10 Cara Meningkatkan Inovasi

10 Cara Meningkatkan Inovasi

Diterbitkan 10 Desember 2008 manajemen pendidikan 7 Comments

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/12/10/10-cara-meningkatkan-inovasi/

Untuk menghadapi dinamika perubahan dan kompetisi yang sangat tajam dan ketat dan demi keberangsungan hidup organisasi itu sendiri, maka setiap orang dalam organisasi dituntut untuk dapat berfikir dan bertindak secara inovatif. Paul Sloane dalam sebuah tulisannya mengetengahkan 10 cara untuk meningkatkan inovasi dalam suatu organisasi, yakni:
1. Memiliki visi untuk berubah
Jangan berharap suatu tim akan menjadi inovatif apabila mereka tidak mengetahui tujuan yang hendak dicapai ke depan. Inovasi harus memiliki tujuan dan seorang pemimpin harus mampu menyatakan dan mendefinisikan tujuan secara jelas sehingga setiap orang dapat memahami dan mengingatnya. Para pemimpin besar banyak meluangkan waktu untuk menggambarkan dan menjelaskan visi, tujuan dan tantangan masa depan kepada setiap orang . Mereka berusaha meyakinkan setiap orang akan peran pentingnya dalam upaya mencapai visi dan tujuan, serta dalam menghadapi berbagai tantangan. Mereka mengilhami kepada setiap orang untuk menjadi enterpreneur yang bersemangat dan menemukan cara-cara yang inovatif untuk memperoleh kesuksesan.
2. Memerangi ketakutan akan perubahan
Para pemimpin inovatif senantiasa mengobarkan semangat pentingnya perubahan. Mereka berusaha menggantikan kepuasan atas kemapanan yang ada dengan kehausan akan ambisi. Mereka akan berkata, ” Saat ini kita memang sedang melakukan hal yang baik, tetapi kita tidak boleh berhenti dan berpuas diri dengan kemenangan yang ada, kita harus melakukan hal-hal yang lebih baik lagi”. Mereka menyampaikan pula bahwa saat ini kita sedang melakukan suatu spekulasi baru yang penuh resiko, dan jika kita tidak bergerak maka akan jauh lebih berbahaya. Mereka memberikan gambaran menarik tentang segala sesuatu yang hendak diraih pada masa mendatang. Oleh karena itu, satu-satunya cara menuju ke arah sana yaitu dengan berusaha memeluk perubahan.
3. Berani mengambil Resiko
Seorang pemodal yang berani mengambil resiko akan menggunakan pendekatan portofolio, berusaha mencari keseimbangan antara kegagalan dengan kesuksesan. Mereka senang mempertimbangkan berbagai usulan atau gagasan tetapi tetap merasa nyaman dengan berbagai pemikiran yang menggambarkan tentang kegagalan-kegagalan yang mungkin akan diterima.
4. Memiliki Rencana Usulan yang Dinamis
Anda harus memfokus pada rencana usulan yang benar-benar hebat, setiap rencana mudah dilaksanakan, sumber tersedia dengan baik, responsif dan terbuka untuk semuanya. Berikan penghargaan dan respons yang wajar kepada karyawan serta para senior harus memliki komitmen agar karyawan tetap dapat menjaga kesegarannya dalam melaksanakan setiap pekerjaan.
5. Mematahkan Aturan
Untuk mencapai inovasi yang radikal, Anda harus memiliki keberanian manantang berbagai asumsi aturan yang ada di sekitar lingkungan. Bisnis bukan seperti permainan olah raga yang selalu terikat dengan aturan dan keputusan wasit, tetapi bisnis tak ubahnya seperti seni, yang di dalamnya memiliki banyak kesempatan untuk berfikir secara lateral, sehingga mampu menciptakan cara-cara baru tentang aneka benda dan jasa yang diinginkan para pelanggan.
6. Beri Setiap Orang Dua Pekerjaan
Berikan setiap orang dua pekerjaan pokok. Mintalah kepada mereka untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari mereka secara efektif dan pada saat yang bersamaan kepada mereka diminta pula untuk menemukan cara-cara baru dalam melaksanakan pekerjaannya. Doronglah mereka untuk bertanya pada diri sendiri tentang apa sebenarnya tujuan esensial dari peran saya? Hasil dan nilai riil apa yang bisa saya berikan kepada klien saya, baik internal maupun eksternal? Apakah ada cara yang lebih baik untuk memberikan dan mencapai nilai atau tujuan tersebut? Dan jawabannya selalu mengatakan “YA”. Tetapi, kebanyakan orang tidak pernah atau jarang menanyakan hal-hal seperti itu.
7. Kolaborasi
Beberapa eksekutif perusahaan memandang kolaborasi sebagai kunci sukses dalam inovasi. Mereka menyadari bahwa tidak semua dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan pada sumber-sumber internal. Oleh karena itu, mereka melihat dunia luar dan mengajak organisasi lain sebagai mitra, sehingga bisa saling bertukar pengalaman dan keterampilan dalam team.
8. Siap Menerima kegagalan
Pemimpin inovatif mendorong terbentuknya budaya eksperimen. Setiap orang harus dibelajarkan bahwa setiap kegagalan merupakan langkah awal dari perjalanan jauh menunju kesuksesan. Untuk menjadi orang benar-benar cerdas dan tangkas, setiap orang harus diberi kebebasan berinovasi, bereksperimen dan memperoleh kesuksesan dalam melakukan pekerjaannya, termasuk didalamnya mereka juga harus diberi kebebasan akan kemungkinan terjadinya kegagalan.
9. Membangun prototipe
Anda harus berani mencobakan suatu ide baru yang biaya dan resikonya relatif rendah ke dalam pasar (dunia nyata), kemudian lihat apa reaksi dari pelanggan dan orang-orang. Di sana sesungguhnya Anda akan lebih banyak belajar tentang dunia nyata, dibandingkan jika Anda hanya melakukan uji coba dalam laboratorium atau terfokus pada sekelompok orang saja.
10. Bersemangat
Anda harus fokus terhadap segala sesuatu yang ingin dirubah. Siap dan senantiasa bergairah dan bersemangat dalam menghadapi dan menanggulangi berbagai tantangan. Energi dan semangat yang Anda miliki akan menular dan mengilhami setiap orang. Tak ada gunanya jika Anda mengisi bus dengan penumpang yang selalu merasa asyik dengan dirinya sendiri. Anda membutuhkan dan menghendaki orang-orang dan para pendukung Anda dengan semangat yang berkobar-kobar. Anda mengharapkan setiap orang dapat meyakini bahwa upaya mencapai tujuan merupakan sesuatu yang amat penting dan bermanfaat.
Jika Anda menghendaki setiap orang dapat terinpirasi untuk menjadi inovatif, merubah cara-cara yang biasa mereka lakukan, dan untuk mencapai hasil yang luar biasa, maka Anda mutlak harus memiliki semangat yang menyala-nyala tentang apa yang Anda yakini dan Anda harus dapat mengkomunikasikannya setiap saat ketika Anda berbicara dengan orang.
*)) terjemahan bebas dari tulisan Paul Sloane, pengarang The Innovative Leader, yang berjudul “Ten Ways to Boost Innovation” dipublikasikan oleh Kogan Page. http://www.director.co.uk

Filsafat Pendidikan

PENGERTIAN FILSAFAT

Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan

Ciri-ciri berfikir filosfi :

  1. Berfikir dengan menggunakan disiplin berpikir yang tinggi.
  2. Berfikir secara sistematis.
  3. Menyusun suatu skema konsepsi, dan
  4. Menyeluruh.

Empat persoalan yang ingin dipecahkan oleh filsafat ialah :

  1. Apakah sebenarnya hakikat hidup itu? Pertanyaan ini dipelajari oleh Metafisika
  2. Apakah yang dapat saya ketahui? Permasalahan ini dikupas oleh Epistemologi.
  3. Apakah manusia itu? Masalah ini dibahas olen Atropologi Filsafat.

Beberapa ajaran filsafat yang telah mengisi dan tersimpan dalam khasanah ilmu adalah:

  1. Materialisme, yang berpendapat bahwa kenyatan yang sebenarnya adalah alam semesta badaniah. Aliran ini tidak mengakui adanya kenyataan spiritual. Aliran materialisme memiliki dua variasi yaitu materialisme dialektik dan materialisme humanistis.
  2. Idealisme yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau intelegesi. Variasi aliran ini adalah idealisme subjektif dan idealisme objektif.
  3. Realisme. Aliran ini berpendapat bahwa dunia batin/rohani dan dunia materi murupakan hakitat yang asli dan abadi.
  4. Pragmatisme merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak bersikap mutlak (absolut) tidak doktriner tetapi relatif tergantung kepada kemampuan minusia.

Manfaat filsafat dalam kehidupan adalah :

  1. Sebagai dasar dalam bertindak.
  2. Sebagai dasar dalam mengambil keputusan.
  3. Untuk mengurangi salah paham dan konflik.
  4. Untuk bersiap siaga menghadapi situasi dunia yang selalu berubah.

FILSAFAT PENDIDIKAN

Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.

Beberapa aliran filsafat pendidikan;

  1. Filsafat pendidikan progresivisme. yang didukung oleh filsafat pragmatisme.
  2. Filsafat pendidikan esensialisme. yang didukung oleh idealisme dan realisme; dan
  3. Filsafat pendidikan perenialisme yang didukung oleh idealisme.

Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks.  Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

ESENSIALISME DAN PERENIALISME
Esensialisme berpendapat bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela yang mengatur dunia beserta isinya dengan tiada cela pula. Esensialisme didukung oleh idealisme modern yang mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam semesta tempat manusia berada.

Esensialisme juga didukung oleh idealisme subjektif yang berpendapat hahwa alam semesta itu pada hakikatnya adalah jiwa/spirit dan segala sesuatu yang ada ini nyata ada dalam arti spiritual. Realisme berpendapat bahwa kualitas nilai tergantung pada apa dan bagaimana keadaannya, apabila dihayati oleh subjek tertentu, dan selanjutnya tergantung pula pada subjek tersebut.

Menurut idealisme, nilai akan menjadi kenyataan (ada) atau disadari oleh setiap orang apabila orang yang bersangkutan berusaha untuk mengetahui atau menyesuaikan diri dengan sesuatu yang menunjukkan nilai kepadanya dan orang itu mempunyai pengalaman emosional yang berupa pemahaman dan perasaan senang tak senang mengenai nilai tersehut. Menunut realisme, pengetahuan terbentuk berkat bersatunya stimulus dan tanggapan tententu menjadi satu kesatuan. Sedangkan menurut idealisme, pengetahuan timbul karena adanya hubungan antara dunia kecil dengan dunia besar. Esensialisme berpendapat bahwa pendidikan haruslah bertumpu pada nilai- nilai yang telah teruji keteguhan-ketangguhan, dan kekuatannya sepanjang masa.

Perenialisme berpendirian bahwa untuk mengembalikan keadaan kacau balau seperti sekarang ini, jalan yang harus ditempuh adalah kembali kepada prinsip-prinsip umum yang telah teruji. Menurut. perenialisme, kenyataan yang kita hadapi adalah dunia dengan segala isinya. Perenialisme berpandangan hahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sesuatu dinilai indah haruslah dapat dipandang baik.

Beberapa pandangan tokoh perenialisme terhadap pendidikan:

  1. Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal (Plato)
  2. Perkemhangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya ( Aristoteles)
  3. Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. (Thomas Aquinas)

Adapun norma fundamental pendidikan menurut  J. Maritain adalah cinta kebenaran, cinta kebaikan dan keadilan, kesederhanaan dan sifat terbuka terhadap eksistensi serta cinta kerjasama.

