaran rantai makanan mata pelajaran sains
  • Dengan menggunakan model permainan anak makan dan dimakan, maka dapat meningkatkan prestasi anak. Karena anak bisa langsung memahami dan mempraktekkan materi rantai makanan

¨  Bagi sekolah, dengan menggunakan model permainan anak makan dan dimakan, dapat meningkatkan prestasi akademik siswa sehingga sekolah menjadi suatu sekola yang berkualitas karena kemampuan siswa dalam memahami suatu mata pelajaran.

G. Kajian Pustaka

Kedisiplinan Belajar dapat ditanamkan kepada siswa-siswi melalui beberapa model pembelajaran di kelas. Pilihan metode atau model pembelajaran merupakan bagian yang penting dan membutuhkan kejelian serta inovasi guru dalam proses transformasi ilmu pengetahuan atau nilai-nilai. Kita menyadari bahwa pada dasarnya manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya, baik pendidikan formal maupun pendidikan non-formal, agar dengan pendidikan potensi dirinya dapat berkembang melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan dilakukan oleh masyarakat. Lahirnya generasi baru yang cerdas dan handal adalah suatu keharusan bagi suatu bangsa, para pendidk (guru) serta orang tua. Seperti yang tercermin dalam nilai-nilai mata pelajaran Pkn, bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh generasi muda yang cerdas. Cerdas disini bukan hanya IQ (Intellegences Quontien/potensi intelektual) saja yang selama ini telah membudaya di masyarakat. Juga, cerdas dalam EQ (Emotional Quontien) dan SQ (Spiritual Quontien). Dengan mendidik dan mencerdaskannya secara baik, berarti kita telah memberikan warisan yang terbaik bagi mereka.

Model bermain peran adalah salah satu proses belajar mengajar yang tergolong dalam metode simulasi. Menurut Dawson (1962) yang dikutip oleh Moedjiono & Dimyati (1992:80) mengemukakan bahwa simulasi merupakan suatu istilah umum berhubungan dengan menyusun dan mengoperasikan suatu model yang mereplikasi proses-proses perilaku. Sedangkan menurut Ali (1996:83) mengemukakan bahwa metode simulasi adalah suatu cara pengajaran dengan melakukan proses tingkah laku secara tiruan.

Metode pengajaran simulasi terbagi menjadi 3 kelompok seperti yang dikemukakan oleh Ali (1996:83) berikut ini ; (1) Sosiodrama : semacam drama sosial berguna untuk menanamkan kemampuan menganalisa situasi sosial tertentu, (2) Psikodrama : hampir mirip dengan sosiodrama . Perbedaan terletak pada penekannya. Sosia drama menekankan kepada permasalahan sosial, sedangkan psikodrama menekankan pada pengaruh psikologisnya dan (3) Role-Playing : role playing atau bermain peran bertujuan menggambarkan suatu peristiwa masa lampau.

Sedangkan Moedjiono & Dimyati (1992:80) juga membagi metode pengajaran simulasi menjadi 3 kelompok seperti berikut ini :(1) Permainan simulasi (simulation games) yakni suatu permainan di mana para pemainnya berperan sebagai tempat pembuat keputusan, bertindak seperti jika mereka benar-benar terlibat dalam suatu situasi yang sebenarnya, dan / atau berkompetisi untuk mencapai tujuan tertentu sesuai dengan peran yang ditentukan untuk mereka, (2) Bermain peran (role playing) yakni memainkan peranan dari peran-peran yang sudah pasti berdasarkan kejadian terdahulu, yang dimaksudkan untuk menciptakan kembali situasi sejarah/peristiwa masa lalu, menciptakan kemungkinan-kemungkinan kejadian masa yang akan datang, menciptakan peristiwa mutakhir yang dapat diperkaya atau mengkhayal situasi pada suatu tempat dan atau waktu tertentu, dan (3) Sosiodrama (sociodrama) yakni suatu pembuatan pemecahan masalah kelompok yang dipusatkan pada suatu masalah yang berhubungan dengan relasi kemanusiaan. Sosiodrama memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan alternatif pemecahan masalah yang timbul dan menjadi perhatian kelompok.

