Beri Aku

Karya: Nurul Ayni


“ pak kapan aku punya laptop? Teman-teman semua dikampus banyak yang sudah punya. Padahal baru saja menginjak satu bulan di kampus.”

Sudah dua kali aku minta dibelikan bapak laptop. Tapi apa daya gaji Bapak Cuma pas-pasan. Hanya cukup untuk makan sehari-hari, plus biaya kuliahku dan biaya adik sekolah. Kalau dihitung-hitung sih memang tak mungkin aku punya laptop. Setengah dari gaji Bapak untuk keperluan sehari-hari, dan setengahnya untuk biayaku dan biaya adik mengenyam pendidikan.

Di kampus juga begitu,hampir semua mahasiswa-mahasiswi menenteng tas laptop. Wah gaya, dan juga enak. Duh, kapan ya aku punya. Semua tugas, registrasi, proposal, urusan-urusan pakai ketikan. Kalau mesin ketikan sih ya punya. Tapi ya dah bukan jamannya.  Berapa biaya yang dikeluarkan kalau tak punya laptop? Nih juga masalah kuliah, tiap kali mengikuti mata kuliah, hampir semua mata kuliah ada tugas. Ya Tuhan, beri hambamu rejeki yang lebih.

Nama : Yesa nara.

Nama yang begitu apikkan? Bapak yang memberi nama. Artinya nama itu, ehm.. tidak tahu. Sekarang aku kuliah di Universitas terkemuka di Surabaya. Ya, terkemuka itu menurutku, maklum dari desa. Hehehe. Impianku saat ini adalah punya laptop. Jika aku punya laptop, pasti deh aku rajin bikin tulisan, entah itu esai, cerpen artikel, may be rajin kirim cerpen hamper kesemua majalah atau tabloid. Kan aku sosok imajiner yang lagi layu (walaupun tiap hari tak pernah segar). “ah computer saja aku tak pernah punya, apalagi laptop”. Kusibakkan angan-anganku yang terlalu mengada-ada. Ku ambil hp, selanjutnya sms-an dengan pacar.

‘sayang sudah sampe mana perjalanannya? Masih lama sampe sini?

Kira-kira tiga menit kemudian setelah sms dikirim, handpone bergetar.

‘ 5 menit lagi yang aku nyampe sayang. Sayang siap-siap aku jemput ya!’

‘ oke’ balas sms-ku.

Rambut aku sisir, wajah dibedaki, serta tangan dan kaki pakai lotion. Tak berapa lama lagi, terdengar bel sepeda motor dari arah teras  rumah. Pacarku sudah datang. Aku bergegas keluar rumah. Dia memberi tanda agar aku segera naik motornya. Aku naiki sepeda motornya, dan nggreng-nggreng-nggreng bruumm. Motor bergerak di sepanjang jalan. Sedikit lagi semakin mendekati kampus. Hari ini sepi. Anak kuliahan pada liburan musim panas. Gwaya. Bukan, bukan liburan musim panas, tapi liburan akhir tahun. Kami bedua turun dari motor dan duduk-duduk di kampus. Disini terdapat sarana gratis untuk mahasiswa. Hotspot. Ya wifi yang dikhususkan untuk mahasiswa. Untuk browsing gratis sepuasnya.

“sayang, aku pingin banget punya laptop, kok kayaknya cuma aku ya yang tak punya laptop. Pingin banget, pingin. Sampai-sampai keinginanku ini naik ke ubun-ubun.”

“enggak usah sampai segitunya kali sayang, kalau butuh laptop, jangan segan-segan pakai laptopku ini.”

Aku tersenyum.

“oh ya aku tinggal ke bengkel sebentar ya,  motorku lagi batuk-batuk,  kamu disini dulu ya, sambil internetan.”

“he’em” anggukanku

Internetan sepuasnya.. mau dong aku. Mau buka dan download gratis tanpa bayar biaya warnet. Kira-kira apa ya yang bisa bikin agar aku bisa punya laptop? Ehm, terlintas dipikiran mungkin ada lomba-lomba yang bisa diikuti. Ya, cari informasi tentang lomba-lomba. Aku ketik yang akan aku cari. Jegreeett… langsung ada banyak.  Lomba foto bayi, lomba membuat blogger, lomba menulis surat untuk presiden, dan lain-lain banyak sekali. Sampai mataku tertuju pada lomba yang sangat menarik. Lomba menulis cerpen remaja. Teliti dan sungguh-sungguh aku membacanya, Syarat-syaratnya apa saja, kategori-kategorinya, hadiah-hadiah, dan penghargaannya. Sangat menarik sekali lomba ini. Sangat cocok sekali hadiahnya untuk beli laptop. Aku mulai bermain dengan lamunan dan angan-angan. Kubayangkan tak perlu lagi capek-capek dan buang-buang duit untuk mengerjakan tugas di rental ketikan dan ngeprint tugas kuliah.

Malam hari, semangat tiada tara aku membuat cerpen, detik jam menemaniku selama seminggu untuk menyelesaikan cerita pendek. Isi cerpen itu mengenai laki-laki tak pandai yang menyerahkan tangannya untuk dipotong sebagai persembahan pengabdian kepada ibu tirinya. Cerpen itu sudah diketik dan telah jadi sebanyak 6 halaman. Dan setelah diamati kok ya tidak sesuai dengan topik lomba. Kok ya ceritanya kayak cerita-cerita dikoran-koran, bukan mengenai remaja. Untung juga belum diprint out. Untung masih dalam bentuk file.