Pengertian Filsafat
Secara terminologis filsafat adalah suatu pemikiran yang rasional dalam usaha mendapatkan suatu gambaran yang menyeluruh dalam upaya untuk mendapatkan suatu kebenaran.
Obyek Filsafat
1.Obyek Material
Kajian filsafat yang “ada”, kongkrit-abstrak, maujud-tidak maujud, materil immaterial, phisik-non phisik
2.Obyek formal
Sudut pandang filsafat dalam mengkaji obyek immaterialnya, yaitu:
Sudut Antologi
Merupakan hakekat segala sesuatu membicarakan subtansi, esensi dan realita yang tertuang dalam beberapa aliran yaitu aliran idealisme (bahwa kenyataan adalah ide, segala sesuatu berasal dari ide), materialisme (bahwa kenyataan adalah materi, materialisme merupakan bentuk natural), dan pluralisme (bahwa kenyataan itu banyak, tetapi mempunyai hubungan satu sama lain) Sunoto(2000:22-23).
Selain itu ontology juga membahas tentang masalah “kebendaan” sesuatu yang dapat dilihat dan dibedakan secara empiris (kasat mata) , misalnya tentang keberadaan alam semesta, makhluk hidup,atau tata surya.
.(http://id.wikipedia.org/wiki/filsafat)
Sudut Epistemologi
Menurut Popper epistemology memperjuangkan pengetahuan didasarkan oleh rasionalisme dalam arti luas yaitu belajar dari kesalahan dan terbuka untuk kerja sama mendekati kebenaran. Sehingga rasionalis yang fundamental merupakan hasil dari suatu tindakan kepercayaan pada akal sebagai basis kesatuan manusia (1989:156)
Menurut Kaelan, epistemology adalah cabang filsafat yang membahas tentang hakekat pengetahuan manusia, yaitu tentang sumber, watak, dan kebenaran pengetahuan (2002:28)
Sudut Aksiologi
Aksiologi adalah tema yang membahas tentang masalah nilai atau norma sosial yang berlaku pada kehidupan manusia.
.(http://id.wikipedia.org/wiki/filsafat)

Ciri-ciri Berfilsafat
1.kritis
mempertanyakan segala sesuatu permasalahan yang dihadapi manusia.
2.terdalam
tidak hanya sampai pada fakta-fakta yang khusus dan empiris tetapi sampai pada inti yang terdalam yaitu subtansinya bersifat universal. Kaelan(2002:13)
3.konseptual
tidak hanya pada persepsi belaka tapi sampai pada pengertian yang bersifat konseptual.
4.koheren
berfilsafat yang berusaha menyusun suatu bagan secara runtut.misalnya A B C D E F G, dst
5.rasional
sesuai dengan nalar , hubungan logis antara bagian bagan konseptual.
6.menyeluruh
pemikiran yang tidak hanya berdasarkan pada fakta yaitu tudak sampai pada kesimpulan khusus tetapi sampai pada kisimpulan yang paling umum.
7.universal
sampai pada kesimpulan yang paling umum bagi seluruh umat manusia dimanapun. Kapanpun dan dalam keadaan apapun.
8.spekulatif
pengajuan dugaan-dugaan yang masuk akal (rasional) yang melampaui batas-batas akal
9.sistematis
ada hubungan antar unsure ysng runtut tetapi rasional inlah yang dimaksud sistematis.
10.bebas
berfikir secara bebas untuk sampai pada kakekat yang terdalam dan universal.

Sifat-sifat Dasar Filsafat
1.mempunyai tingkat keumumamn yang tinggi
2.tidak faktawi
3.berkaitan dengan makna
4.berkaitan dengan nilai
5.mencengangkan
6.implikatif