Berdasarkan kutipan tersebut, berarti model bermain peran adalah model pembelajaran yang di dalamnya menampakkan adanya perilaku pura-pura dari siswa yang terlihat dan atau peniruan situasi dari tokoh-tokoh sejarah sedemikian rupa. Dengan demikian model bermain peran adalah model yang melibatkan siswa untuk pura-pura memainkan peran/ tokoh yang terlibat dalam proses sejarah.

H. METODOLOGI PENELITIAN

¨  Rencana Dan Prosedur

1. Setting Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas VI SD Negeri mlaten 1 sebagai sekolah mitra, dengan jumlah siswa sebanyak 24 orang yang terdiri dari 12 orang siswa pria dan 12 orang siswa wanita. Pelaksanaan penelitian direncanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2009-2010 selama 8 bulan.

2. Faktor yang Diselidiki

Untuk menjawab permasalahan di atas, ada beberapa faktor yang ingin diselidiki, yaitu:

1.  Faktor siswa: yaitu dengan melihat apakah tingkat hasil belajar siswa pada pokok bahasan materi rantai makanan berada dalam kategori rendah, sedang atau tinggi ?

2.  Faktor guru: yaitu dengan memperhatikan bagaimana persiapan materi dan kesesuaian model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran di kelas.

3.  Faktor sumber pelajaran: yaitu dengan memperhatikan sumber pelajaran yang digunakan apakah sudah sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, demikian pula latihan-latihan yang diberikan, apakah sudah berjenjang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa serta dengan tujuan yang akan dicapai.

3. Rencana Penelitian Tindakan Kelas

Pelaksanaan penelitian ini direncanakan dalam tiga siklus tindakan. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai, seperti apa yang telah didesain dalam faktor yang diselidiki. Bila target ketuntasan belajar klasikal, yaitu minimal 80 % siswa tidak mencapai nilai paling rendah 6,5, maka dilaksanakan siklus tambahan. Adapun skema alur tindakan yang dalam penelitian ini disajikan pada Gambar 1 berikut.

Gambar 1 Alur dalam penelitian tindakan kelas (PTK)

4. Prosedur Penelitian

Metode penelitian yang digunakan menggunakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research), bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah melalui penerapan langsung di kelas atau tempat kerja (Isaac, 1994:27). Sedangkan menurut Prof. Suhardjono (2006:56) mengatakan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan bagian dari penelitian tindakan yang dapat dipandang sebagai tindak lanjut dari penelitian deskriftif maupun eksperimen. Pada penelitian tindakan kelas bukan lagi mengetes sebuah perlakuan tetapi sudah mempunyai keyakinan akan ampuhnya sesuatu perlakuan.

prosedur

Dalam penelitian ini, peneliti terlebih dahulu melaksanakan tes awal berupa tes diagnostik untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum diberikan tindakan di samping observasi. Observasi awal dilakukan untuk dapat mengetahui ketetapan tindakan yang akan diberikan dalam rangka meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan lembar kegiatan siswa.

Dari hasil evaluasi dan observasi awal, maka dalam refleksi ditetapkan tindakan yang digunakan untuk meningkatkan hasil belajar SAINS siswa, yaitu melalui pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran bermain peran.

Dengan berpatokan pada refleksi awal tersebut, maka dilaksanakanlah penelitian tindakan kelas ini dengan prosedur sebagai berikut:

a. Perencanaan

Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini meliputi:

1.  Membuat skenario pelaksanaan tindakan.

2.  Membuat lembar observasi: untuk melihat bagaimana suasana belajar mengajar di kelas ketika model bermain peran dilaksanakan.

3.  Membuat kuesioner: untuk mengumpulkan data tentang tanggapan siswa mengenai pelaksanaan model bermain peran dalam pembelajaran.