Buat lagi deh cerpennya. Tapi aku tak tahu cerpen apa yang aku buat. Yang ada di impian hanyalah laptop. Laptop. Dan laptop. Yang ada dipikiran adalah tertarik dengan harapan bisa berhasil memperebutkan lomba cerpen ini. Dan hadiahnya digunakan untuk beli laptop.

Selama satu bulan, cerpen tidak aku urus sama sekali. Sumpek dengan hasil cerpenku yang tidak sesuai dengan topik. Baru kuingat setelah aku browsing info lomba lagi. Aku baca tanggal terakhir pengiriman. Wah kurang satu bulan lagi. Kok tidak terasa ya. Cepat sekali waktu ini.

Di rumah, ku ambil buku tulis setebal 38 lembar dan mulai ku torehkan cerpen yang kupikirkan. Ceritanya sangat membingungkan. Hingga aku tak tahu ini cerita apa. Terus saja aku karang ceritanya. Banyak basa-basi. Seperti ini contoh basa basi itu : Aku tak tahu apa yang akan diperbuat saat ini. Seperti hari ini, hujan menyisakan basah. Dia sentuh sisa basah pada hatinya juga. Katak yang tak luput dari penglihatan, balik memandangiku pula… Cerita-cerita yang pastinya ada dalam kehidupan nyata. Dan tak menyimpang dari unsur masuk akal. Apapun itu aku tumpahkan dalam cerita. Yang tidak penting pun juga tak luput dari bagian cerita. Berhari-hari aku buat cerita ini. Meskipun hasil dari karangan ini kurang meyakinkan.

Tanggal muda di bulan kesembilan adalah mendekati hari terakhir sayembara cerpen akan ditutup. Lalu pusing, pusing, pusing. Karangan dari cerita ini sangat ngebut, pikiran amburadul, tidak konsen, adwuuh. Biar tidak terlalu letih, kumenyempatkan diri belanja sebentar ke minimarket cari lip ice, sampoo dan snack. Tapi tujuan utama adalah hunting lip ice. Bibirku ingin dipoles oleh lip ice. Ternyata harganya mahal. Bagiku lip ice Rp 25.000,00 adalah mahal. Tapi niat untuk beli lip ice besarnya tak terkira. Karena kemasan dari lip ice aku butuhkan untuk melengkapi syarat lip ice.

Kulanjutkan lagi menulis karangan. Tapi sebelumnya, bibir ku poles dengan lip ice.  2 menit kemudian bibirku tampak cantik berwarna pink muda.

Pengumuman tanggal 31 oktober di website menunjukkan nama Yisa Nara sebagai juara 1 kategori C (Mahasiswa/Guru/Umum). Haru dan bahagia dimix jadi satu. Terlihat pada saat aku di panggung. Berdiri paling depan dan membawa piagam besar lomba menulis cerpen remaja. Rasa bangga menyelimuti. Ternyata tidak sia-sia cerpen karyaku. Dan juga, sepertinya harapanku untuk beli laptop akan segera terkabul. Aku takkan nmenyusahkan bapak. Uang dari hadiah lomba cerpen ini akan aku gunakan beli laptop.  Banyak sekali orang-orang tak kukenal menyalamiku. Memberi ucapan selamat. Senyumku selalu menyertai, kebahagiaan ada di hatiku. Setiap orang aku beri senyuman dengan nada senang dan ikhlas.

Dengan senang hati aku membuka mataku sedikit demi sedikit. Sisa dari bahagiaku masih terasa sekali dalam kalbu maupun sanubari. Kebahagiaan ini akan selalu aku genggam sampai kapanpun itu. Tiba-tiba aku merasakan hal yang membuat kebahagiaanku hilang. Iya, semua itu adalah mimpi. Healah.. ternyata cuma mimpi toh. Bunga tidur yang indah.

Terlihat di kalender dinding memang hari ini adalah tanggal dimana diumumkan pemenang lomba cerpen. Apakah mimpi semalam adalah pertanda keberuntungan? Amin. Amin. Amin.

Tapi Yisa Nara tidak dapat meneruskan ceritanya. Karena dia tidak tahu apa yang akan terjadi dan apakah seorang Yisa Nara dapat masuk dalam kategori pemenang. Dia sudah tidak tahu kata dan kalimat apa yang akan dia masukkan dalam menulis cerpen. Kita bisa menduga-duga, mungkin bisa saja Yisa tidak dapat apa-apa dari lomba ini.

Oke. Atas permintaan satu dari pembaca, lebih baik ceritanya dilanjutkan. Hal yang pasti adalah Yisa tidak masuk dalam kategori pemenang. Aku sangat kecewa. Kecewa sekali. Tapi tidak apa-apa, karena aku memang juga ingin sekali berpartisipasi dalam perlombaan tersebut. Tidak apa-apa aku tidak jadi pemenang.

Liburan akhir tahun telah berakhir dan waktunya tiap hari untuk belajar. Hari-hari kulewati dengan biasa saja. Tak ada yang istimewa hari ini.  Tapi ada juga yang beda. Yang sudah punya laptop makin bertambah banyak. waah, kapan giliranku tiba?

Kata Bapakku, aku akan di belikan bapak laptop kalau bapak sudah pensiun. Berarti enam tahun lagi aku baru akan punya laptop. Buat apa laptop enam tahun lagi? sekarang aku berumur 20 tahun. Enam tahu lagi ya aku sudah kawin. Jadi laptop bukan peganganku lagi. Tapi kompor, panci, spatula, dan alat dapur lainnya peganganku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s