Metode Filsafat
1.Metode Analisis
Menguji,menguraikan, menilai, mendiskripsikan suatu kajian dengan sangat teliti
2.Metode Sintensis
Pernyataan-pernyataan yang berserakan dijadikan satu
3.Metode Analitiko-Sistensis
Gabungan antara metode analisis dan sintesis dengan melakukan perincian terhadap istilah/pernyataan. Kemudian mengumpulkan kembali suatu islitah/ pengetahuan- pengetahuan itu untuk menyusun suatu rumusan umum.
4.metode Dialog Sokrates
dialog antara dua pendirian yang berbeda metode dasar untuk menyelidiki filsafat.

~~~ Pengertian filsafat

TIGA KATEGORI BELAJAR FILSAFAT
• HISTORIS – berdasar kurun waktu tertentu
• SISTEMATIS – spesialisasi cabang-cabang filsafat
• PRINSIP-PRINSIP FILSAFAT – pola yang Digunakan/ mengkritisi.

MENGASAH FILSAFAT
• Diskusi, Mailing List, dsb
• Studi Literatur (Topik & Tokoh)
• Hadap Masalah
• Permenungan
• Menulis
• Mengajar

ARTI SEMANTIK FILSAFAT

Filsafat (mater scientiarum) induk segala ilmu (cat. > dulu),

• Kelahiran Filsafat di Yunani Kuno (di Miletos) 6 SM Kemenangan akal atas mite Thales (Father of Philosophy): Arche Air,

Filsafat (Ina) = Falsafah (Arab) = Philosophy (Ing) = Philosophia (Latin) = Philosophie (Jerman, Belanda, Prancis) Philosophia (Yunani

• Philosophia philein (mencintai) + sophos (bijaksana), philos (teman) + sophia (kebijaksanaan)

• Pythagoras (572-497 SM) “philosophos” (lover of wisdom),

• Filosof bukan orang yang sudah mencapai & memiliki kebenaran, tetapi   selalu mengejar & mencintai kebenaran,

• Berfilsafat berarti berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh,

Filsafat merupakan ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu,

• Dengan filsafat, manusia berusaha menangkap makna, hikmah dari tiap pemikiran, realitas, dan kejadian,

Filsafat mengantarkan manusia untuk lebih jernih dan bijaksana dalam berpikir, bersikap, berkata, dan berbuat.

Terminologi filsafat

Immanual Kant:

filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu: apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika); apakah yang dapat kita kerjakan? (dijawab oleh etika);

sampai di manakah pengharapan kita? (dijawab oleh antropologi)

Filsafat adalah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami atau mendalami secara radikal dan integral serta sistematis hakikat sarwa yang ada, yaitu: hakikat tuhan, hakikat alam semesta, dan hakikat manusia, serta sikap manusia sebagai konsekuensi dari paham tersebut.

Filsafat: kegiatan/hasil pemikiran/permenungan yang menyelidiki sekaligus mendasari segala sesuatu yang berfokus pada makna di balik kenyataan/teori yang ada untuk disusun dalam sebuah sistem pengetahuan rasional….

Permenungan Kefilsafatan: percobaan utk menyusun sebuah sistem pengetahuan rasional yang memadai utk memahami dunia maupun diri sendiri.

Berpikir didefinisikan sebagai kemampuan manusia untuk mencari arti bagi realitas yang muncul di hadapan kesadarannya dalam pengalaman dan pengertian

Berfikir dalam filsafat

Rasional: tahu & paham dengan akal budi

Logis:tahu & paham dengan teknik berpikir yang telah ditetapkan dalam

aturan logika formal, yakni menyusun silogisme-silogisme dengan         tujuan mendapatkan kesimpulan yang tepat dengan menghilangkan setiap kontra diksi.

Dialektik: menetapkan tesis dan antitesis dengan tujuan mendapat sintesis

dengan mengaktifkan kontradiksi.

Intuisi: diutamakan kemampuan inventif, mendapat pengetahuan segera

tanpa terlalu mempedulikan prosedur atau langkah untuk sampai    pada kepada pengetahuan tersebut.

Taksonomi: susun klasifikasi dengan tujuan menyederhanakan kenyataan

dan gejala dalam kategori.

Simbolisme: lihat gejala sbg lambang dg tujuan mengerti apa yang dilamBangkan.

FILSAFAT BISA BERUPA…
(1)Sikap,
(2)Metode berpikir,
(3) Kel. persoalan,
(4) Kel. Teori
(5) Analisa bahasa/Istilah,
(6) Pemahaman yg menyeluruh
atau
Pandangan
Hidup


FILSAFAT-FILSAFAT KHUSUS

1. Filsafat Politik
2. Filsafat Ekonomi
3. Filsafat Kebudayaan
4. Filsafat Pendidikan
5. Filsafat Hukum
6. Filsafat Bahasa
7. Filsafat Seni
8. Filsafat Ilmu
9. …dll

OBJEK FILSAFAT

• Objek Material : Segala sesuatu yang ada

1. Tipikal / sungguh-sungguh ada

2. Dalam kemungkinan

3. Dalam pikiran/konsep

• Objek Formal : Hakikat terdalam / substansi / esensi / intisari Ketr.

O.M. = Sesuatu hal yg dijadikan sasaran pemikiran (Gegenstand), yg  diselidiki, yg dipelajari.

O.F. = Cara memandang, meninjau, seorang peneliti terhadap OM-nya  serta prinsip-prinsip yang digunakan.

OF. = Memberi keutuhan suatu ilmu Membedakannya dengan bidang ilmu  lain,

1 OM = sekian OF

CIRI-CIRI PERSOALAN FILSAFAT
• Bersifat sangat umum (tak bersangkutan dg objek2 (khusus),
• Spekulatif, tak langsung menyangkut fakta (non- faktawi),
• Bersangkutan dg nilai-nilai (kualitas abstrak yg ada pd suatu hal),
• Bersifat kritis, thd konsep dan arti2 yg biasanya diterima bgt saja oleh ilmu
• Besifat sinoptik: mencakup struktur kenyataan scr keseluruhan,
• Bersifat implikatif: jawaban suatu persoalan memunculkan persoalan baru yg saling berhubungan,
• Bersifat teoritik: lebih pada tindak reflektif, non-praktis.

CIRI-CIRI PEMIKIRAN FILSAFAT
• Bersifat radikal (sampai ke akar-akarnya, sampai pd hakikat/esensi),
• Sistematis (adanya hub. fungsional antara unsur2 utk  mencapai tujuan ttt),
• Berpikir ttg hal/proses umum, universal, ide2 besar, bukan ttg peristiwa tunggal,
• Konsisten/runtut (tak terdapat pertentangan di dalamnya) dan koheren (sesuai dg kaidah2 berpikir, logis),
• Secara bebas, tak cenderung bias prasangka, emosi. Kebebasan ini berdisiplin (berpegang pd prinsip2 pemikiran logis serta tanggung jawab pd hati nurani sendiri)
• Berusaha memperolah pandangan komprehensif/menyeluruh.
• Secara konseptual hasil generalisir (perumuman) dan abstraksi dr pengalaman ttg hal2 serta proses2 individual melampaui batas pengalaman hidup sehari2,

SIFAT  FILSAFAT

  • Punya tingkat keumuman yang tinggi
  • Tidak faktawi
  • Berkaitan dengan makna
  • Mencengangkan
  • Implikatif
  • Berkaitan dengan nilai

TUJUAN & MANFAAT FILSAFAT
• Mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, mengajukan  kritik & menilai pengetahuan ini, menemukan hakikatnya & menerbitkan serta mengatur semua itu dlm bentuk yg sistematis.
• Bukan Problem Solving, tetapi memberi kejernihan dalam berpikir tentang  sesuatu, memetakan secara komprehensif & radikal. Dengan filsafat, manusia mampu menghindar dari arogansi “akulah yang benar”, dogmatisme kepercayaan.

Melalui filsafat semua argumen diakui sama potensinya dalam meraih kebenaran.
• Para filosof tampak selalu gelisah, “semakin banyak tahu semakin merasa banyak yang belum diketahui”. Kebenaran, kebahagiaan, keadilan, keindahan, nilai-nilai itu selalu dalam proses & debatable, tak pernah finish tergenggam..! subjektif

Filsafat membicarakan fakta dengan 2 cara:

• mengajukan kritik atas makna yg dikandung fakta “sungguh finalkah kebenaran faktawi bahwa tangan itu materi padat?”

• menarik kesimpulan yg bersifat umum dari fakta “kebenaran bisa ganda: tangan materi padat sekaligus gelombang tak kasat mata”

JENIS-JENIS PERSOALAN FILSAFAT

Keberadaan (being) atau eksistensi (exixtence) cab. Metafisika Pengetahuan (knowledge) atau kebenaran (truth)cab. Epistemologi & Logika Nilai-Nilai (values)cab. Etika (kebaikan) & Estetika (keindahan)

METAFISIKA

Merupakan studi terdalam dari kenyataan/keberadaan Persoalan Ontologis

Makna dan penggolongan “ada”, “eksistensi”. Sifat dasar kenyataan persoalan Kosmologis. Asal mula, perkembangan, struktur/susunan alam

Hubungan kausalitas Permasalahan ruang dan waktu Persoalan Antropologis

• Hubungan tubuh dan jiwa

• Kesadaran, kebebasan

EPISTEMOLOGI

Pelajari asal/sumber, struktur, metode, & validitas pengetahuan

Theory of knowledge, Episteme = pengetahuan + logos = ilmu

Apa yang dapat saya ketahui?

Bagaimana manusia dapat mengetahui sesuatu?

Perbedaan pengetahuan apriori dengan aposteriori?

LOGIKA

Ilmu, kecakapan, alat untuk berpikir secara lurus

Logos = nalar, kata, teori, uraian, ilmu

OM = pemikiran

OF = kelurusan berpikir

Pengertian, putusan, penyimpulan, silogisme

Bagaimana manusia berpikir secara lurus?

Perbedaan logika material dan formal

Penerapan logika induksi dan deduksi

Macam-macam sesat pikir

ETIKA

Filsafat Moral

Ethos = watak; Mores = kebiasaaan; kesusilaan

OM = perilaku secara sadar dan bebas;

OF = baik dan buruk

Syarat baik-buruknya perilaku

Hubungan kebebasan berkehendak dengan perbuatan susila

Kesadaran moral, hati nurani

Pertimbangan moral dan pertimbangan yang bukan moral

ESTETIKA

Filsafat Keindahan

Estetika berasal dari kata Yunani aisthesis = cerapan indera

Arti keindahan Subjektivitas, objektivitas, dan ukuran keindahan

Peranan keindahan dalam kehidupan Hubungan keindahan dengan kebenaran.

ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT

1. Persoalan Keberadaan.

A. Dari segi jumlah

Monisme = satu kenyataan fundamental

Dualisme = dua substansi

Pluralisme = banyak substansi

B. Dari Segi Kualitas

spiritualisme = roh idealisme

Materialisme = materi

C. Dari Segi Proses, Kejadian/Perubahan

Mekanisme = asas-asas mekanik

Teleologi = alam diarahkan ke suatu tujuan

Vitalisme = kehidupan tidak semata-mata fisik-kimiawi

Organisisme = hidup adl struktur dinamis, sistem yg teratur

2. Persoalan Pengetahuan.

A. Sumber

Rasionalisme = akal deduksi

Empirisme = indera

Realisme = objek nyata dalam dirinya sendiri

Kritisisme = Pengamatan indera dan Pengolahan akal.

B. Hakikat

Idealisme = proses mental/psikologis subjektif

Empirisme = pengalaman

Positivisme = pengetahuan faktawi

Pragmatisme = guna pengetahuan

2. Persoalan Etika/Nilai-Nilai

Idealisme etis – ideal

Deontologisme etis – kewajiban

Etika Teleologis = tujuan

Hedonisme = kenikmatan

Utilitarisme = Kebahagiaan sebesar2nya utk man sebanyak2nya.

Hubungan filsafat dengan ilmu

  • Perbedaannya, filsafat dengan metodenya mampu mempertanyakan

keabsahan dan kebenaran ilmu, sedangkan ilmu tidak

mempertanyakan asumsi, kebenaran, metode, dan keabsahannya

sendiri.

  • Ilmu lebih bersifat ekslusif, menyelidiki bidang-bidang yang

terbatas, sedangkan filsafat lebih bersifat inklusif.

Dengan demikian filsafat berusaha mendapatkan pandangan yang

lebih komprehensif tentang fakta-fakta.

  • Ilmu dalam pendekatannya lebih bersifat analitik dan deskriptif:

menganalisis keseluruhan unsur-unsur yang mnjadi bagian

kajiannya, sedangkan filsafat lebih sintetik atau sinoptik menghadapi

objek kajiannya sebagai keseluruhan.

Filsafat berusaha mencari arti fakta-fakta. Jika ilmu condong menghilangkan faktor-faktor subjektivitas dan

menganggap sepi nilai-nilai demi menghasilkan objektivitas, maka filsafat mementingkan personalitas, nilai-nilai dan bidang pengalaman

keduanya tumbuh dari sikap refleksif, ingin tahu, dan dilandasi kecintaan pada

Kebenaran

  • Filsafat itu tidak salah satu ilmu di antara ilmu-ilmu lain. “Filsafat itu pemeriksaan

(‘survey‘) dari ilmu-ilmu, dan tujuan khusus dari filsafat itu menyelaraskan ilmu-ilmu dan melengkapinya.”

  • Filsafat mempunyai dua tugas: menekankan bahwa abstraksi-abstraksi dari ilmu-

ilmu betul-betul hanya bersifat abstraksi (maka tidak merupakan keterangan yang

menyeluruh), dan melengkapi ilmu-ilmu dengan cara ini: membandingkan hasil

ilmu-ilmu dengan pengetahuan intuitif mengenai alam raya, pengetahuan yang

lebih konkret, sambil mendukung pembentukan skema-skema berpikir yang lebih

menyeluruh.

  • Hubungan ilmu dengan filsafat bersifat interaksi. Perkembangan-perkembangan

ilmiah teoritis selalu berkaitan dengan pemikiran filsafati, dan suatu perubahan

besar dalam hasil dan metode ilmu tercermin dalam filsafat. Ilmu merupakan

masalah yang hidup bagi filsafat. Ilmu membekali filsafat dengan bahan-bahan

deskriptif dan faktual yang sangat perlu untuk membangun filsafat. Tiap filsafat

dari suatu periode condong merefleksikan pandangan ilmiah di periode itu. Ilmu

melakukan cek terhadap filsafat dengan membantu menghilangkan ide-ide yang

tidak sesuai dengan pengetahuan ilmiah. Sedangkan filsafat memberikan kritik

tentang asumsi dan postulat ilmu serta analisa kritik tentang istilah-istilah yang

dipakai

  • Filsafat dapat memperlancar integrasi antara ilmu-ilmu yang dibutuhkan.
    Searah dengan spesialisasi ilmu maka banyak ilmuwan yang hanya
    menguasai suatu wilayah sempit dan hampir tidak tahu menahu apa yang
    dikerjakan di wilayah ilmu lainnya. Filsafat bertugas untuk tetap
    memperhatikan keseluruhan dan tidak berhenti pada detil-detilnya.