4.  Membuat alat bantu mengajar yang diperlukan dalam rangka membantu siswa memahami konsep-konsep SAINS dengan baik.

5.  Mendesain alat evaluasi untuk melihat apakah materi rantai makanan telah dikuasai oleh siswa.

b. Pelaksanaan tindakan

Tindakan yang telah dirancang dilaksanakan oleh satu orang guru kelas IV SD Negeri Mlaten 1. Pembelajaran yang dilakukan guru dengan menggunakan model pembelajaran bermain peran sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dibuat.

c. Observasi

Observasi dilaksanakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat. Proses observasi dilakukan oleh dua orang dari tim peneliti untuk mengamati guru dalam kelas selama melaksanakan tindakan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran bermain peran. Pengamatan juga dilakukan terhadap prilaku dan aktifitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung dan dampak yang ditimbulkan dari prilaku guru terhadap siswa selama proses pembelajaran.

d. Evaluasi

Evaluasi dilaksanakan pada setiap akhir siklus pelaksanaan tindakan. Evaluasi tersebut ditujukan untuk mengetahui ada atau tidak adanya peningkatan hasil belajar matematika siswa pada pokok bahasan yang diajarkan. Alat evaluasi yang digunakan adalah tes hasil belajar yang disusun peneliti. Bilamana secara klasikal minimal 80 % siswa telah mencapai nilai paling rendah 6,5, maka tindakan dianggap telah berhasil dilaksanakan.

e. Refleksi

Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi dianalisis. Kelemahan-kelemahan atau kekurangan-kekurangan yang terjadi pada setiap siklus akan diperbaiki pada siklus berikutnya.

Proses penelitian tindakan merupakan kerja berulang atau (siklus), sehingga diperoleh pembelajaran dapat membantu siswa dalam menyelesaikan soal tentang rantai makanan. Penelitian ini dilaksanakan dengan 2 siklus. Pada setiap siklus terdapat rencana . tindakan, observasi dan refleksi. Alur penelitian dapat dilihat di bawah ini :

Siklus 1 :

¨  Perencanaan:
Pada tahap ini Langkah-langkah yang digunakan adalah :

  1. Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar untuk mata pelajaran SAINS Kelas IV, dan mengembangkan skenario pembelajaran.
  2. Menentukan pokok bahasan rantai makanan yang akan diajarkan pada setiap tindakan
  3. Menyusun Lembar kerja siswa
  4. Menyiapkan alat/media yang diperlukan
  5. Menyusun format format penilaian
  6. Mengadakan tes awal untuk menetukan kelompok
  7. Membagi kelompok dan menjelaskan maksud pembagian kelompok dan rencana pembelajaran yang akan dilakukan

¨  Tindakan

Melaksanakan tindakan sesuai dengan skenario yang telah direncanakan, yaitu ;

  1. mengamati aneka ragam hewan
  2. memilih hewan yang akan diperankan
  3. menggunakan alat yang digunakan sebagai ciri dari hewan yang dimaksud
  4. memilih kelompok sebagai satu kesatuan tim
  5. membaca materi rantai makanan dari buku ajar
  6. memberi nama hewan kepada siswa yang bermain peran
  7. membuat skenario bermain makan dan dimakan yang tak lepas dari materi rantai makanan
  8. melakukan kegiatan permainan sesuai dengan skenario

Latihan.

¨  Pengamatan

Pada tahap ini guru mengamati proses kegiatan yang sedang berlangsung, diantaranya :

  1. Mengamati interaksi belajar yang sedang berlangsung (aktifitas, kreatifitas) untuk siswa bermain peran
  2. Menilai lembar kerja yang dikerjakan

¨  Reflesksi
Pada tahap ini dilakukan untuk mengevalusi seluruh tindakan yang dilakukan berdasarkan hasil pengamatan :

  1. Apakah materi yang telah diperagakan dapat dengan jelas diterima oleh siswa?

Indikator yang dapat dilakukan adalah melihat hasil pada lembar latihan siswa. (jika hasilnya belum mencapai 75% maka akan lakukan perbaikan pada siklus kedua dengan materi yang sama, dan jika hasilnya sudah memuakan maka pada siklus kedua akan disampaikan materi kedua).

  1. Apakah terjadi interaksi belajar?

Hal ini terlihat dari respon siswa sebagi pemeran ataupun sebagai penonton, baik itu dalam bentuk tanya jawab, pengerjaan latihan.