    Filsafat adalah meta ilmu, refleksinya mendorong peninjauan kembali ide-
    ide dan interpretasi baik dari ilmu maupun bidang-bidang lain.
    Filsafat pada masa-masa awal kelahirannya dianggap sebagai mater
    scientiarum
    , induknya ilmu. Seiring dengan spesialisasi ilmu sampai dengan
    akhir-akhir ini, kekhususan setiap ilmu menimbulkan batas-batas yang tegas
    antara masing-masing ilmu. Tidak ada bidang pengetahuan lain yang
    menjadi penghubung ilmu-ilmu yang terpisah itu. Di sinilah filsafat
    berusaha mengatasi spesialisasi dengan mengintegrasikan masing-masing
    ilmu dan/dengan merumuskan pandangan hidup yang didasarkan atas
    pengalaman kemanusiaan yang luas.

HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN SENI
• Seni dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan manusia yang menjelajahi dan menciptakan realitas baru serta menyajikannya secara kiasan. Manusia membutuhkan seni, sebagaimana manusia membutuhkan filsafat dan ilmu,
karena melalui seni manusia dapat mengekspresikan dan menanamkan apresiasi dalam pengalamannya.
• Seni tidak bertujuan untuk mencari pengetahuan dan pemahaman sebagaimana filsafat, juga bukan seperti ilmu yang bertujuan mengadakan deskripsi, prediksi,eksperimentasi, dan kontrol, tetapi seni bertujuan untuk
mewujudkan kreativitas, kesempurnaan, bentuk, keindahan, komunikasi, dan ekspresi.
merupakan sarana manusia untuk “tahu”, dalam arti tahu tentang dirinya sendiri, sesama,alam, maupun Sang Penciptanya untuk kemudian tahu bagaimana bersikap, berbuat, dan bertanggung jawab dalam aneka macam kompleksitas kehidupannya

HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN AGAMA
• Filsafat bukan agama, meskipun banyak juga manusia dari berbagai
belahan dunia yang menjadikan filsafat (dalam arti pandangan hidup)
sebagai agama, misalnya filsafat konfusianisme.
• Tujuan agama lebih dari sekedar pengetahuan, yakni untuk mencari
keharmonisan, keselamatan, dan perdamaian. Agama yang matang
dan kokoh akan mencantumkan latar belakang filsafat dan sekaligus
menimba dan menyaring informasi dari ilmu. Ini diperlukan agama
dalam rangka memberi jawaban komprehensif, integral, dan
berwibawa (dalam arti tidak asal menjawab) terhadap berbagai
pertanyaan dan gugatan.
• Kasus-kasus yang membawa-bawa agama seperti terorisme, tentu
bisa dirunut pada latar belakang filsafat dari agama tersebut, misalnya
bagaimana pandangan agama tersebut terhadap kekerasan, keadilan,
dan kemanusiaan.
• Seperti kata Einstein, tanpa ilmu (dan filsafat), agama akan lumpuh

CIRI SAHNYA ILMU
Memiliki objek atau pokok soal, yakni sasaran dan titik pusat perhatian tertentu.
Bermetode, yakni cara atau sistem dalam ilmu untuk memperoleh kebenaran agar rasional, terarah dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah
Bersistem: mencakup seluruh objek serta aspek- aspeknya sehingga saling berkaitan satu sama lain,
Universal
: keputusan kebenarannya berorientasi sifat keumuman, bukan tunggal,
Verifikatif
: dapat dilacak kebenarannya,
Rasional/objektif
: dapat dipahami dengan akal.

• Ternyata perkembangan ilmu tidak semata-mata mengandalkan rasio atau empiris saja, tetapi merupakan suatu petualangan yang tak habis-habisnya
(an unending adventure)
, yang selalu hadir di ambang ketakpastian (uncertainty)
dan menuntut tindakan keputusan (act of judgment).

• Diperlukan penerobosan (penetration) antara kehidupan berpikir (rasio),
berbuat (pengalaman = empiri), dan intuisi (sebagai pemahaman tertinggi
terhadap
masalah itu sebagai keseluruhan), suatu interpenetrasi yang
interaktif yang melahirkan ilham untuk mewujudkan tindakan kreatif.
• Oleh karena itu, ilmu tidak semata-mata disusun secara logis rasional
(menekankan fungsi akal) atau bersifat empiris (menekankan fungsi
pengalaman/indera) atau rasionalistis kritis (dalam arti Kantian), ataupun
konstruktivistis (penekanan keseluruhan konteks, rasional maupun
empiris), tetapi merupakan sistem terbuka yang dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan kehidupan manusiawi dengan seluruh aspek pembangunan
masyarakat spiritual maupun material ataupun dalam kaitan dengan
konteks ilmu itu sendiri. Tanggung jawab etis kemudian menjadi tuntutannya (dalam hal inilah value bond-nya ilmu dalam konteks aksiologi).
• Bertitik tolak dari hal ini, filsafat ilmu bisa dirumuskan sebagai ilmu yang
berbicara tentang dinamika ilmu pengetahuan itu sendiri, dan bisa disebut
sebagai meta-science yang berarti ilmunya ilmu lainnya
• Sering disebutkan, kesepakatan antara para ilmuwan dan filsuf dengan tegas menunjuk “empiris” sebagai ciri ilmu, baik menyangkut metode, observasi, ataupun analisis yang digunakan ilmu‐ilmu sosial
maupun ilmu‐ilmu alam.

Definisi filsafat

  1. Plato (427SM – 347SM) Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli).
  2. Aristoteles (384 SM – 322SM ) Filsafat adalah ilmua pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).
  3. Marcus Tullius Cicero (106 SM – 43SM) Filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang mahaagung dan usaha-usaha untuk mencapainya.
  4. Al-Farabi (meninggal 950M) Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya
  5. Immanuel Kant (1724 -1804), : Filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu:

” apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika)

” apakah yang dapat kita kerjakan? (dijawab oleh etika)

” sampai di manakah pengharapan kita? (dijawab oleh antropologi)

Prof. Dr. Fuad Hasan, guru besar psikologi UI Filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal, artinya mulai dari radiksnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang hendak dimasalahkan. Dan dengan jalan penjajakan yang radikal itu filsafat berusaha untuk sampai kepadakesimpulan-kesimpulan yang universal.

(UU RI No 20 Tahun 2003) dari defe-nisi pendidikan tersebut, dengan jelas terungkap bahwa pendidikan indonesia adalah pendidikan yang usaha sadar dan terencana, untuk mengembangkan potensi individu demi tercapainya kesejahteraan pri-badi, masyarakat dan negara.

B. Objek filsafat ilmu
1. Objek Material Filsafat Ilmu
Objek material adalah objek yang di jadikan sasaran menyelidiki oleh suatu ilmu, atau objek yang yang di pelajari oleh ilmu itu. Objek material filsafat illmu adalah pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah di susun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga dapat di pertanggung jawabkan kebenarannya secara umum.
2. Objek Formal Filsafat Ilmu
Objek formal adalah sudut pandang dari mana sang subjek menelaah objek materialnya. Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat (esensi) ilmu pengetahuan artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan, seperti apa hakikat ilmu pengetahuan, bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah dan apa fingsi ilmu itu bagi manusia. Problem inilah yang di bicarakan dalam landasan pengembangan ilmu pengetahuan yakni landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis.

A.    LANDASAN PENDIDIKAN

1.     Landasan Filososfis

a.   Pengertian Landasan Filosofis

Landasan filosofis bersumber dari pandangan-pandanagan dalam filsafat pendidikan, meyangkut keyakianan terhadap hakekat manusia, keyakinan tentang sumber nilai, hakekat pengetahuan, dan tentang kehidupan yang lebih baik dijalankan. Aliran filsafat yang kita kenal sampai saat ini adalah Idealisme, Realisme, Perenialisme, Esensialisme, Pragmatisme dan Progresivisme dan Ekstensialisme

1.     ­Esensialisme

Esensialisme adalah mashab pendidikan yang mengutamakan pelajaran teoretik (liberal arts) atau bahan ajar esensial.

2.     Perenialisme

Perensialisme adalah aliran pendidikan yang megutamakan bahan ajaran konstan (perenial) yakni kebenaran, keindahan, cinta kepada kebaikan universal.

3.     Pragmatisme dan Progresifme

Prakmatisme adalah aliran filsafat yang memandang segala sesuatu dari nilai kegunaan praktis, di bidang pendidikan, aliran ini melahirkan progresivisme yang menentang pendidikan tradisional.

4.     Rekonstruksionisme

Rekonstruksionisme adalah mazhab filsafat pendidikan yang menempatkan sekolah/lembaga pendidikan sebagai pelopor perubahan masyarakat.

b.   Pancasila sebagai Landasan Filosofis Sistem Pendidkan Nasional

Pasal 2 UU RI No.2 Tahun 1989 menetapkan bahwa pendidikan nasional berdasarkan pancasila dan UUD 1945. sedangkan Ketetapan MPR RI No. II/MPR/1978 tentang P4 menegaskan pula bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia, dan dasar negara Indonesia.

2.     Landasan Sosiolagis

a.   Pengertian Landasan Sosiologis

Dasar sosiolagis berkenaan dengan perkembangan, kebutuhan dan karakteristik masayarakat.Sosiologi pendidikan merupakan analisi ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiolagi  pendidikan meliputi empat bidang:

1.     Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain.

2.     hubunan kemanusiaan.

3.     Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya.

4.     Sekolah dalam komunitas,yang mempelajari pola interaksi antara    sekolah dengan kelompok sosial lain di dalam komunitasnya.

b.   Masyarakat indonesia sebagai Landasan Sosiologis Sistem Pendidikan Nasional

Perkembangan masyarakat Indonesia dari masa ke masa telah mempengaruhi sistem pendidikan nasional. Hal tersebut sangatlah wajar, mengingat kebutuhan akan pendidikan semakin meningkat dan komplek. Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk menyesuaikan pendidikan dengan perkembangan masyarakat terutama dalam hal menumbuhkembangkan KeBhineka tunggal Ika-an, baik melalui kegiatan jalur sekolah (umpamanya dengan pelajaran PPKn, Sejarah Perjuangan Bangsa, dan muatan lokal), maupun jalur pendidikan luar sekolah (penataran P4, pemasyarakatan P4 nonpenataran)

3.     Landasan Kultural

a.   Pengertian Landasan Kultural

Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbal balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan/ dikembangkan dengan jalur mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi penerus dengan jalan pendidikan, baiksecara formal maupun informal.

Anggota masyarakat berusaha melakukan perubahan-perubahan yang sesuai denga perkembangan zaman sehingga terbentuklah pola tingkah laku, nlai-nilai, dan norma-norma baru sesuai dengan tuntutan masyarakat. Usaha-usaha menuju pola-pola ini disebut transformasi kebudayaan. Lembaga sosial yang lazim digunakan sebagai alat transmisi dan transformasi kebudayaan adalah lembaga pendidikan, utamanya sekolah dan keluarga

b.   Kebudayaan sebagai Landasan Sistem Pendidkan Nasional

Pelestarian dan pengembangan kekayaan yang unik di setiap daerah itu melalui upaya pendidikan sebagai wujud dari kebineka tunggal ikaan masyarakat dan bangsa Indonesia. Hal ini harsulah dilaksanakan dalam kerangka pemantapan kesatuan dan persatuan bangsa dan negara indonesia sebagai sisi ketunggal-ikaan

4.     Landasan Psikologis

a.   Pengertian Landasan Filosofis

Dasar psikologis berkaitan dengan prinsip-prinsip belajar dan perkembangan anak. Pemahaman etrhadap peserta didik, utamanya yang berkaitan dengan aspek kejiwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajian dan penemuan psikologis sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan.

Sebagai implikasinya pendidik tidak mungkin memperlakukan sama kepada setiap peserta didik, sekalipun mereka memiliki kesamaan. Penyusunan kurikulum perlu berhati-hati dalam menentukan jenjang pengalaman belajar yang akan dijadikan garis-garis besar pengajaran serta tingkat kerincian bahan belajar yang digariskan.

b.   Perkembangan Peserta Didik sebagai Landasan Psikologis

Pemahaman tumbuh kembang manusia sangat penting sebagai bekal dasar untuk memahami peserta didik dan menemukan keputusan dan atau tindakan yang tepat dalam membantu proses tumbuh kembang itu secara efektif dan efisien.

5.     Landasan Ilmiah dan Teknologis

a.   Pengertian Landasan IPTEK

Kebutuhan pendidikan yang mendesak cenderung memaksa tenaga pendidik untuk mengadopsinya teknologi dari berbagai bidang teknologi ke  dalam penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan yang berkaitan erat dengan proses penyaluran pengetahuan haruslah mendapat perhatian yang proporsional dalam bahan ajaran, dengan demikian pendidikan bukan hanya berperan dalam pewarisan IPTEK tetapi juga ikut menyiapkan manusia yang sadar IPTEK dan calon pakar IPTEK itu. Selanjutnya pendidikan akan dapat mewujudkan fungsinya dalam pelestarian dan pengembangan iptek tersebut.

b.   Perkembangan IPTEK sebagai Landasan Ilmiah

Iptek merupakan salah satu hasil pemikiran manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, yang dimualai pada permulaan kehidupan manusia. Lembaga pendidikan, utamanya pendidikan jalur sekolah harus mampu mengakomodasi dan mengantisipasi perkembangan iptek. Bahan ajar sejogjanya hasil perkembangan iptek mutahir, baik yang berkaitan dengan hasil perolehan informasi maupun cara memproleh informasi itu dan manfaatnya bagi masyarakat

B.    ASAS-ASAS POKOK PENDIDIKAN

Asas pendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Khusu s di Indonesia, terdapat beberapa asas pendidikan yang memberi arah dalam merancang dan melaksanakan pendidikan itu. Diantara  asas tersebut adalah Asas Tut Wuri Handayani, Asas Belajar Sepanjang Hayat, dan asas Kemandirian dalam belajar.

1.     Asas Tut Wuri Handayani

Sebagai asas pertama, tut wuri handayani merupakan inti dari sitem Among perguruan. Asas yang dikumandangkan oleh Ki Hajar Dwantara ini kemudian dikembangkan oleh Drs. R.M.P. Sostrokartono dengan menambahkan dua semboyan lagi, yaitu Ing Ngarso Sung Sung Tulodo dan Ing Madyo Mangun Karso.

Kini ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas yaitu:

Ø      Ing Ngarso Sung Tulodo ( jika di depan memberi contoh)

Ø      Ing Madyo Mangun Karso (jika ditengah-tengah memberi dukungan dan semangat)

Ø      Tut Wuri Handayani (jika di belakang memberi dorongan)

2.     Asas Belajar Sepanjang Hayat

Asas belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang dari sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup (life long education). Kurikulum yang dapat meracang dan diimplementasikan dengan memperhatikan dua dimensi yaitu dimensi vertikal dan horisontal.

Ø      Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi keterkaitan dan kesinambungan antar tingkatan persekolahan dan keterkaitan dengan kehidupan peserta didik di masa depan.

Ø      Dimensi horisontal dari kurikulum sekolah yaitu katerkaitan antara pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman di luar sekolah.

3.     Asas Kemandirian dalam Belajar

Dalam kegiatan belajar mengajar, sedini mungkin dikembangkan kemandirian dalam belajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selalu suiap untuk ulur tangan bila diperlukan.

Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalamperan utama sebagai fasilitator dan motifator. Salah satu pendekatan yang memberikan peluang dalam melatih kemandirian belajar peserta didik adalah sitem CBSA (Cara Belajar Siwa Aktif).

Peranan filsafat pendidikan ditinjau dari tiga lapangan filsafat, yaitu:
1. Metafisika
Metafisika merupakan bagian filsafat yang mempelajari masalah hakekat: hakekat dunia, hakekat manusia, termasuk di dalamnya hakekat anak. Metafisika secara praktis akan menjadi persoalan utama dalam pendidikan. Karena anak bergaul dengan dunia sekitarnya, maka ia memiliki dorongan yang kuat untuk memahami tentang segala sesuatu yang ada. Memahami filsafat ini diperlukan secara implisit untuk mengetahui tujuan pendidikan.Seorang guru seharusnya tidak hanya tahu tentang hakekat dunia dimana ia tinggal, tetapi harus tahu hakekat manusia, khususnya hakekat anak. Hakekat manusia:
Manusia adalahü makhluk jasmani rohani, Manusia adalah makhluk individual sosialü, Manusia adalah makhluk yang bebas, Manusia adalah makhluk menyejarah.

Peranan filsafat pendidikan ditinjau dari tiga lapangan filsafat, yaitu:
1. Metafisika
Metafisika merupakan bagian filsafat yang mempelajari masalah hakekat: hakekat dunia, hakekat manusia, termasuk di dalamnya hakekat anak. Metafisika secara praktis akan menjadi persoalan utama dalam pendidikan. Karena anak bergaul dengan dunia sekitarnya, maka ia memiliki dorongan yang kuat untuk memahami tentang segala sesuatu yang ada. Memahami filsafat ini diperlukan secara implisit untuk mengetahui tujuan pendidikan.Seorang guru seharusnya tidak hanya tahu tentang hakekat dunia dimana ia tinggal, tetapi harus tahu hakekat manusia, khususnya hakekat anak. Hakekat manusia:
Manusia adalahü makhluk jasmani rohani, Manusia adalah makhluk individual sosialü, Manusia adalah makhluk yang bebas, Manusia adalah makhluk menyejarah.

2. Epistemologi
Kumpulan pertanyaan berikut yang berhubungan dengan para guru adalah epistemologi. Pengetahuan apa yang benar? Bagaimana mengetahui itu berlangsung? Bagaimana kita mengetahui bahwa kita mengetahui? Bagaimana kita memutuskan antara dua pandangan pengetahuan yang berlawanan? Apakah kebenaran itu konstan, ataukah kebenaran itu berubah dari situasi satu kesituasi lainnya? Dasn akhirnya pengetahuan apakah yang paling berharga?
Bagaimana menjawab pertanyaan epistemologis tersebut, itu akan memiliki implikasi signifikan untuk pendekatan kurikulum dan pengajaran. Pertama guru harus menentukan apa yang benar mengenai muatan yang diajarkan, kemudian guru harus menentukan alat yang paling tepat untuk membawa muatan ini bagi siswa. Meskipun ada banyak cara mengetahui, setidaknya ada lima cara mengetahui sesuai dengan minat / kepentingan masing-masing guru, yaitu mengetahui berdasarkan otoritas, wahyu tuhan, empirisme, nalar, dan intuisi.
Guru tidak hanya mengetahui bagaimana siswa memperoleh pengetahuan, melainkan juga bagaimana siswa belajar. Dengan demikian epistemologi memberikan sumbangan bagi teori pendidikan dalam menentukan kurikulum. Pengetahuan apa yang harus diberikan kepada anak dan bagaimana cara untuk memperoleh pengetahuan tersebut, begitu juga bagaimana cara menyampaikan pengetahuan tersebut.

3. Aksiologi
Cabang filsafat yang membahas nilai baik dan nilai buruk, indah dan tidak indah, erat kaitannya dengan pendidikan, karena dunia nilai akan selalu dipertimbangkan atau akan menjadi dasar pertimbangan dalam menentukan tujuan pendidikan. Langsung atau tidak langsung, nilai akan menentukan perbuatan pendidikan. Nilai merupakan hubungan sosial.
Pertanyaan-pertanyaan aksiologis yang harus dijawab guru adalah: Nilai-nilai apa yang dikenalkan guru kepada siswa untuk diadopsi? Nilai-nilai apa yang mengangkat manusia pada ekspresi kemanusiaan yang tertinggi? Nilai-nilai apa yang bener-benar dipegang orang yang benar-benar terdidik?
Pada intinya aksiologi menyoroti fakta bahwa guru memiliki suatu minat tidak hanya pada kuantitas pengetahuan yang diperoleh siswa melainkan juga dalam kualitas kehidupan yang dimungkinkan karena pengetahuan. Pengetahuan yang luas tidak dapat memberi keuntungan pada individu jika ia tidak

ARTI DAN MANFAAT OLAH RAGA

Arti Pendidikan Jasmani :
Pendidikan jasmani terdiri dari kata pendidikan dan jasmani, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tatalaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan sesorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan (KBBI, 1989), jasmani adalah tubuh atau badan (fisik). Namun yang dimaksud jasmani di sini bukan hanya badan saja tetapi keseluruhan (manusia seutuhnya), karena antara jasmani dan rohani tidak dapat dipisah-pisahkan. Jasmani dan rohanai merupakan satu kesatuan yang utuh yang selalu berhubungan dan selalu saling berpengaruah.

Pengertian Pendidikan Jasmani
Pendidikan Jasamani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai perseorangan maupun angota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani dalam rangka memperoleh peningkatan kemampuan dan ketrampilan jasmani, pertumbuhan kecerdasan dan pembentukan watak.
Pengertian Olahraga
Pengertian olahraga adalah suatu bentuk kegiatan jasmani yang terdapat di dalam permainan, perlombaan dan kegiatan intensif dalam rangka memperoleh relevansi kemenangan dan prestasi optimal.

Pengertian Olahraga (Menpora Maladi)
Olahraga mencakup segala kegiatan manusia yang ditujukan untuk melaksanakan misi hidupnya dan cita-cita hidupnya, cita-cita nasional politik, sosial, ekonomi, kultural dan sebagainya.
Olaharaga rekreasi adalah jenis kegiatan olahraga yang dilakukan pada waktu senggang atau waktu-waktu luang.

Sumber : Aip Syarifuddin, Belajar Aktif Pendidikan Jasmani dan Kesehatan SMP, Jakarta, Grasindo. 1990

manfaat olah raga

Dalam kehidupan modern saat ini banyak orang yang melupakan pentingnya olahraga untuk tubuh. Padahal olahraga merupakan cara untuk sehat yang paling murah dengan hasil yang mengagumkan untuk kebugaran badan. Selain itu olahraga dapat dilaksanakan kapanpun dan dimanapun kita suka melakukannya baik siang maupun malam sesuai keinginan.

Berikut adalah beberapa manfaat olahraga untuk tubuh kita menurut Asosiasi Kebugaran di Inggris :

  • Meningkatkan kisaran gerak
  • Meningkatkan stamina
  • Melepaskan kecemasan
  • Meredakan kinerja seksual
  • Meredakan gejala menopause
  • Membantu mencegah penyakit jantung
  • Mencegah osteoporosis
  • Memperbaiki ketajaman mental
  • Memperbaiki konsentrasi
  • Mengurangi resiko kanker payudara
  • Memperbaiki pandangan hidup
  • Mengurangi nyeri radang sendi
  • Mengendalikan kolesterol
  • Membakar lemak
  • Mempercepat metabolisme
  • Menghilangkan gejala pra-menstruasi
  • Membantu kita berhenti merokok
  • Meredakan depresi
  • Mengurangi biaya hidup
  • Meningkatkan kepuasan kerja
  • Mengawetkan otot
  • Mengawetkan organ-organ internal (hati, ginjal)
  • Memperbaiki waktu reaksi
  • Memperbaiki kebugaran kardiovaskuler
  • Meningkatkan energi
  • Memperbaiki koordinasi saraf dan otot
  • Meningkatkan kemampuan tubuh untuk memerangi infeksi
  • Mengurangi resiko glaukoma
  • Mengurangi resiko kanker usus besar
  • Menurunkan tekanan darah
  • Mengurangi resiko kegemukan
  • Membakar kalori
  • Memperbaiki sembelit
  • Mencegah endometriosis
  • Mengurangi konsumsi alkohol
  • Mengurangi stres
  • Meningkatkan harga diri
  • Meningkatkan perasaan sejahtera
  • Meningkatkan IQ
  • Meningkatkan kreativitas
  • Mengurangi absensi kerja
  • Meningkatkan produktivitas
  • Memperbaiki kelenturan
  • Memperbaiki peredaran darah
  • Meningkatkan mobilitas
  • Meningkatkan ingatan/mengurangi resiko pikun
  • Memperpendek waktu pemulihan sesudah sakit atau cedera
  • Meningkatkan kesehatan punggung
  • Tidur nyenyak
  • Memperpanjang hidup

Agar kita bugar dan “berisi” serta menjamin kecepatan metabolisme tidak turun dan peredaran darah tidak melambat disarankan melakukan olahraga 30 menit sehari. Olahraga yang reguler dan dilakukan lebih sering akan lebih baik daripada olahraga selama 3 jam namun 2 minggu sekali atau lebih. Olahraga yang jarang ini membuat kita cepat lelah. selain itu manfaat diatas tidak akan kita dapatkan apabila olahraga jarang kita lakukan. Untuk itu mulailah olahraga kecil-kecilan agar kita terbiasa untuk berolahraga…

Contoh Proposal PTK

PROPOSAL PTK

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERMAIN PERAN “MAKAN DAN DIMAKAN” DALAM MENINGKATKAN KUALITAS HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV SDN MLATEN 1 PADA MATERI

RANTAI MAKANAN MATA PELAJARAN SAINS

(Disusun Untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian)

Disusun Oleh :

Nurul Ayni (071644249)

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

2009

A. Judul

Penerapan Model Pembelajaran Bermain Peran Makan Dan Dimakan Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SDN Mlaten 1 Dalam Materi Rantai Makanan Mata Pelajaran SAINS

B. Mata Pelajaran Dan Bidang Kajian

Model pembelajaran siswa di sekolah

C. Pendahuluan

Dalam sebuah ruang kelas, siswa terlihat ada yang terlalu semangat dalam kegiatan pembelajaran, ada yang biasa-biasa saja terhadap kegiatan pembelajaran, dan ada pula yang sama sekali tidak menghiraukan akan kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Sedangkan harapan seorang guru adalah agar di dalam kelas  benar-benar hidup dan semua siswa termotivasi terhadap pelajaran

Di dalam mata pelajaran SAINS, pengetahuan tidak hanya teori saja, tetapi dalam kehidupan realita sangat terbukti kebenarannya. Jika siswa belajar hanya dari teori saja, tanpa ada tindakan langsung atau praktek, maka pengetahuan siswa hanya pengetahuan sesaat saja dan tidak tahan lama. Karena dominan dari siswa belajar untuk menghafal teori. Oleh karena itu penerapan dalam siswa sangat dibutuhkan sekali.

Kemampuan dalam memahami BAB: Daur Kehidupan,  materi :   Rantai Makanan yang dimiliki oleh setiap siswa bervariasi, ini ditentukan oleh latihan dan respon siswa. Berdasarkan hasil observasi, diketahui bahwa siswa kelas IV SDN MLATEN II masih perlu dilatih kemampuannya dalam memotivasi pemahaman pada pelajaran SAINS materi Rantai Makanan.

Siswa didalam pelajaran jika hanya teori saja  yang berikan, maka siswa akan merasa bosan dan sulit memahami. Permainan makan dan dimakan merupakan pemecahan masalah dalam memotivasi siswa untuk mengukur kemampuan pemahaman siswa.