Menyusun rencana perbaikan sesuai dengan kelemahan-kelemahan pada yang terjadi berdasarkan hasil pengamatan untuk digunakan pada siklus kedua.

Siklus 2 :

Langkah-langkah yang digunakan adalah Kelemahan-kelemahan atau kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus pertama akan diperbaiki pada siklus ini.

¨  Perencanaan

  1. Mengidentifikasi masalah pada siklus pertama dan menyusun alternatif pemecahannya.
  2. Menyiapkan media dan materi yang akan disampaikan.
  3. Menukar kelompok yang tadinya menjadi penonton, untuk menjadi pemeran

¨  Tindakan

  1. Kelompok yang mendapat giliran maju, memerankan perannya masing-masing. sementara kelompok yang tidak maju untuk berperan, diberi tugas untuk memberi masukan/komentar
  2. Guru menjelaskan materi
  3. Pada akhir satu jam pelajaran Guru melakukan tanya jawab dan menjelaskan kesimpulan dari kegiatan belajar

¨  Pengamatan
Guru mengamati proses kegiatan yang sedang berlangsung, diantaranya:

  1. Mengamati interaksi belajar yang sedang berlangsung (aktifitas, kreatifitas)
  2. Menilai lembar kerja yang dikerjakan.

¨  Reflesksi
Pada tahap ini dilakukan untuk mengevalusi seluruh tindakan yang dilakukan berdasarkan hasil pengamatan :

1 Apakah materi yang telah diperagakan dapat dengan jelas diterima oleh siswa?

Indikator yang dapat dilakukan adalah melihat hasil pada lembar latihan siswa. (jika hasilnya belum mencapai 75% maka akan lakukan perbaikan pada siklus ketiga dengan materi yang sama, dan jika hasilnya sudah memuakan maka pada siklus ketiga akan disampaikan materi ketiga)

2 Apakah terjadi interaksi belajar

Hal ini dapat dilihat dari respon siswa yang member tanggapan terhadap teman yang melakukan bermain peran.

Menyusun rencana perbaikan sesuai dengan kelemahan-kelemahan pada yang terjadi berdasarkan hasil pengamatan untuk digunakan pada siklus ketiga.

5 Data dan Cara Pengambilannya

  1. Sumber data: personil penelitian yang terdiri dari siswa dan guru.
  2. Jenis data: data kuantitatif yang diperoleh dari tes hasil belajar dan data kualitatif yang diperoleh melalui lembar observasi, kuesioner, dan jurnal.
  3. Cara pengambilan data:

¨ Data situasi pelaksanaan model pembelajaran bermain peran makan dan dimakan diambil dengan menggunakan lembar observasi.

¨ Data tanggapan siswa terhadap pelaksanaan pendekatan model pembelajaran bermain peran makan dan dimakan diambil dengan menggunakan kuesioner.

¨ Data refleksi diri serta perubahan-perubahan yang terjadi dalam kelas, diambil dengan menggunakan jurnal.

¨ Data tentang hasil belajar SAINS siswa diambil dengan menggunakan tes hasil belajar.

¨ Guru memberi nilai kepada yang memainkan peran dengan criteria penilaian:

8 – 10 =Sangat Baik ( A)
7 – 7,9 = Baik (B)
6 – 6,9 = Cukup (C)
≥ 5,9 = Kurang (K)

I. Daftar Pustaka

Depdiknas. 2004. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Cetakan Edisi Ke empat. Malang Pers

Darmansyah. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. UNP

Ivor. K.Davies. 1991. Pengelolaan Belajar. Jakarta CV Rajawali

Kardi, S. dan Nur M. 2000a . Role Playing. Surabaya : Universitas Negeri Surabaya University Press.

Tim Penulis. 1999. Suplemen GBPP Kelas VI. Jakarta. Pusat Penerbit UT

Nana Sujana. 1989. Teori-teori Belajar Untuk Pengajaran. Bandung Ekonomi UI

Wina Sanjaya. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta. Kencana

http://www.pro-ibid.com/content/view/104/1/

http://nazwadzulfa.wordpress.com/2009/10/12/kedisiplinan-dengan-role-playing-bermain-peran