D. Rumusan Masalah

¨  Apakah model permainan anak dapat meningkatkan pemahaman anak terhadap materi rantai makanan pada mata pelajaran SAINS?

¨  Apakah siswa  dapat menerima model permainan dalam materi rantai makanan pada mata pelajaran SAINS?

¨  Apakah dengan model permainan anak dapat meningkatkan motivasi siswa SDN MLATEN II terhadap materi rantai makanan?

E. Tujuan

¨  Untuk mengetahui model permainan anak dapat meningkatkan pemahaman anak terhadap materi rantai makanan pada mata pelajaran SAINS?

¨  Untuk mengetahui siswa  dapat menerima model permainan dalam materi rantai makanan pada mata pelajaran SAINS?

¨  Untuk mengetahui dengan model permainan anak dapat meningkatkan motivasi siswa SDN MLATEN II terhadap materi rantai makanan?

F. Manfaat

¨  Bagi guru, dengan model permainan anak makan dan dimakan pada materi rantai makanan, dapat mempermudah guru dalam menyampaikan materi. Karena guru tidak bersusah payah dalam memusatkan konsentrasi siswa pada materi jika anak-anak terlalu agresif

¨  Bagi siswa,

  • Dengan model permainan anak makan dan dimakan, maka dapat meningkatkan motivasi anak dalam pembelajaran rantai makanan mata pelajaran sains
  • Dengan menggunakan model permainan anak makan dan dimakan, maka dapat meningkatkan prestasi anak. Karena anak bisa langsung memahami dan mempraktekkan materi rantai makanan

¨  Bagi sekolah, dengan menggunakan model permainan anak makan dan dimakan, dapat meningkatkan prestasi akademik siswa sehingga sekolah menjadi suatu sekola yang berkualitas karena kemampuan siswa dalam memahami suatu mata pelajaran.

G. Kajian Pustaka

Kedisiplinan Belajar dapat ditanamkan kepada siswa-siswi melalui beberapa model pembelajaran di kelas. Pilihan metode atau model pembelajaran merupakan bagian yang penting dan membutuhkan kejelian serta inovasi guru dalam proses transformasi ilmu pengetahuan atau nilai-nilai. Kita menyadari bahwa pada dasarnya manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya, baik pendidikan formal maupun pendidikan non-formal, agar dengan pendidikan potensi dirinya dapat berkembang melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan dilakukan oleh masyarakat. Lahirnya generasi baru yang cerdas dan handal adalah suatu keharusan bagi suatu bangsa, para pendidk (guru) serta orang tua. Seperti yang tercermin dalam nilai-nilai mata pelajaran Pkn, bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh generasi muda yang cerdas. Cerdas disini bukan hanya IQ (Intellegences Quontien/potensi intelektual) saja yang selama ini telah membudaya di masyarakat. Juga, cerdas dalam EQ (Emotional Quontien) dan SQ (Spiritual Quontien). Dengan mendidik dan mencerdaskannya secara baik, berarti kita telah memberikan warisan yang terbaik bagi mereka.

Model bermain peran adalah salah satu proses belajar mengajar yang tergolong dalam metode simulasi. Menurut Dawson (1962) yang dikutip oleh Moedjiono & Dimyati (1992:80) mengemukakan bahwa simulasi merupakan suatu istilah umum berhubungan dengan menyusun dan mengoperasikan suatu model yang mereplikasi proses-proses perilaku. Sedangkan menurut Ali (1996:83) mengemukakan bahwa metode simulasi adalah suatu cara pengajaran dengan melakukan proses tingkah laku secara tiruan.

Metode pengajaran simulasi terbagi menjadi 3 kelompok seperti yang dikemukakan oleh Ali (1996:83) berikut ini ; (1) Sosiodrama : semacam drama sosial berguna untuk menanamkan kemampuan menganalisa situasi sosial tertentu, (2) Psikodrama : hampir mirip dengan sosiodrama . Perbedaan terletak pada penekannya. Sosia drama menekankan kepada permasalahan sosial, sedangkan psikodrama menekankan pada pengaruh psikologisnya dan (3) Role-Playing : role playing atau bermain peran bertujuan menggambarkan suatu peristiwa masa lampau.

Sedangkan Moedjiono & Dimyati (1992:80) juga membagi metode pengajaran simulasi menjadi 3 kelompok seperti berikut ini :(1) Permainan simulasi (simulation games) yakni suatu permainan di mana para pemainnya berperan sebagai tempat pembuat keputusan, bertindak seperti jika mereka benar-benar terlibat dalam suatu situasi yang sebenarnya, dan / atau berkompetisi untuk mencapai tujuan tertentu sesuai dengan peran yang ditentukan untuk mereka, (2) Bermain peran (role playing) yakni memainkan peranan dari peran-peran yang sudah pasti berdasarkan kejadian terdahulu, yang dimaksudkan untuk menciptakan kembali situasi sejarah/peristiwa masa lalu, menciptakan kemungkinan-kemungkinan kejadian masa yang akan datang, menciptakan peristiwa mutakhir yang dapat diperkaya atau mengkhayal situasi pada suatu tempat dan atau waktu tertentu, dan (3) Sosiodrama (sociodrama) yakni suatu pembuatan pemecahan masalah kelompok yang dipusatkan pada suatu masalah yang berhubungan dengan relasi kemanusiaan. Sosiodrama memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan alternatif pemecahan masalah yang timbul dan menjadi perhatian kelompok.

Berdasarkan kutipan tersebut, berarti model bermain peran adalah model pembelajaran yang di dalamnya menampakkan adanya perilaku pura-pura dari siswa yang terlihat dan atau peniruan situasi dari tokoh-tokoh sejarah sedemikian rupa. Dengan demikian model bermain peran adalah model yang melibatkan siswa untuk pura-pura memainkan peran/ tokoh yang terlibat dalam proses sejarah.

H. METODOLOGI PENELITIAN

¨  Rencana Dan Prosedur

1. Setting Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas VI SD Negeri mlaten 1 sebagai sekolah mitra, dengan jumlah siswa sebanyak 24 orang yang terdiri dari 12 orang siswa pria dan 12 orang siswa wanita. Pelaksanaan penelitian direncanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2009-2010 selama 8 bulan.

2. Faktor yang Diselidiki

Untuk menjawab permasalahan di atas, ada beberapa faktor yang ingin diselidiki, yaitu:

1.  Faktor siswa: yaitu dengan melihat apakah tingkat hasil belajar siswa pada pokok bahasan materi rantai makanan berada dalam kategori rendah, sedang atau tinggi ?

2.  Faktor guru: yaitu dengan memperhatikan bagaimana persiapan materi dan kesesuaian model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran di kelas.

3.  Faktor sumber pelajaran: yaitu dengan memperhatikan sumber pelajaran yang digunakan apakah sudah sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, demikian pula latihan-latihan yang diberikan, apakah sudah berjenjang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa serta dengan tujuan yang akan dicapai.

3. Rencana Penelitian Tindakan Kelas

Pelaksanaan penelitian ini direncanakan dalam tiga siklus tindakan. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai, seperti apa yang telah didesain dalam faktor yang diselidiki. Bila target ketuntasan belajar klasikal, yaitu minimal 80 % siswa tidak mencapai nilai paling rendah 6,5, maka dilaksanakan siklus tambahan. Adapun skema alur tindakan yang dalam penelitian ini disajikan pada Gambar 1 berikut.

Gambar 1 Alur dalam penelitian tindakan kelas (PTK)

4. Prosedur Penelitian

Metode penelitian yang digunakan menggunakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research), bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah melalui penerapan langsung di kelas atau tempat kerja (Isaac, 1994:27). Sedangkan menurut Prof. Suhardjono (2006:56) mengatakan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan bagian dari penelitian tindakan yang dapat dipandang sebagai tindak lanjut dari penelitian deskriftif maupun eksperimen. Pada penelitian tindakan kelas bukan lagi mengetes sebuah perlakuan tetapi sudah mempunyai keyakinan akan ampuhnya sesuatu perlakuan.

prosedur

Dalam penelitian ini, peneliti terlebih dahulu melaksanakan tes awal berupa tes diagnostik untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum diberikan tindakan di samping observasi. Observasi awal dilakukan untuk dapat mengetahui ketetapan tindakan yang akan diberikan dalam rangka meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan lembar kegiatan siswa.

Dari hasil evaluasi dan observasi awal, maka dalam refleksi ditetapkan tindakan yang digunakan untuk meningkatkan hasil belajar SAINS siswa, yaitu melalui pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran bermain peran.

Dengan berpatokan pada refleksi awal tersebut, maka dilaksanakanlah penelitian tindakan kelas ini dengan prosedur sebagai berikut:

a. Perencanaan

Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini meliputi:

1.  Membuat skenario pelaksanaan tindakan.

2.  Membuat lembar observasi: untuk melihat bagaimana suasana belajar mengajar di kelas ketika model bermain peran dilaksanakan.

3.  Membuat kuesioner: untuk mengumpulkan data tentang tanggapan siswa mengenai pelaksanaan model bermain peran dalam pembelajaran.

4.  Membuat alat bantu mengajar yang diperlukan dalam rangka membantu siswa memahami konsep-konsep SAINS dengan baik.

5.  Mendesain alat evaluasi untuk melihat apakah materi rantai makanan telah dikuasai oleh siswa.

b. Pelaksanaan tindakan

Tindakan yang telah dirancang dilaksanakan oleh satu orang guru kelas IV SD Negeri Mlaten 1. Pembelajaran yang dilakukan guru dengan menggunakan model pembelajaran bermain peran sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dibuat.

c. Observasi

Observasi dilaksanakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat. Proses observasi dilakukan oleh dua orang dari tim peneliti untuk mengamati guru dalam kelas selama melaksanakan tindakan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran bermain peran. Pengamatan juga dilakukan terhadap prilaku dan aktifitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung dan dampak yang ditimbulkan dari prilaku guru terhadap siswa selama proses pembelajaran.

d. Evaluasi

Evaluasi dilaksanakan pada setiap akhir siklus pelaksanaan tindakan. Evaluasi tersebut ditujukan untuk mengetahui ada atau tidak adanya peningkatan hasil belajar matematika siswa pada pokok bahasan yang diajarkan. Alat evaluasi yang digunakan adalah tes hasil belajar yang disusun peneliti. Bilamana secara klasikal minimal 80 % siswa telah mencapai nilai paling rendah 6,5, maka tindakan dianggap telah berhasil dilaksanakan.

e. Refleksi

Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi dianalisis. Kelemahan-kelemahan atau kekurangan-kekurangan yang terjadi pada setiap siklus akan diperbaiki pada siklus berikutnya.

Proses penelitian tindakan merupakan kerja berulang atau (siklus), sehingga diperoleh pembelajaran dapat membantu siswa dalam menyelesaikan soal tentang rantai makanan. Penelitian ini dilaksanakan dengan 2 siklus. Pada setiap siklus terdapat rencana . tindakan, observasi dan refleksi. Alur penelitian dapat dilihat di bawah ini :

Siklus 1 :

¨  Perencanaan:
Pada tahap ini Langkah-langkah yang digunakan adalah :

  1. Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar untuk mata pelajaran SAINS Kelas IV, dan mengembangkan skenario pembelajaran.
  2. Menentukan pokok bahasan rantai makanan yang akan diajarkan pada setiap tindakan
  3. Menyusun Lembar kerja siswa
  4. Menyiapkan alat/media yang diperlukan
  5. Menyusun format format penilaian
  6. Mengadakan tes awal untuk menetukan kelompok
  7. Membagi kelompok dan menjelaskan maksud pembagian kelompok dan rencana pembelajaran yang akan dilakukan

¨  Tindakan

Melaksanakan tindakan sesuai dengan skenario yang telah direncanakan, yaitu ;

  1. mengamati aneka ragam hewan
  2. memilih hewan yang akan diperankan
  3. menggunakan alat yang digunakan sebagai ciri dari hewan yang dimaksud
  4. memilih kelompok sebagai satu kesatuan tim
  5. membaca materi rantai makanan dari buku ajar
  6. memberi nama hewan kepada siswa yang bermain peran
  7. membuat skenario bermain makan dan dimakan yang tak lepas dari materi rantai makanan
  8. melakukan kegiatan permainan sesuai dengan skenario

Latihan.

¨  Pengamatan

Pada tahap ini guru mengamati proses kegiatan yang sedang berlangsung, diantaranya :

  1. Mengamati interaksi belajar yang sedang berlangsung (aktifitas, kreatifitas) untuk siswa bermain peran
  2. Menilai lembar kerja yang dikerjakan

¨  Reflesksi
Pada tahap ini dilakukan untuk mengevalusi seluruh tindakan yang dilakukan berdasarkan hasil pengamatan :

  1. Apakah materi yang telah diperagakan dapat dengan jelas diterima oleh siswa?

Indikator yang dapat dilakukan adalah melihat hasil pada lembar latihan siswa. (jika hasilnya belum mencapai 75% maka akan lakukan perbaikan pada siklus kedua dengan materi yang sama, dan jika hasilnya sudah memuakan maka pada siklus kedua akan disampaikan materi kedua).

  1. Apakah terjadi interaksi belajar?

Hal ini terlihat dari respon siswa sebagi pemeran ataupun sebagai penonton, baik itu dalam bentuk tanya jawab, pengerjaan latihan.

Menyusun rencana perbaikan sesuai dengan kelemahan-kelemahan pada yang terjadi berdasarkan hasil pengamatan untuk digunakan pada siklus kedua.

Siklus 2 :

Langkah-langkah yang digunakan adalah Kelemahan-kelemahan atau kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus pertama akan diperbaiki pada siklus ini.

¨  Perencanaan

  1. Mengidentifikasi masalah pada siklus pertama dan menyusun alternatif pemecahannya.
  2. Menyiapkan media dan materi yang akan disampaikan.
  3. Menukar kelompok yang tadinya menjadi penonton, untuk menjadi pemeran

¨  Tindakan

  1. Kelompok yang mendapat giliran maju, memerankan perannya masing-masing. sementara kelompok yang tidak maju untuk berperan, diberi tugas untuk memberi masukan/komentar
  2. Guru menjelaskan materi
  3. Pada akhir satu jam pelajaran Guru melakukan tanya jawab dan menjelaskan kesimpulan dari kegiatan belajar

¨  Pengamatan
Guru mengamati proses kegiatan yang sedang berlangsung, diantaranya:

  1. Mengamati interaksi belajar yang sedang berlangsung (aktifitas, kreatifitas)
  2. Menilai lembar kerja yang dikerjakan.

¨  Reflesksi
Pada tahap ini dilakukan untuk mengevalusi seluruh tindakan yang dilakukan berdasarkan hasil pengamatan :

1 Apakah materi yang telah diperagakan dapat dengan jelas diterima oleh siswa?

Indikator yang dapat dilakukan adalah melihat hasil pada lembar latihan siswa. (jika hasilnya belum mencapai 75% maka akan lakukan perbaikan pada siklus ketiga dengan materi yang sama, dan jika hasilnya sudah memuakan maka pada siklus ketiga akan disampaikan materi ketiga)

2 Apakah terjadi interaksi belajar

Hal ini dapat dilihat dari respon siswa yang member tanggapan terhadap teman yang melakukan bermain peran.

Menyusun rencana perbaikan sesuai dengan kelemahan-kelemahan pada yang terjadi berdasarkan hasil pengamatan untuk digunakan pada siklus ketiga.

5 Data dan Cara Pengambilannya

  1. Sumber data: personil penelitian yang terdiri dari siswa dan guru.
  2. Jenis data: data kuantitatif yang diperoleh dari tes hasil belajar dan data kualitatif yang diperoleh melalui lembar observasi, kuesioner, dan jurnal.
  3. Cara pengambilan data:

¨ Data situasi pelaksanaan model pembelajaran bermain peran makan dan dimakan diambil dengan menggunakan lembar observasi.

¨ Data tanggapan siswa terhadap pelaksanaan pendekatan model pembelajaran bermain peran makan dan dimakan diambil dengan menggunakan kuesioner.

¨ Data refleksi diri serta perubahan-perubahan yang terjadi dalam kelas, diambil dengan menggunakan jurnal.

¨ Data tentang hasil belajar SAINS siswa diambil dengan menggunakan tes hasil belajar.

¨ Guru memberi nilai kepada yang memainkan peran dengan criteria penilaian:

8 – 10 =Sangat Baik ( A)
7 – 7,9 = Baik (B)
6 – 6,9 = Cukup (C)
≥ 5,9 = Kurang (K)

I. Daftar Pustaka

Depdiknas. 2004. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Cetakan Edisi Ke empat. Malang Pers

Darmansyah. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. UNP

Ivor. K.Davies. 1991. Pengelolaan Belajar. Jakarta CV Rajawali

Kardi, S. dan Nur M. 2000a . Role Playing. Surabaya : Universitas Negeri Surabaya University Press.

Tim Penulis. 1999. Suplemen GBPP Kelas VI. Jakarta. Pusat Penerbit UT

Nana Sujana. 1989. Teori-teori Belajar Untuk Pengajaran. Bandung Ekonomi UI

Wina Sanjaya. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta. Kencana

http://www.pro-ibid.com/content/view/104/1/

http://nazwadzulfa.wordpress.com/2009/10/12/kedisiplinan-dengan-role-playing-bermain-peran

materi ciri-ciri benda kelas 1 sd semester 2

Benda di sekitar kita

Di rumah kita ada bermacam benda.

Ada meja kursi vas bunga.

Benda-benda ini adalah benda mati

Ö   Benda buatan dan benda alam

Benda alam bukan buatan manusia

Laying-layang kursi buatan manusia

Air batu daun pasir kayu besi benda alam

Apalagi contoh benda buatan manusia

Apalgi contoh benda buatan alam

Apa kamu pernah membuat layang-layang

Apa kamu pernah membuat pesawat kertas

Buat tugas itu di rumah

Tunjukkan hasilnya pada gurumu

Ö   Ciri-ciri benda

Benda mempunyai cirri-ciri

Misalnya bentuk, ukuran warna

Keadan permukaan dan rasa

Benda memiliki bentuk berbeda-beda

Benda memiliki ukuran berbeda-beda

Benda memiliki warna berbeda-beda

Benda memilki keadaan permukaan berbeda-beda

Benda memiliki rasa berbeda-beda

Ö   Bentuk Benda

Uang koin berbentuk bundar

Lembaran kertas berbentuk segiempat

Kelereng berbentuk bulat

Penggaris berbentuk segitiga

Ö   Ukuran benda

Ada benda berukuran besar

Ada benda berukuran kecil

Ada benda berukuran panjang

Ada benda berukuran pendek

Ö   Warna benda

Ada benda berwarna merah

Ada benda berwarna biru

Ada benda berwarna coklat

Ada benda berwarna hijau

Ö   Keadaan permukaan benda

Ada benda yang permukaannya kasar

Ada benda yang permukaannya halus

Ö   Persamaan beberapa benda

Batu berbeda dengan kayu

Batu berasal dari gunung berapi

Kayu berasal dari tumbuhan

Warna batu berbeda dengan kayu

Batu dan kayu sama-sama benda keras

Apa warna celanamu sama

Apa warna tas sekolahmu

Apakah warnanya sama

Bagaimana bentuk buku tulismu

Bagaimana bentuk papan tulis

Apakah bentuknya sama

Apa yang sama antara kelereng dan bola

Apa yang sama antara gula pasir dan garam

Ö   Rasa beberapa benda

Makanana bermacam rasanya

Ada yang asin manis dan pedas

Ö   Bau benda

Banyak benda ada di sekitarmu

Ada yang harum

Ada yang busuk

Tips Belajar Efektif

Tips Dan Trik Cara Belajar Yang Baik Untuk Ujian / Ulangan Pelajaran Sekolah Bagi Siswa SD, SMP, SMA Serta Mahasiswa

Belajar merupakan hal yang wajib dilakukan oleh para pelajar dan mahasiswa. Belajar pada umumnya dilakukan di sekolah ketika jam pelajaran berlangsung dibimbing oleh Bapak atau Ibu Guru. Belajar yang baik juga dilakukan di rumah baik dengan maupun tanpa pr / pekerjaan rumah. Belajar yang dilakukan secara terburu-buru akibat dikejar-kejar waktu memiliki dampak yang tidak baik.

Berikut ini adalah tips dan triks yang dapat menjadi masukan berharga dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi ulangan atau ujian :

1. Belajar Kelompok
Belajar kelompok dapat menjadi kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan karena ditemani oleh teman dan berada di rumah sendiri sehingga dapat lebih santai. Namun sebaiknya tetap didampingi oleh orang dewasa seperti kakak, paman, bibi atau orang tua agar belajar tidak berubah menjadi bermain. Belajar kelompok ada baiknya mengajak teman yang pandai dan rajin belajar agar yang tidak pandai jadi ketularan pintar. Dalam belajar kelompok kegiatannya adalah membahas pelajaran yang belum dipahami oleh semua atau sebagian kelompok belajar baik yang sudah dijelaskan guru maupun belum dijelaskan guru.

2. Rajin Membuat Catatan Intisari Pelajaran
Bagian-bagian penting dari pelajaran sebaiknya dibuat catatan di kertas atau buku kecil yang dapat dibawa kemana-mana sehingga dapat dibaca di mana pun kita berada. Namun catatan tersebut jangan dijadikan media mencontek karena dapat merugikan kita sendiri.

3. Membuat Perencanaan Yang Baik
Untuk mencapai suatu tujuan biasanya diiringi oleh rencana yang baik. Oleh karena itu ada baiknya kita membuat rencana belajar dan rencana pencapaian nilai untuk mengetahui apakah kegiatan belajar yang kita lakukan telah maksimal atau perlu ditingkatkan. Sesuaikan target pencapaian dengan kemampuan yang kita miliki. Jangan menargetkan yang yang nomor satu jika saat ini kita masih di luar 10 besar di kelas. Buat rencana belajar yang diprioritaskan pada mata pelajaran yang lemah. Buatlah jadwal belajar yang baik.

4. Disiplin Dalam Belajar
Apabila kita telah membuat jadwal belajar maka harus dijalankan dengan baik. Contohnya seperti belajar tepat waktu dan serius tidak sambil main-main dengan konsentrasi penuh. Jika waktu makan, mandi, ibadah, dan sebagainya telah tiba maka jangan ditunda-tunda lagi. Lanjutkan belajar setelah melakukan kegiatan tersebut jika waktu belajar belum usai. Bermain dengan teman atau game dapat merusak konsentrasi belajar. Sebaiknya kegiatan bermain juga dijadwalkan dengan waktu yang cukup panjang namun tidak melelahkan jika dilakukan sebelum waktu belajar. Jika bermain video game sebaiknya pilih game yang mendidik dan tidak menimbulkan rasa penasaran yang tinggi ataupun rasa kekesalan yang tinggi jika kalah.

5. Menjadi Aktif Bertanya dan Ditanya
Jika ada hal yang belum jelas, maka tanyakan kepada guru, teman atau orang tua. Jika kita bertanya biasanya kita akan ingat jawabannya. Jika bertanya, bertanyalah secukupnya dan jangan bersifat menguji orang yang kita tanya. Tawarkanlah pada teman untuk bertanya kepada kita hal-hal yang belum dia pahami. Semakin banyak ditanya maka kita dapat semakin ingat dengan jawaban dan apabila kita juga tidak tahu jawaban yang benar, maka kita dapat membahasnya bersama-sama dengan teman. Selain itu

6. Belajar Dengan Serius dan Tekun
Ketika belajar di kelas dengarkan dan catat apa yang guru jelaskan. Catat yang penting karena bisa saja hal tersebut tidak ada di buku dan nanti akan keluar saat ulangan atau ujian. Ketika waktu luang baca kembali catatan yang telah dibuat tadi dan hapalkan sambil dimengerti. Jika kita sudah merasa mantap dengan suatu pelajaran maka ujilah diri sendiri dengan soal-soal. Setelah soal dikerjakan periksa jawaban dengan kunci jawaban. Pelajari kembali soal-soal yang salah dijawab.

7. Hindari Belajar Berlebihan
Jika waktu ujian atau ulangan sudah dekat biasanya kita akan panik jika belum siap. Jalan pintas yang sering dilakukan oleh pelajar yang belum siap adalah dengan belajar hingga larut malam / begadang atau membuat contekan. Sebaiknya ketika akan ujian tetap tidur tepat waktu karena jika bergadang semalaman akan membawa dampak yang buruk bagi kesehatan, terutama bagi anak-anak.

8. Jujur Dalam Mengerjakan Ulangan Dan Ujian
Hindari mencontek ketika sedang mengerjakan soal ulangan atau ujian. Mencontek dapat membuat sifat kita curang dan pembohong. Kebohongan bagaimanapun juga tidak dapat ditutup-tutupi terus-menerus dan cenderung untuk melakukan kebohongan selanjutnya untuk menutupi kebohongan selanjutnya. Anggaplah dengan nyontek pasti akan ketahuan guru dan memiliki masa depan sebagai penjahat apabila kita melakukan kecurangan.

Semoga tips cara belajar yang benar ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua, amin.

sumber: Organisasi.Org Komunitas & Perpustakaan Online Indonesia

MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF

Model-model pembelajaran inovative:

1. Model Pembelajaran Model Jigsaw (Tim ahli)
Langkah-langkah kegiatan pembelajaran:
a. Siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok dan tiap kelompok beranggotakan 4-5 anak.
b. Tiap anak dalam tim diberi bagian materi yang berbeda sesuai dengan yang ditugaskan
c. Anggota dari tim yamg berbeda yang telah mempelajari bagian atau sub bab yang sama bertemu dalam            kelompok baru (kelompok ahli) dan mendiskusikan sub bab mereka.
d. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok masing-masing dan tiap anggota lainnya mendengarkan penjelasan dari tim ahli.
e. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
f. Guru memberi evaluasi
g. Penutup

2. Model Pembelajaran Think Pair and Share
Langkah-langkah kegiatan pembelajaran:
a. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai.
b. Siswa secara perorangan diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru.
c. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebangku (1 kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran  masing-masing.
d. Masing-masing pasangan membentuk kelompok baru (tiap kelompok 4 siswa)
e. Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya.
f. Berawal dari kegiatan tersebut mengarah pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan siswa.
g. Guru memberi kesimpulan.
h. Penutup
3. Model Pembelajaran Student Teams Achievments Divisions (STAD)
Langkah-langkah pembelajaran:
a. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 siswa secara heterogen (campuran menurut prestasi)
b. Guru memberikan penjelasan tentang suatu materi
c. Guru memberikan tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok.
d. Anggota kelompok yang mengerti tentang materi menjelaskan materi kepada anggota yang lain dalam kelompok   itu sendiri sampai anggota yang lain mengerti.
e. Guru memberi kuis atau pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak ada boleh bekerja sama
f. Guru memberi evaluasi
g. Kesimpulan

4. Model Pembelajaran Number Heads Togheter (NHT)
Langkah-langkah kegiatan pembelajaran:
a. Siswa dibagi dalam kelompok, tiap siswa dalam kelompok mendapat nomor
b. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya
c. Kelompok mendiskusikan jawabannya yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya
d. Guru memenggil salah satu nomor siswa dan nomor yang dipanggil mempresentasikan hasil kerjasama mereka.
e. Kelompok yang lain memberikan tanggapan terhadap hasil presentasi siswa yang maju.
f. Guru menunjuk nomor yang lain
g. Kesimpulan

5. Model Pembelajaran Role Playing
Langkah-langkah kegiatan Pembelajaran:
a. Guru menyusun atau menyiapkan skenario pembelajaran yang akan ditampilkan
b. Guru menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario 2 hari sebelum KBM
c. Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang
d. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang akan dicapai
e. Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan.
f. Masing-masing siswa duduk di kelompoknya dan memperhatikan skenario yang sedang ditampilkan
g. Setelah selesai, masing-masing siswa diberikan selembar kertas untuk membahas apa yang sudah ditampilkan
h. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulan
i. guru memberikan kesimpulan secara umum
j. evaluasi
k. Penutup

6. Model Pembelajaran Picture and Picture
Langkah-langkah pembelajaran:
a. Guru menyampaikan kompetensi yang akan dicapai
b. Guru menyajikan materi sebagai pengantar
c. Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan yang berkaitan dengan materi
d. Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian untuk memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
e. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
f. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru mulai menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin  dicapai
g. Kesimpulan

7. Model Pembelajaran Examples non Examples
Langkah-langkah pembelajaran:
a. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran
b. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP/LCD
c. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk menganalisis gambar
d. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusin dari analisa ganbar tersebut dicatat pada kertas
e. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya
f. Berdasarkan hasil diskusi, guru mulai menjelaskan materi sesuai dengan tujuasn yang hendak dicapai
g. Kesimpulan

8. Model Pembelajaran Artikulasi
Langkah-lanmgkah pembelajaran:
a. Guru menyampaikan tujusan pembelajaran yang ingin dicapai
b. Guru menyajikan materi
c. Untuk mengetahui daya serap siswa, guru membentuk kelompok berpasangan 2 orang
d. Salah satu dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar  sambil membuat catatan kecil kemudian berganti peran. Begitu juga dengan kelompok yang lainnya
e. Seluruh siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya.
f. Guru mengulangi penjelasannya mengenai materi yang belum dimengerti siswa
g. Kesimpulan/penutup

9. Model Pembelajaran Mind Mapping
Sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban
Langkah-langkah pembelajaran:
a. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
b. Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa . Sebaiknya permasalahan yang diutarakan guru memiliki alternatif jawaban
c. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
d. Tiap kelompok mencatat alternatif jawaban hasil diskusi
e. Tiap kelompok membacakan hasi diskusinya dan guru memcatat dipapan dengan mengelompokkan sesuai dengan  kebutuhan guru
f. Dari data-data di papan siswa diminta menarik suatu kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai konsep  yang disediakan guru.

10. Model Pembelajaran Make a Match (Mencari Pasangan)
Langkah-langkah pembelajaran:
a. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review,   sebaiknya satun bagian kartu berisi soal dan bagian lainnya berisi jawaban
b. Setiap siswa mendapat satu buah kartu
c. Tiap siswa memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegangnya
d. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya
e. Setiap siswa yang dapat memcocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin
f. Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya
g. Demikian seterusnya
h. Kesimpulan/penutup

11. Model Pembelajaran Group Investigation
Langkah-langkah pembelajaran:
a. Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen
b. Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok
c. Guru memanggil ketua dari masing-masing kelompok dan membagikan materi yang berbeda tiap kelompok
d. Masing-masing kelompok membahas materi yang diberikan guru secara kooperatifberisi penemuan
e. Setelah diskusi selesai, lewat juru bicara, tiap-tiap kelompok menyampaikan hasil diskusinya
f. Guru memberikan penjelasan singkat serta menarik kesimpulan
g. Evaluasi
h. Penutup

12. Model Pembelajaran Bertukar Pasangan
Langkah-langkah pembelajaran:
a. Setiap siswa mendapat satu pasangan (guru bisa menunjukkan pasangan atau siswa menunjuk pasangannya  sendiri)
b. Guru memberikan tugas dan siswa mengerjakan tugas dengan pasangannya
c. Setelah selesai, setiap pasangan bergabung dengan pasangnan yang lain
d. Kedua pasangan tersebut saling bertukar pasangan, masing-masing pasangan baru saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban mereka
e. Temuan baru yang didapat darim pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan yang semula.

13. Model Pembelajaran Snowball Throwing
Langkah-langkah pembelajaran:
a. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan
b. Guru membentuk kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi
c. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada anggota kelompoknya
d. Masing-masing siswa siberikan selembar kertas untuk menuliskan satu pertanyaan yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan olehn ketua kelompok
e. Kemudian kertas tersebut bibuat seperti bola dan dilemparkan dari siswa sari ke siswa lain selama 15 menit.
f. Setelah siswa mendapat satu bola/satu pertanyaan, mereka diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan yangn ada paa kertas tersebut secara bergantian
g. Evaluasi
h. Penutup

14. Model Pembelajaran Inside-outside Circle
Langkah-langkah pembelajaran:
a. Separuh kelas berdiri membentuk lingkaran kecil dan menghadap keluar
b. Separuh kelas lainnya membentuk lingkaran diluar lingkaran pertama, menghadap ke dalam
c. Dua siswa yang berpasangan dari lingkaran kecil dan besar berbagi informasi. Pertukaran informasi ini bisa  dilakukan oleh semua pasangan dalam waktu yang bersamaan
d. Siswa yang berada di lingkaran kecil diam di tempat sedangkan siswa yang berada di lingkaran besar bergeser satu  atau dua langkah searah jarum jam
e. Kemudian giliran siswa yang berada di lingkaran besar yang berbagi informasi.

15. Model Pembelajaran Course Review Horary
Langakah-langkah pembelajaran:
a. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
b. Guru mendemonstrasikan/menyampaikan materi
c. Guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya
d. Untuk meguji pemahaman, siswa diminta untuk membuat kotak 9/16/25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak  diisi dengan angka sesuai ddengan selera masing-masing siswa
e. Guru membaca soal secara acak dan siswa menilis jawaban di dalam kotak yang nomornya disebutkan guru dan langsung mendiskusikannya,kalau jawaban siswa benar diisi tanda (v ) dan jika jawaban siswa salah maka diisi tanda (X)
f. Siswa yang mendapay tanda v vertikal atau horizontal, atau diagonal harus berteriak ”hore” atau yel-yel yang lainnya
g. Nilai siswa dihitung dari jumlah jawaban yang benar
h. Penutup

16. Model Pembelajaran Cooperative Integreted Reading and Compositions
(CIRC)
Langkah-langkah pembelajaran:
a. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen
b. Guru memberikan wacana atau kliping sesuai dengan topik pembelajaran
c. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap   wacana/kliping dan ditulis pada selembar kertas
d. Tiap kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompok
e. Guru bersama siswa membuat kesimpulan
f. Penutup

17. Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining
Langkah-langkah pembelajaran:
a. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
b. Guru mendemonstrasikan atau menyajikan materi
c. Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menjelaskan pada siswa lain baik melalui bagan/peta konsep atau  melalui media yang lainnya
d. Guru menyimpulkan pendapat siswa
e. Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu
f. Penutup

18. Model Pembelajaran Talking Stik

Langkah-langkah pembelajaran:
a. Guru menyiapkan sebuah tongkat
b. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca atau mempelajari materi pada buku panduan
c. Kemudian siswa diminta untuk menutup buku panduan
d. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan pada siswa  yang memegang tongkat dan siswa tersebut harus menjawabnya. Demikian seterusnya sampai semua siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru
e. Guru memberikan kesimpulan
f. Evaluasi
g. Penutup

19. Model Pembelajaran Multi Level
Langkah-langkah kegiatan pembelajaran:
a. Menentukan siswa yang berada pada level 1,2,dan 3. Misalnya dari nilai ulangan harian, atau melalui pre test
b. Membentuk kelompok, banyaknya kelompok sesuai dengan banyaknya siswa pada level 1
c. Guru memberikan materi secara keseluruhan dan memberikan soal (LKS) untuk dikerjakan secara individu
d. Sementara siswa yang lain mengerjakan soal, guru mengumpulkan siswa level 1 untuk diberikan materi secara langsung dengan membahas soal yang telah diberikan sebelumnya
e. Siswa level 1 kembali pada kelompoknya dan memberikan pembelajaran pada siswa level 2
f. Dengan dibantu siswa level 1, siswa level 2 memberikan pembelajaran pada siswa level 3 dengan membahas soal yang sama
g. Guru mementau dan mengevaluasi proses kegiatan pembelajaran dan memberikan bantuan secukupnya pada masing-masing kelompok
h. Guru memberikan penghargaan bagi kelompok atau individu yang berhasil

20. Model Pembelajaran Pesan berantai
Langkah-langkah npembelajaran:
a. Guru memberikan informasi tentang materi secara umum
b. Membentuk kelompok yang beranggotakan 5 orang
c. Setiap anggota kelompok diberikan nomor 1-5
d. Guru memberikan pesan materi kepada anggota nomor 1 secara berbisik untuk disampaikan kepada nomor 2,3,4 dan 5
e. Anggota nomor 5 menyampaikan pesan tersebut pada guru
f. Kelompok yang berhasil menyampaikan pesan dengan benar diberi point
g. Pembahasan materi oleh guru bersama siswa.
h. Kesimpulan

21. Model Pembelajaran Debat
Langkah-langkah pembelajaran:
a. Guru membagi kelas menjadi 2 kelompok yang satu pro dan yang lain kontra
b. Guru membagi tugas untuk membaca materi yang akan didebatkan oleh kedua kelompok diatas
c. Setelah selesai membaca materi, guru menunjuk salah satu anggota kelompok yang pro untuk berbicara dan ditanggapi oleh kelompok yang kontra. Demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mengemukakan pendapatnya
d. Sementara siswa menyampaikan gagasan, guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicara di papan tulis.
e. Guru menambahkann konsep/ide yang belum terungkap
f. Dari data-data yang ada di papan, guru mengajak siswa membuat kesimpulan yang mengacu pada topik yang dibahas.

22. Model Pembelajaran Problem Based Introductions (PBI)
Langkah-langkah pembelajaran:
a. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam  aktifitas pemecahan masalah yang dipilih
b. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dan lain-lain)
c. Guru mendorongn siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis dan pemecahan masalah
d. Guru membantu siswa dalam merencanakan, menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya
e. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

23. Model Pembelajaran Exsplicit Instruction
Yaitu pengajaran langsung khusus yang dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan proseduran deklaratif yang dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah.
Langkah-langkah pembelajaran:
a. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
b. Mendemonstrasikan pengetahian dan keteram pilan
c. Membimbing pelatihan
d. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
e. Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan.